#29

1234 Kata
“Mama!" seru Fariq kaget. "Ada apa ma ke sini?" tanya Fariq dan mamanya menggeleng sambil tersenyum. "Nggak ada apa-apa, hanya nggak tahulah Riq, perasaan mama saja yang yakin kalian pasti di sini," sahut mama Fariq yang ikut duduk di ruang makan. Terdengar langkah tergopoh-gopoh Bu Fera. "Wah nyonya besar, silakan sekalian makan nyonya," sahut Bu Fera dengan sopan. "Iya Bu Fera,  kayaknya mengundang selera lauknya malam ini," mama Fariq mengambil piring dan mulai makan, tak lama muncul papa Fariq, Razel dan Verina, Bu Fera sibuk menyiapkan piring tambahan. Tampak mereka saling menyapa dan berpelukan dan duduk di ruang makan itu. "Loh kenapa kamu Ca, kok kayak habis nangis, pasti Fariq yang bikin kamu sedih ya,  sana ajak jalan Riq atau kemana kek, jadi cowok harus peka kalau ceweknya pas nggak enak hati," ujar Razel yang sudah mulai menyendokkan nasi untuk Verina. "Mumpung masih jam delapan Riq,  sana ajak Aca jalan-jalan,  ke cafe punya anak teman papa itu, kalau mau ya Verina sama Razel juga," ujar papa Fariq. "Nggak pa, Verina sama Razel biar di sini saja,  masa kami mau gangguin Fariq sama Aca," goda Verina dan Aca akhirnya tersenyum. "Ah kak Verina ada-ada saja, nggak pa makasih,  ini sudah malam,  Aca pulang saja, anterin ya Riq," pinta Aca. "Ya iyalah Ca,  dia harus ngantar kamu," sahut mama Fariq. "Sudahlah sana berangkat Ca,  kamu perlu merefresh pikiran kamu, nanti setelah kalian nikah, kita jalan-jalan bareng berenam," ujar papa Fariq yang diiyakan oleh mama, Razel serta Verina. **** "Duh kok ke cafe sih Riq,  mana bajuku belum ganti," ujar Aca dan Fariq memeluk bahu Aca, mencium pelipisnya. "Mau pake baju apapun kamu tetap cantik," ujar Fariq. "Ck, gombal," sahut Aca. **** Mereka berdua duduk bersisian,  menikmati space nyaman cafe yang saat itu untungnya tidak terlalu ramai, Fariq memilih duduk di pojok dan Aca mengikuti saja kemauan Fariq. Fariq melihat Aca menikmati lagu-lagu yang diputar di cafe, senandung kecil mulai terdengar di telinganya saat lagu blue moon versi jazz mengalun. "Suaramu masih ok ternyata Ca,  mau nyanyi, aku ambil gitar di depan sana ya?" ajak Fariq dan Aca menggeleng dengan keras. Tak lama mengalun lagu I love you 3000, suara Aca yang lirih mengikuti lagu itu ternyata mampu membuat Fariq terpana. "Bener kamu mencintaiku sampai segitunya Ca,  dan berharap aku menjadi suamimu?" tanya Fariq setelah lagu itu berakhir dan senyumnya samar-samar mulai terlihat untuk menggoda Aca. Aca memukul d**a Fariq dan tertawa menanggapi gurauan Fariq, sejenak Fariq kembali terpana, Aca jarang sekali tertawa, tangannya masih saja memukul d**a Fariq dan Fariq menakap tangan Aca, menariknya ke dalam pelukannya. "Tertawalah Ca, aku suka melihatmu tertawa, tarikan bibirmu, sinar matamu, membuat aku...," Fariq mendekatkan hidung ke hidung Aca menggeseknya pelan, serta menyentuh bibir Aca sekilas. "Riq, ini tempat umum," Aca menjauhkan wajahnya dan mendorong d**a keras Fariq, namun Fariq tetap memeluk erat bahu Aca. Tak lama Fariq melepas pelukannya, mengusap bahu Aca dan kembali membawa kepala Aca ke dadanya, menciumi ujung kepalanya berulang. Keduanya tidak sadar jika dari sudut lain, Daniya memandang kejadian di depan matanya dengan d**a sakit dan terluka, dulu dia berharap Fariq akan luluh pada wajah cantiknya, dan mereka akan menjalani kisah cinta yang manis, namun kenyataan pahit yang ia dapat,  sejak awal pertunangan yang ia dapati hanya wajah dingin, ucapan yang sepatah dua patah, dan selalu menghindar jika ia ingin berdua, puncaknya Fariq memutuskan pertunangan dengan alasan tidak ada kecocokan. Selamanya mereka tidak akan pernah cocok karena mereka tidak pernah mencoba berdua. Perlahan Daniya bangkit dan segera berlalu dari tempat itu. "Hei itu, Riq wanita itu, bukankah itu wanita yang di butik, mantan tunanganmu?" ujar Aca dan Fariq meletakkan telunjuknya di bibir Aca lalu menggeleng. "Jangan bicarakan hal yang tidak penting selama kita berdua," Fariq mengusap pipi Aca lagi. "Bernyanyilah aku suka suaramu Ca," ujar Fariq dan Aca menggeleng sambil tersenyum. "Nanti saja,  setelah jadi istrimu aku akan menidurkanmu dengan sebuah lagu," senyum Aca mulai mengembang dan Fariq menggeleng. "Tidak, aku tidak mau kau menidurkanku dengan nyanyian," sahur Fariq. Aca mengernyitkan alisnya. "Lalu?" tanya Aca. "Aku ingin kau menidurkanku dengan ciuman dan pelukan, lalu kita tidur berdekapan," kembali Fariq mendekatkan wajahnya pada wajah Aca dan Aca menutup bibir Fariq dengan tangannya sambil tersenyum. "Kita pulang, kalau tidak maka bibir ini bolak balik ke mana-mana, kita belum sah, jangan kelewatan, itu pesan ibu," ujar Aca mengajak Fariq pulang. "Baiklah tuan putri, terserah kau mau apa saja, aku hanya akan menuruti kemauanmu," suara Fariq terdengar lega setelah kekauan diantara mereka kembali cair gara-gara peristiwa sore tadi. **** Seminggu menjelang pernikahan Razel, rumah keluarga Mikala mulai terasa kesibukannya. Meski mereka pihak laki-laki namun resepsi pernikahan diambil alih oleh keluarga Mikala, sama halnya dengan pernikahan Aca-Fariq nantinya. Hampir tiap hari Aca dan Fariq mengunjungi rumah besar itu, sekadar menemani mama Fariq dan Razel berbicara tentang persiapan yang sudah rampung. "Aca, Fariq, jangan jauh-jauh dari mama nanti ya, pas akad maupun resepsi," ujar mama Fariq penuh harap. "Mama pasti gugup, nanti kan ada ibunya Aca juga ma," ujar Fariq mengingatkan. "Iya sih, mama lupa, ada adik-adik mama juga, duh jadi lupa semuanya," ujar mama Fariq. "Kamu jangan sampai terlambat ke sini ya Ca, jemput Aca sama Bu Heru ke rumahnya ya Riq, akad jam delapan mulai dah Riq, jam tujuh jemput Aca ya, jam sepuluh resepsinya, tempatnya sama, biar nggak capek mempelai dan keluarganya mengingat papa Verina kan sakit Riq, Ca," ujar bu Ferdi kembali mengingatkan. "Iya maaaa, iya pasti Aca akan Fariq jemput, tenang ajalah ma," sahut Fariq. "Kak Razel mana ma?' tanya Fariq. "Ada di ruang fitnes tuh, ngegym kayaknya, kayak nggak ngerti kakakmu aja," jawab Bu Ferdi. "Heheh, makin rajin aja tuh orang," suara tawa Fariq mulai terdengar dan Aca menoleh. "Kenapa?" tanya Fariq. "Tumben kamu ketawa," sahut Aca. "Nggak papa, pengen ketawa saja," ujar Fariq. **** "Fariq cepat jemput Aca, hampir jam tujuh loh," teriakan mama Fariq mengagetkan semua yang ada di rumah besar itu, Razel yang sudah siap hanya tertawa melihat mamanya yang panik sejak pagi. "Iya maaa, ini Fariq baru selesai pakai bajunya, ya Allah mama, ini Aca baru saja aku hubungi,  Aca sudah siap kok,  ya dah Fariq berangkat ma, yang mau nikah malah tenang-tenang saja tuh ma" Fariq bergegas menuju mobilnya. **** Sesampainya di rumah Aca, Fariq segera turun dari mobilnya dan membuka pagar rumah Aca. "Masuk nak Fariq," suara ibunda Aca terdengar saat ia menutup pagar kembali di belakangnya. "Duduk dulu,  Aca masih pakai stilettonya," terlihat Bu Heru duduk di teras menggunakan kebaya warna senada dengan mamanya. Fariq hendak duduk saat terdengar langkah menuju teras, ia menunggu Aca muncul. Sejenak Fariq terpana melihat Aca dengan tampilan lain, baru kali ini ia melihat Aca menggunakan makeup lengkap, dengan rambut disanggul modern memperlihatkan lehernya yang jenjang, serta kebaya yang pas menempel di badannya. Aca merasa jengah juga melihat Fariq yang terus menatapnya, Bu Heru hanya senyum-senyum saja melihat keduanya, Aca yang gugup dan Fariq yang masih saja menatapnya. "Ada yang salah dengan dandananku Riq?" tanya Aca pelan, Fariq menggeleng cepat dan segera sadar jika ia dari tadi menatap Aca. "Eeh nggak Ca, nggak, mari Bu Heru, Ca, kita berangkat," ujar Fariq mempersilakan ibunda Aca berjalan lebih dahulu,  setelah mengunci pintu rumah. Saat berjalan beriringam menuju mobil, Fariq menggenggam tangan Aca, menatapnya dari jarak dekat dan berbisik. "Ingin rasanya aku menikahimu hari ini Ca," ujar Fariq terdengar lirih di telinga Aca, Aca segera menoleh dan menemukan wajah Fariq yang sangat dekat dan mata Fariq yang melihat bibir Aca yang terbuka karena kaget. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN