“Ibu!" Aca terlihat kaget saat pintu terbuka tiba-tiba dan muncul wajah ibunya, akhirnya Aca bangkit dari rebahannya dan duduk di pinggir kasurnya.
Ibunda Aca duduk dan memegang tangan Aca, memandang wajah anaknya yang terlihat menunduk seperti ada yang dipikitkan.
"Sejujurnya ibu malu pada keluarga Fariq Ca, karena untuk pernikahan kalian nanti sebagian besar ditanggung keluarga Fariq, kita hanya menanggung bagian-bagian kecil saja," ujar ibu Aca.
"Aca juga tak tahu harus berkata apa ibu, karena terus terang rekanan bisnis papa Fariq ada di mana-mana, perusahaan besar pula, jadi yang diundang pastilah orang-orang seperti itu, Aca jadi takut kita berhutang budi selamanya pada keluarga Fariq, jika menggunakan kekuatan keuangan kita Aca kawatir membuat malu keluarga Fariq," kantuk Aca benar-benar hilang saat berbicara persiapan pernikahannya, padahal sejak tadi ia ingin sekali memejamkan matanya.
"Berusahalah jadi istri yang baik anakku, nak Fariq sabar dan keluarganya sangat mengerti kita," ibunda Aca mengusap bahu Aca, Aca hanya mengangguk.
"Tidurlah sudah malam Ca," ibunda Aca ke luar kamar dan sekali lagi melihat Aca yang mulai merebahkan badannya lagi.
Belum lama Aca rebahan ia mendengar ponselnya berbunyi. Aca meraih ponselnya, ia mengerutkan kening saat melihat nama Fariq di sana.
Sudah rebahan?
Hmmm
Kok hmmmm
Iyah
Besok ikut mama ya Ca habis dari kantor, bikin baju pengantin kita
.......
Caaaa mau ya
Iya, pastilah Riq, masa nggak mau
Yaudah tidur ya Ca yang nyenyak, trus mimpikan aku
Alah, aku ngantuk Riq
Ok tidurlah sampai jumpa besok
****
Aca dan Fariq turun dari mobil, melangkah beriringan memasuki sebuah butik eksklusif.
Badan Fariq tiba-tiba menegang saat melihat mamanya berbicara dengan seorang wanita yang sangat ingin ia hindari.
Seketika itu juga tangan Fariq merangkul pinggang Aca dan berbisik pelan ke telinga Aca.
"Kamu diam saja, meski tak ingin, bersikaplah mesra padaku," Fariq dan berjalan mendekati mamanya, meski tak mengerti Aca berusaha tenang.
"Aca sayang," mama Fariq memeluk Aca dan mencium pipi Aca, kanan dan kiri.
"Ini Aca kenalkan...," belum selesai mama Fariq berbicara, wanita itu sudah memotong sambil menatap Aca dari atas ke bawah.
"Saya Daniya Indisya, saya pernah bertunangan dengan Fariq," wanita itu hanya tersenyum tanpa mengulurkan tangannya pada Aca dan Aca membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis.
"Ini Aca, Daniya, Anataya Tasaufi, calon istri Fariq, dia accounting manajer di perusahaan yang di pegang Fariq, " mama Fariq memperkenalkan Aca pada Daniya.
"Oooh cinta lokasi ya tante?" tawa Daniya seolah mengejek Fariq dan Aca, Aca hanya menampilkan wajah datar tanpa senyum, sedang Fariq terlihat menahan kejengkelannya.
"Bukan, aku mencintainya sejak sma, hanya aku baru bertemu dengannya kembali setelah ia menjadi manajer," ujar Fariq dengan cepat dan wajah Daniya memerah menahan marah.
"Oooh jadi apa tujuanmu menerima pertunangan kita, yang ternyata kau malah mengacuhkanku, apa karena wanita ini," Suara Daniya meninggi hingga orang-orang yang berada di butik menoleh, mama Fariq memeluk bahu Daniya dan dengan gerakan matanya menyuruh Fariq serta Aca berlalu meninggalkan mereka menuju ruangan lain.
"Tidak Daniya, Fariq sejak awal tidak menyetujui pertunangan itu, tante yang salah, karena tante bersahabat dengan mamamu, tante pikir kalian akan bisa kami satukan tapi ternyata tante salah, pertunganmu dengan Fariq sudah berakhir setahun lalu, kalian bertunangan hanya bertahan satu tahun saja, sedang dengan Aca ia baru bertemu beberapa bulan lalu dan mereka bisa disatukan karena memang mereka berteman sejak sma, Fariq sangat menyukai Aca, Aca sering ke rumah dan Fariqpun sebaliknya, maafkan tante Daniya, tante yang salah," ujar mama Fariq dengan lembut.
"Tapi Dania sangat mencintai Fariq sejak awal Daniya melihat dia tante, wajahnya bikin wanita manapun akan mudah jatuh cinta, yang saya herankan kenapa Fariq bisa mencintai wanita berwajah dingin seperti itu? " suara Daniya menahan tangis.
"Kita tidak pernah tahu cinta akan berlabuh kemana Daniya, Fariq merasa nyaman dengan Aca, meski kata orang ia wanita yang dingin, tapi Fariq sampai jatuh bangun mengejarnya, kamu pun akan menemukan tempat berlabuh yang nyaman Daniya, tidak sekarang tapi nanti," mama Fariq mengantar Daniya yang awalnya akan membeli baju pesta jadi urung karena pertemuan tak sengaja dengan Aca dan Fariq tadi.
****
Setelah selesai pengukuran badan serta memilih model dan warna baju pengantin, mama Fariq pulang diantar sopir dan Fariq bersama Aca melangkah menuju mobil mobil Fariq.
Sepanjang perjalanan, Aca diam saja, Fariq pun merasa tak enak jika harus memulai percakapan, ia yakin Aca terganggu dengan kejadian tadi.
****
"Kok ke sini sih Riq?" tanya Aca saat mobil Fariq memasuki rumahnya.
"Masuklah, ada sesuatu yang harus aku ambil," ujar Fariq dengan wajah bingung, bagaimana harus memperlakukan Aca yang kembali dingin.
Aca menuju kamar tamu, lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudu karena terdengar Adzan maghrib.
Setelah selesai sholat, pintu kamarnya terdengar diketuk.
Muncul wajah Bu Fera yang tersenyum ramah.
"Makan malam dulu yuk non, sudah ibu siapkan," ajak Bu Fera.
"Iya ibu, setelah selesai sholat sunnah, sebentar lagi," ujar Aca.
****
Aca melangkah ke ruang makan, ia tidak melihat siapapun, hanya Bu Fera yang muncul dengan membawa ayam goreng dan lalapan, di meja sudah siap tahu tempe goreng dan sambel yang terlihat mengundang selera.
"Ayo non, silakan makan, tuan sedang sholat kayaknya," ujar Bu Fera.
Aca belum mulai makan, ia hanya mengambil sepotong tempe dan mulai mengunyah pelan.
Tiba-tiba Aca meraskan kepalanya dicium dengan lembut, Aca merasakan badannya meremang, namun ia diam saja, ia tahu Fariq bermaksud mencairkan kekakuan karena kejadian tadi.
"Makan yuk?"ajak Fariq, namun Aca menggeleng. Fariq tak peduli, ia ambil nasi agak banyak, lauk tahu tempe, sepotong ayam goreng plus lalapan dan sambel, ia ambil nasi dan mencuil ayam goreng dengan tangannya.
"Ak," tangan Fariq mendekat ke mulut Aca, mau tidak mau Aca membuka mulutnya dan menerima suapan Fariq.
Terus seperti itu, setelah menyuapi Aca, Fariq menyuapi dirinya sendiri sampai habis sepiring.
"Lagi?" tanya Fariq dan Aca menggeleng.
"Kamu nggak sakit kan Riq?" tanya Aca pelan dan Fariq menggeleng sambil minum.
"Berarti kamu kelainan, bagaimana bisa kamu mengakhiri pertunanganmu dengan wanita cantik mirip model seperti itu, badan proporsional, bohong kalau kamu tidak menyukainya, dengan baju seperti tadi, hampir semuanya terlihat," Aca mendengar Fariq tersedak lalu mengusap bibirnya yang masih menyisakan air.
Fariq mendekatkan kursi pada Aca yang tengah asik minum, ia pandangi wajah wnaita di sampingnya yang terlihat dingin.
Aca kaget saat dagunya dipegang Fariq, wajah mereka berdekatan.
"Dengarkan aku, coba kamu lihat makanan yang dijual dijalanan, yang tidak dibungkus dan dibiarkan terbuka akan dikerubungi lalat, sedang makanan yang terbungkus rapi terlihat sehat dan higienis, begitu juga dengan wanita, lalu apa yang bisa dihargai dari dirinya kalau semuanya dibiarkan terbuka dan terlihat semua orang?" Fariq terlihat agak marah.
"Aku tahu jika kamu hanya ingin memancingku agar menjelaskan bagaimana perasaanku pada Daniya, jangan pancing aku Ca, aku tidak akan mudah teralihkan," Fariq mendekatkan bibirnya pada Aca, bersamaan dengan Aca yang menoleh,menghindar, hingga Fariq hanya bisa mencium pipi Aca.
Lalu Aca menatap Fariq yang masih saja menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku mencintaimu Ca, perjalanan kita sudah sejauh ini, tinggal selangkah lagi, Daniya atau siapapun tidak akan mampu menghentikan keinginanku untuk menikahimu," ujar Fariq sambil mengusap pipi Aca.
Tiba-tiba Aca memeluk Fariq dan menangis.
"Aku capek Riq, capek jika harus berurusan dengan orang lain lagi, melibatkan rasa kesal, marah dan sedih lagi akhirnya," tangisan Aca terdengar lirih.
"Semua akan baik-baik saja Ca, ada mama jika kamu merasa berat bebanmu," suara mana Fariq tiba-tiba mengagetkan Aca yang segera melepaskan pelukannya pada Fariq.
****