#25

1208 Kata
Fariq memandangi wajah pulas Aca, jam sudah menunjukkan angka dua belas malam. Fariq belum juga memejamkan matanya. Setelah kakak dan mamanya pulang, tak lama Aca pun tertidur. Tinggal Fariq dengan pikirannya yang masih saja tidak mengerti mengapa Aca seolah ragu dengan pernikahan mereka yang akan segera dilangsungkan. Kembali Fariq memandangi wajah wanitanya yang selalu terlihat sedih, kadang dingin. Ia usap perlahan rambut Aca kawatir mengganggu tidur nyenyaknya. "Aku mencintaimu Ca, sangat, aku tak pernah tahu apakah kau juga mencintaiku, aku berjanji, aku akan membuat kau mencintaiku setelah kita menikah," Fariq merebahkan kepalanya di pembaringan Aca dengan posisi duduk, sedang tangan kanannya memeluk pinggang Aca, memastikan tidak mengenai perut Aca bagian kanan. **** Aca perlahan menggerakkan badannya saat dirasakannya tangan Fariq yang berat menindih pinggangnya, perlahan ia geser tangan Fariq kawatir mengenai bekas operasinya dan Aca tersenyum melihat Fariq yang tertidur di dekatnya, ia usap lengan Fariq lalu rambut legamnya. "Maafkan aku yang selalu menyiksamu, membuatmu lelah, dan entah apalagi, terlalu banyak kebaikan yang kamu berikan padaku, Riq, aku akan benar-benar belajar mencintaimu, hanya rasanya terlalu cepat jika tiga bulan lagi kita nikah, aku merasa belum siap untuk jadi istri yang baik," ucap Aca dengan suara pelan. Fariq biarkan tangan Aca masih mengusap rambutnya, ia nikmati usapan itu sejak awal, sebenarnya ia sudah bangun sejak Aca bergerak dan mulai mengusap lengannya. Namun saat jari Aca mulai mulai mengusap tengkuk dan lehernya ia merasakan debaran yang tak menentu, ia raih tangan Aca dan mulai menciuminya. "Ehg Riq, maaf, maaf aku membangunkanmu," suara Aca terdengar takut. Fariq mulai menegakkan badannya,.meraih tangan Aca lagi. "Apa lagi yang mau kamu persiapkan, aku hanya butuh kamu di sisiku, tidak usah kau persiapkan apapun," ujar Fariq dan Aca diam saja. "Aku takut kamu kecewa, aku takut kamu menyadari semuanya saat kita sudah menikah nanti," ujar Aca lagi. "Menyadari apa?" tanya Fariq. "Menyadari bahwa aku tidak cukup pantas berdiri di sisimu," sahut Aca. Fariq menggeleng, menciumi jari Aca lagi. "Tidak ada wanita lain yang aku inginkan selain Anataya Tasaufi," senyum Fariq muncul dan Aca selalu terpana melihat senyum itu. Aca memejamkan matanya dan menarik tangannya dari genggaman Fariq. "Tidurlah Riq, pasti kakimu kebas menggantung dari tadi," ujar Aca. "Nggak sekebas hatiku Ca, menunggumu mencintaiku," Fariq mendekatkan dirinya, berpindah duduk di sisi Aca yang berbaring. "Aku belum bisa menjabarkan perasaanku padamu Riq, seperti yang aku katakan sebelumnya, kadang aku ingin ketemu kamu, kadang ingat aja seharian, entahlah," Aca mengerjab resah saat Fariq mulai menunduk dan wajahnya menjadi sangat dekat dengan wajahnya. "Riq, kamuu, kamu pasti mau menciumku," suara Aca terdengar mencicit. "Apa ciumanku selalu menakutkan Ca?" tanya Fariq mulai menggesekkan pelan hidungnya pada Aca. "Ehg," suara erangan Aca saat Fariq sudah menyesap dan melumat bibirnya pelan. Tanpa sadar Aca mencengkeram kaos Fariq saat lidah Fariq bermain dalam mulutnya. Aca mendorong d**a Fariq saat dirasakan bibir laki-laki itu mulai menyesap leher dan tangannya perlahan ke dadanya, Aca merasakan ribuan jarum menusuk kepala dan seluruh tubuhnya. "Egh Riq," suara Aca terdengar saat Fariq melepaskan ciumannya. Menatap wajah memerah di depannya yang mengatur napas. "Jangan Riq, jangan pernah menyentuh bagian itu," suara takut Aca membuat Fariq memeluk Aca dan mencium sekilas pipi Aca. "Maafkan aku, aku tak sadar tadi Ca, nggak akan lagi sampai kamu jadi istriku," suara pelan Fariq berbisik di telinga Aca. "Tidurlah, besok kamu ngantor kan?" tanya Aca masih dengan napas tak teratur dan Fariq menggeleng. "Ngapain ke kantor hari Sabtu?" Fariq balik bertanya. Senyum Aca mengembang, beberapa hari tidak masuk membuatnya lupa hari. "Ah ya, aku lupa," jawab Aca. " Tapi kamu tetap harus tidur," sahut Aca lagi. "Yah di sampingmu," ujar Fariq. "Jangan macam-macam kamu Riq," sahut Aca, namun ia melihat laki-laki itu mulai merebahkan diri di sampingnya, tidur menyamping, mulai memejamkan matanya. **** Fariq bangun dan bergegas ke kamar mandi, agak lama dan ke luar menuju tas ranselnya, meraih sarung, sajadah dan mulai menggunakan sarungnya. Setelah sholat subuh ia membangunkan Aca, menuntun perlahan ke kamar mandi. "Kamu ke luar Riq, aku mau pipis," ujar Aca terlihat malu. "Iyaaa Aca, aku tidak akan melihat, duduklah di closet ini, aku akan memejamkan mata, nggak akan kelihatan milikmu, selalu begini kan, aku terus yang ngantar kamu ke kamar mandi," Fariq menoleh ke sisi yang lain. Setelah selesai membersihkan diri, Aca mulai berwudu. "Kamu kenapa nggak tayammum aja, kan meski air cukup untuk wudu, tapi kondisi kamu yang tidak memungkinkan?" tanya Fariq. "Kemarin-kemarin memang aku tayammun, tapi sekarang kan sudah mendingan, nggak usah dimanja lah bekas operasi, nanti juga diberi kesembuhan sama Allah," sahut Aca sambil berjalan pelan memegang dinding, Fariq hanya mengikuti langkah di sisi Aca. "Nggak papa Riq beneran kok, udah nggak sakit banget om Aldo bagus ngasi obatnya, jangan nyentuh aku, agak sanaa kamu, nanti batal wuduku," ujar Aca tersenyum. "Iya iya, sini duduk Ca, sholatnya duduk saja ya?" Fariq menyiapkan mukena Aca dan menggeser kursi menghadap kiblat. "Iya, memang belum memungkinkan untuk sholat berdiri aku Riq," Aca duduk dan perlahan memakai mukenanya. Baru saja Aca selesai sholat mereka dikejutkan dengan kehadiran mama dan kakak Fariq. "Duh Caaa, kamu kok sudah di situ sholatnya, kok nggak sambil tiduran, gimana sih yang jaga juga nggak ngingatkan," ujar mama Fariq sambil meletakkan berbagai makanan di meja. "Nggak papa ma, sudah lumayan kok," sahut Aca sambil melipat mukena. "Dari mana kok pagi-pagi banget ma?" tanya Fariq. "Ya pengen aja, karena kan bentar lagi mau ke rumah mertua Razel," jawab mama Fariq menuju Aca yang mulai beranjak ke pembaringannya. Sekilas mama Fariq melihat ada yang aneh di leher Aca, saat ia dekati, mama Fariq menghela napas. Hmmm pasti kerjaan si Fariq nih... "Tidurlah Ca, eh iya ini ada bubur ayam mau ya Ca?" tanya mama Fariq. "Nggak ma, masih terlalu pagi, pagi banget ini ma, maaf, Aca ngantuk banget ma" sahut Aca. "Iya iya sayang, tidurlah," mama Fariq membetulkan selimut Aca sampai ke dadanya. Saat menuju sofa yang ada di ruangan itu, mama Fariq mendapati Fariq yang merebahkan di sofa panjang memejamkan mata dan Razel yang asik makan bubur ayam. "Heh anak nakal, ngapain kamu tidur lagi, sudah mandi pasti ya rambutnya basah gini," mama Fariq menepuk-nepuk perut Fariq dan Razel terkekeh. "Ck mama, ngantuk ma," suara Fariq terdengar pelan. "Ya jelas ngantuk, ngerjain anak orang, sudah tahu sakit, uh dasar," suara mama Fariq terdengar jengkel dan Fariq membuka mata menoleh pada mamanya. "Apa sih ma?" "Pura-pura nggak tahu lagi, lihat tuh di leher Aca, kamu apakan semalam?" tanya mama Fariq dengan suara pelan namun terdengar marah. "Hah masa sih ma, masa sampe bekas, perasaan aku cuman...," Fariq menggaruk kepalanya dan Razel mati-matian menahan tawa, kawatir Aca mendengarnya. "Cuman apaaa, tega banget sih, awas kamu kalau sampe bekas operasinya kenapa-napa," ancam mama Fariq. "Kan nggak sampe ke situ ma, cuman brenti di leher," sahut Fariq lagi, dan mamanya memukul bahu Fariq. "Hmmm ngaku kan akhirnya ngaku, heran deh, sudah nggak usah jaga di sini lagi, biar mama aja," ujar mama Fariq marah. "Maaa ah mama, gitu aja marah, kayak nggak pernah muda aja," Fariq jadi hilang ngantuknya karena insiden pagi ini. "Pernah nak pernaaah tapi nggak pake acara gigit-gigit kali," sahut mama semakin marah. "Maaaa jangan keras-keras ntar Acanya dengar, lagian nggak Fariq gigit maaa ah mama," suara pelan Fariq mengingatkan mamanya. Sementara Aca yang berusaha memejamkan matanya perlahan menyentuh lehernya, ada apa dengan leherku..apakah karena Fariq semalam...membekas..tidak mungkin..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN