#27

1067 Kata
Mungkin dengan cara seperti ini aku benar-benar melupakanmu cinta pertamaku, yang berawal dengan senyum lembut, sentuhan yang lembut, bahkan ciumanmupun tak pernah menuntut...meski berakhir dengan sakit, bapak yang menjerit miris dan dipanggil ilahi...namun jauh di lubuk hatiku, aku sulit mengusir bayangmu...akan aku terima permintaan Fariq untuk memajukan pernikahan kami...mungkin wajah teduh Fariq di sisiku akan mampu mengalihkan pikiranku... **** "Ah terima kasih Bu Heru, Aca, akhirnya keinginan kami untuk memajukan pernikahan Fariq dan Aca, bisa diterima oleh Aca, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi kami selain anggukan dan senyum Aca," mama Fariq terlihat tersenyum lebar saat bertamu bersama Fariq dan suaminya, membicarakan kepastian pernikahan Fariq dan Aca. "Hanya maaf Bu Ferdi, keluarga saya dan bapaknya Aca tidak ada yang di kota besar ini, mereka sebagian besar berada di Tulungagung dan Maospati, mungkin mereka akan hadir hanya pas resepsi saja, itupun tidak banyak,  maaf kami dari keluarga sederhana, kebanyakan bertani dan pns seperti bapaknya Aca,” "Tidak apa-apa Bu Heru, jangan kawatir, dan maaf bukan bermaksud apa-apa datangkan saja semua sanak keluarga Pak Heru dan Bu Heru, kami akan menyiapkan semuanya, Bu Heru tidak usah berpikir masalah biaya, jangan salah paham, saya hanya ingin keluarga besar Aca berkumpul di sini meraskaan kebahagian Aca dan Fariq, " ujar Bu Ferdi memegang tanga bu Heru, mata ibunda Aca berkaca-kaca ia tiba-tiba teringat suaminya,  seandainya masih hidup, pasti akan merasakan kebahagiaan menikahkan putri mereka. "Maaf jika Bu Heru merasa tersinggung," ujar mama Fariq, secepatnya ibunda Aca menggeleng dan membalas memegang tangan mama Fariq. "Ah tidak Bu Ferdi, saya hanya mengingat suami saya, seandainya masih ada." Semua yang ada di ruangan itupun terdiam. "Kami mengerti kesedihan ibu, tapi kami yakin almarhum Pak Heru pasti bahagia melihat Aca berbahagia," ujar Pak Ferdi, papa Fariq. Mama Fariq berpindah duduk dekat ibunda Aca, mengelus lembut bahu besannya. "Kita sudah seperti saudara Bu Heru, kita bukan baru pertama kenal, jika ada perasaan apapun, Bu Heru bisa bercerita pada saya," ujar mama Fariq lembut. "Terima kasih Pak Ferdi, Bu Ferdi dan nak Fariq, maaf jika kami selalu merepotkan, sejak dulu saya selalu kawatir memberatkan keluarga Bapak dan Ibu, kami kawatir akan jadi benalu di keluarga ibu, kami sadar jika....," ibunda Aca kaget saat ia belum selesai bicara mama Fariq langsung memeluknya dengan erat. "Saya tidak mau Bu Heru mengatakan itu lagi, kami tidak pernah punya pikiran seperti itu,  bahkan sejak Aca dan Fariq sma, saat mereka masih sering bersama, saya dan papanya Fariq tak pernah beranggapan bahwa bantuan kami pada keluarga ibu jadi beban bagi kami, apalagi setelah seperti sekarang, saat Aca bersedia menjadi bagian dari keluarga kami maka bantuan kami pada kelurga ibu sudah menjadi kewajiban bagi kami, jangan menolak Bu Heru kami mohon," mama Fariq memeluk ibunda Aca sambil sesekali mengusap bahu besannya. Tak lama mereka saling melepas pelukan dan suasana menjadi sedikit canggung, hingga papa Fariq membuka percakapan. "Maaf, saya pribadi ingin mendengar dari Aca langsung dari Aca yang dari tadi sepertinya pakai bahasa batin dengan Fariq, hanya saling pandang dan menunduk, eeemmmm Acaaa, Aca bersedia kan pernikahannya dimajukan, Aca bersedia kan jadi bagian dari keluarga Mikala, saya Ferdiansyah Mikala, meminta Anataya Tasaufi untuk menjadi istri bagi anak saya Farihazqa Hafez Mikala," papa Fariq memandang Aca yang terlihat gugup dan mengangguk pelan sambil menatap wajah Fariq yang matanya dari tadi menatapnya dengan lembut. "Iii iya pa, Aca bersedia," suara pelan Aca membuat semuanya lega terutama Fariq. Senyum Fariq semakin lebar saat Aca menatapnya dengan wajah gugup dan mulai memerah, Aca terlihat agak jengkel saat mata Fariq memberinya kode agar ke luar menuju teras. "Ibu, Maa, kami mau ke teras dulu, ada yang perlu kami bicarakan," Fariq melangkah ke teras samping dan Aca mengikuti Fariq. Keduanya duduk berdampingan di teras samping menghadap ke kolam kecil yang terdengar kucuran air, sesekali terlihat ikan-ikan kecil yang berseliweran. Aca kaget saat tangan besar Fariq menggenggam tangannya, lalu mereka saling berpandangan, mata Aca mengerjab beberapa kali, ia selalu kalah jika Fariq menatapnya terlalu lama. "Ada apa?"akhirnya suara Aca terdengar mencicit, samar-samar terlihat senyum Fariq. Dan Aca semakin kaget saat jari Fariq mengusap pipi lalu ke bibirnya, Aca memegang tangan Fariq dan menggeleng, menurunkan tangan besar itu. "Kamu mengajakku ke sini hanya mau memandangiku?" tanya Aca mulai terlihat kesal, terdengar tawa pelan Fariq. "Aku suka kalau kamu mulai marah, wajahmu memerah,  napasmu tersenggal dan aku jadi semakin ingin......," Fariq mendekatkan wajahnya pada Aca, dan Aca memundurkan wajahnya. "Ck Riq," tawa Fariq membuat Aca semakin jengkel. "Apa,  mau aku apakan?" Fariq memeluk bahu Aca, mengusapnya pelan, meraih kepala Aca ke dadanya. "Tetaplah di dadaku Ca, dengarkan detak jantungku, aku mencintaimu Ca, entah mulai kapan,  yang pasti sejak kita sering bersama saat sma, dan sampai saat ini perasaan itu tak pernah berubah, aku tahu jika kamu belum bisa memastikan perasaanmu,  tapi aku yakin, kamu akan mencintaiku, dan cintamu nantinya sama besarnya seperti cintaku padamu Ca, mungkin ini terdengar gombal, tapi yang pasti aku tidak terbiasa menggombal pada wanita manapun, kalau kamu mendengarnya kaku, ya karena baru kali ini aku sangat dekat dengan wanita, memeluk, mengelus dan mencium," Fariq melepas pelukannya dan sekali lagi mereka saling memandang. "Ingatkan aku Riq,  tegur aku jika aku mulai tidak pada jalur yang benar setelah jadi istrimu nanti, aku ingin benar-benar belajar mencintaimu," suara Aca terdengar bergetar. Fariq tersenyum, mengusap lembut rambut Aca, memandang dari jarak dekat wanitanya selalu membuat  tubuhnya bereaksi lain, dan Fariq selalu bingung menjabarkannya. "Egh Riq," Aca mendorong pelan d**a Fariq saat hidung mereka mulai bersentuhan. "Nggak Caaa,  nggak, aku hanya ingin menikmati wajahmu dari dekat dan membayangkan kita akan selalu seperti ini setelah kita menikah," Fariq merasakan hangatnya napas Aca. "Fariq ayo pulang, duuuh Fariiiiq, masa Aca sampai dipegangin kayak gitu, Acanya sampe katakutan, lepasin, nggak enak sama Bu Heru," mama Fariq menepuk pundak Fariq dan Fariq melihat Aca yang menatap mama Fariq dengan wajah gugup. "Caaaa, kalau kamu tidak suka pada perlakuan Fariq sama kamu, bilang aja ke dia, biar Aca merasa nyaman  ya Ca," mama Fariq menatap Aca yang terlihat menunduk dan hanya mengangguk. Mama Fariq mendekat dan menatap wajah Aca. "Tidak apa-apa ma, Fariq tidak melakukan apapun, dia hanya mau meyakinkan saya saja bahwa dia sangat mencintai saya," sahut Aca. "Ooo iya iya syukurlah, artinya Fariq tidak berbahaya ya Ca, dan artinya lagi, Aca suka perlakuan Fariq pada Aca kan?" tanya mama Fariq dengan senyum dikulum, Aca terlihat gugup. "Eeee ii iya iya ma,  Aca suka," suara Aca semakin terdengar gugup, sementara Fariq menahan senyumnya sambil melirik mamanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN