Ada apa Riq
Kata om Aldo Aca boleh pulang ma, tapi tiga hari lagi kontrol ke klinik om Aldo
Trus gimana, mama masih di mertuanya Razel nih Riq
Nggak papa masih nanti jam empat sore kok kita ninggalin klinik, ada waktu dua jam masih ma
Ok, kalau bisa mama ke sana juga, masalah administrasi biar mama yang akan nelpon Aldo, bilang ke Aca sudah beres gitu ya Riq, ntar anak itu kepikiran atau merasa nggak enak sama kita
Iya iya ma gampang
Fariq mengakhiri percakapan dengan mamanya lewat telpon.
"Gimana kata mama Riq?" tanya Aca.
"Nggak papa, mama kalau bisa mau ke sini saat kamu akan balik ke rumah," sahut Fariq.
"Duh nggak usahlah Riq, aku nggak mau ngerepotin mama, kita berdua saja ya," pinta Aca dan Fariq mengangguk sambil tersenyum menatap Aca. Aca menghela napas melihat senyum Fariq.
Hmmm nggak usah tersenyumlah Riq, lama-lama memang senyum kamu yang bikin aku selalu kepikiran...
****
Aca merasa lega karena hanya dengan Fariq ia membereskan semua barang-barangnya sebelum meninggalkan klinik, meski Aca tak membantu setidaknya ia mengingatkan barang apa saja yang harus dimasukkan ke dalam travel bag mungilnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncul wajah ramah dr. Aldo.
"Sudah semuanya Riq, Aca?"
"Sudah om, kami bersiap pulang," sahut Fariq.
"Yah hati-hati di jalan, semoga segera pulih, ingat kata om ya Ca, kapan harus kontrol ke sini," ujar dr. aldo dan Aca mengangguk sambil tersenyum.
dr. Aldo meredakan hatinya perih lagi.
Savana, maafkan papa, terkadang mata papa menangkap matamu yang kesepian...
"Om, Aca pamit, makasih banyak ya om," Aca mendekati dr. Aldo dan dr. Aldo mengusap bahu Aca, menatap mata Savana yang tergambar di sana.
"Yah nak, sehat terus ya, kalau ada keluhan segera telpon om," ujar dr. Aldo.
"Nggak usah ke bagian administrasi Riq, langsung pulang saja, mamamu sudah nelpon om tadi," ujar dr. Aldo lagi.
Aca memandang Fariq dengan tatapan yang Fariq mengerti bahwa ia tidak suka, dr. Aldo mengerti dan segera tersenyum pada Aca.
"Caaa bukan mama Fariq yang bayar, tapi ini dari om untuk Aca, nggak papa kan, kali ini saja, nanti pas kontrol kalau Aca mau bayar ok, om terima," dr. Aldo mengusap rambut Aca dan dadanya nyeri seketika seolah melihat mata Savana yang protes karena selalu ia tinggal.
"Tapi om, biaya operasi Aca, Aca yakin...," Aca masih bingung saat Fariq memeluk bahunya.
"Waktunya kita pulang sayang, kamu terlalu lama berdiri, ayo kita ke luar, makasih banyak om, maunya mama ke sini sama papa, tapi urusan mama dengan keluarga besannya nggak kelar-kelar," ujar Fariq dan terdengar tawa dr. Aldo. Aca duduk di kursi roda dan Fariq mendorongnya sampai lobby klinik.
"Hati-hati Riq, sampai bertemu lagi saat kontrol ya Ca," dr. Aldo mengantar Fariq dan Aca sampai lobby klinik, dan berbalik menuju ruangannya.
"Duduk di sini sayang ya, aku ngambil mobil dulu," Fariq melangkah cepat menuju mobilnya.
Aca mengerutkan keningnya saat melihat Reyhan yang menggendong bayi menuju ke arahnya duduk dan di sisinya berjalan pelan seorang wanita yang menggandeng lengannya dengan erat, wanita yang sama saat kali pertama ia datang untuk persiapan operasinya.
Saat dekat mereka sempat bersirobok tatap, Aca dengan wajah tanpa ekspresi menoleh ke sudut lain seolah tak ada hal penting yang harus ia pikir dari apa yang ia lihat.
Lalu dengan ragu Reyhan melangkah, namun dari sudut matanya ia melihat Reyhan yang menoleh ke arahnya lagi dan wanita itu memaksa Reyhan segera melangkah.
Di pintu lobby Aca melihat Fariq yang berlawanan arah dengan Reyhan, namun Fariq mengacuhkannya dan segera mendekati Aca, mendorong perlahan kursi roda menuju mobilnya yang terparkir di depan lobby klinik.
****
"Kamu baik-baik saja kan Ca?" tanya Fariq saat Aca sama sekali tidak bersuara.
"Yah," jawaban pendek Aca membuat Fariq menyakini wanitanya sedang tidak baik-baik saja.
****
"Terima kasih banyak ya nak Fariq sudah jaga Aca selama di rumah sakit, maaf kalau ibu ngerepotin dan nyusahin keluarga nak Fariq juga," ujat ibu Aca setelah Aca beristirahat di kamarnya.
"Sama-sama ibu, saya tidak merasa direpoti, saya senang berada di samping Aca, setidaknya Aca tahu jika saya sangat mencintainya, dan berharap semoga Aca juga mencintai saya," ujar Fariq pelan dan ketika mendongak ia mendapati wajah sabar hampir meneteskan air mata.
"Ibu minta nak Fariq sabar menghadapi Aca, akan sulit baginya untuk benar-benar melupakan laki-laki itu, selama dengan Aca dia sangat baik, santun, dan lembut, Aca juga tidak dirusaknya, makanya almarhum bapak dan ibu kaget saat tanpa ada pertanda apapun tiba-tiba dia memutuskan menggagalkan pernikahannya dengan Aca, dengan kabar bahwa dia menghamili rekan kerjanya, rasanya tidak mungkin, mustahil, kalau dia laki-laki tidak benar Aca pasti sudah ia rusak, tiga tahun bersama Aca dan Aca baik-baik saja, namun Aca harus segera disadarkan nak Fariq bahwa laki-laki itu harus segera ia lupakan, saat laki-laki itu memilih meninggalkannya berarti ia bukan memang ditakdirkan untuknya, jadi ibu minta betul pada nak Fariq, dampingi Aca, buat dia melupakan Reyhan," Bu Heru mengakhiri kalimatnya dengan mengusap air mata, di sudut matanya.
"Berkali-kali saya katakan, saya akan mendampingi Aca, dan tanpa ibu mintapun saya akan membuatnya mencintai saya, saya ingin memajukan pernikahan saya ibu, yang awalnya empat bulan lagi, ke tiga bulan lagi, saya ingin memilih tanggal pernikahan kami di hari ulang tahun Aca, agar ia selalu mengingat saat-saat indah memasuki hidup baru dengan saya," ujar Fariq penuh harap.
"Nanti akan ibu bicarakan dengan Aca nak, apapun akan ibu lakukan agar Aca bahagia, lebih cepat lebih baik nak Fariq, usia kalian lebih dari cukup," sahut ibunda Aca dan Fariq tersenyum lebar mendengar dukungan calon mertuanya.
****
"Sudah bangun Ca, ini ibu bawakan cemilan, tadi di depan ada langganan ibu yang jual jajanan pasar," Aca membuka matanya.
"Aca nggak tidur kok bu, cuma berusaha mengistirahatkan badan saja," ujar Aca berusaha bangun dan duduk di kasurnya, menerima piring kecil berisi getuk lindri lengkap dengan kelapa muda parut.
"Ibu, Aca boleh tanya?" suara Aca yang tiba-tiba datar membuat ibunya duduk di sebelah Aca.
"Iya ada apa Ca?" tanya bu Heru.
"Apa benar ibu sudah menyiapkan segalanya dengan mama Fariq, untuk persiapan pernikahan Aca dengan Fariq?" Aca balik bertanya.
"Kalau memang benar apa ibu salah Ca, ibu dan mama Fariq menyiapkan hal-hal yang bersifat umum, kami sudah berbicara dengan yang punya WO mengenai gedung, catering, pernak-pernik souvenir karena ibu tahu kamu tidak suka hal ribet makanya ibu urus dengan mamanya Fariq, hanya baju pengantin yang belum ibu sentuh karena kamu harus ikut memilih warna, sekali lagi Ca, apakah ibu salah jika ingin menyiapkan hari yang ibu ingin kamu bahagia menjalaninya, ada laki-laki baik yang menunggumu dengan sabar, sementara pikiranmu masih saja terikat pada laki-laki yang telah membuatmu terpuruk, bukan cuma kamu, ibupun selalu merasa sakit dan nyeri d**a ini saat melihatmu belum sepenuhnya pada Fariq yang berkorban banyak untukmu?" mata Bu Heru berkaca-kaca, pandangannya mengabur, dan sebelum air mata itu jatuh, Aca memeluk ibunya.
"Maafkan Aca ibu, Aca tahu ibu ingin Aca bahagia tapi paling tidak beri tahu Aca jika ada apa-apa, Aca juga ingin lepas darinya ibu, Aca ingin sepenuhnya menerima Fariq di hati Aca," Aca merasakan tangan ibunya mengusap punggungnya.
"Segera menikah anakku, segerakan menikah, hanya dengan menikah kamu akan melupakan laki-laki itu, wajah lembut Fariq akan membuatmu mampu segera melupakannya," bu Heru mencium kening Aca.
"Dan Fariq meminta memajukan pernikahan kami ibu, apa yang harus Aca jawab, apa alasan Aca untuk menolaknya?" Aca menenggelamkan wajahnya di bahu ibunya.
"Apa alasanmu menolak anakku, ibu lebih setuju jika disegerakan, bisa kamu jelaskan pada ibumu ini, apa alasanmu menolak ajakan Fariq untuk mempercepat pernikahan kalian?"
Aca diam saja, ia bingung alasan apa yang akan ia katakan, ia tak menemukan alasan yang tepat untuk ia kemukakan baik pada ibunya maupun pada Fariq....
****