#30

1242 Kata
“Maafkan kami Bu Heru,  Aca, kami benar-benar tidak tahu jika laki-laki itu masih kerabat Verina," ujar mama Fariq setelah prosesi akad dan resepsi selesai, malam itu juga papa dan mama Fariq menemui Aca di rumahnya. "Tidak masalah bagi kami Bu Ferdi, ini hanya masalah kecil, kami hanya  kaget sebentar tadi, setelah itu biasa kembali, dalam hidup kadang ada bagian yang tidak dapat kita pilih,  berarti ya sudah kita hadapi dengan tabah," sahut ibunda Aca. "Iya ma, lagian hari ini,  hari bahagia kak Razel sama kak Verina, apapun yang terjadi kita ya harus ikut merasakan kebahagiaan mereka, dan tidak salah juga kak Verina karena di keluarga kak Verina sepertinya dia dipanggil Aldi," ujar Fariq menambahkan sambil sesekali melihat Aca yang lebih banyak diam. "Benar nak Fariq,  lagi pula kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa jika laki-laki itu memang masih kerabat Verina, kita tidak bisa berbuat apapun, yang pasti Aca yang harus segera menyesuaikan diri, berusaha nyaman, tidak usah dihindari orang seperti itu, jika kita terpaksa harus bertemu, kita yang harus kuat menghadapi orang seperti itu," ujar Bu Heru lagi. "Iya, Aca tidak apa-apa kok ma, pa, ada Fariq di sisi Aca sejak akad mulai, sampai berakhirnya resepsi tadi, papa dan mama tidak perlu sebenarnya menjelaskan semua pada kami, kami merasa bahwa ini skenario dari Allah yang meski awalnya membuat kami jatuh, sejatuh-jatuhnya, tapi sekarang kami mampu bangkit lagi, sekali lagi,  saya tidak apa-apa, Fariq sudah membuat saya nyaman dari tadi," Aca menjelaskan sambil sesekali menatap Fariq yang terus saja menatapnya dengan tatapan bimbang. **** "Benar kamu nggak papa?" tanya Fariq saat mereka hanya berdua di teras, papa dan mama Fariq pulang terlebih dahulu. "Nggak papa, aku akhirnya harus terbiasa menghadapi orang itu, yang seolah tanpa merasa bersalah berseliweran di depanku, menggandeng anak kecil yang baru bisa berjalan, lalu siapa wanita yang bersamanya di klinik itu, ah sudahlah,bukan urusanku Riq," sahut Aca. "Benar, kita konsentrasi pada pernikahan kita yang hanya sebulan lagi, kamu harus sehat jangan sakit,jangan capek, nanti setelah jadi istriku akan kuciumi kau setiap saat," Fariq menahan senyumnya dan menatap wajah Aca yang mulai memerah menahan malu, lalu memukul lengan Fariq. "Ck, kamu kayaknya ngebet banget deh Riq, nggak percaya betul aku lihat kamu,  Fariq yang di kantor jarang senyum,  kalau dekat aku lebih banyak anehnya kayak gini," Aca menjauhkan wajahnya dari Fariq. Terdengar tawa Fariq, selalu saja Aca merasa aneh jika mendengar Fariq tertawa karena memang sejak sma,  Fariq cenderung pendiam, kalaupun tertawa pastilah akan menarik teman-temannya menoleh dan memandangnya dengan tatapan kaget. "Aku laki-laki normal Ca, kalau ada laki-laki tidak tertarik pada wanita berkulit putih bersih, rambut hitam legam sebahu, hidung mancung dan bibir yang selalu tampak basah meski jarang tersenyum, pastilah laki-laki itu tidak normal," sahut Fariq menelusuri wajah wanita yang ada di dekatnya, Aca mengerucutkan bibirnya. "Gombal kamu, kamu memang tidak normal, tunangan bak model gitu kamu abaikan," sahut Aca tak mau kalah dengan Fariq. "Aku tidak mau jadi laki-laki kesekian darinya, aku tahu bagaimana dia berganti laki-laki seperti dia berganti baju, temanku banyak Ca, meski aku tidak akrab, aku tahu bagaimana pergaulan dia dengan para eksekutif muda, dengan para CEO, semuanya selalu berakhir di tempat tidur, dan dia melakukannya tanpa merasa bersalah," Fariq menoleh pada Aca yang terbelalak karena kaget, Fariq tersenyum lalu meraih tangan Aca, mengusapnya pelan hingga Aca tersentak dan menariknya. "Kenapa?" tanya Fariq mengerutkan keningnya. "Nggak ah, berasa ada desiran yang tak wajar di badanku," jawab Aca terlihat takut dan Fariq kembali tertawa. "Aku lebih menyukai wanita sepertimu, yang selalu merasa takut jika aku sentuh, cenderung diam dan tidak mengejarku mati-matian, aku tidak suka jika ada wanita yang mengejarku," kembali Fariq mencondongkan wajahnya  pada Aca. Aca mendorong bahu Fariq dan Fariq memegang tangan Aca yang melekat di bahunya. "Riiiq ah," Aca terlihat jengkel dan.... "Loh kok malah dorong-dorongan kayak anak kecil nak Fariq sama Aca ya," muncul Bu Heru dengan dua gelas air jahe manis hangat. "Ini biar kalian tidak kedinginan dari tadi di teras, ibu buatkan wedang jahe," bu Heru meletakkannya di meja dengan sepiring martabak plus acar mentimun. "Kapan ibu beli?" tanya Aca. "Barusan, lewat pintu samping, kan dekat Ca, cuman nyebrang saja, silakan nak Fariq,  Ca makanlah, kamu dari tadi kan tidak makan," Bu Heru meninggalkan keduanya. Fariq mengambil sepotong dan menyuapkan ke mulut Aca, Aca menggeleng, namun Fariq tetap memaksa. "Aku nggak mau tahu, kamu harus makan, aku tahu kamu nggak makan sama sekali, gara-gara laki-laki itu, ayolah, ak," Fariq tersenyum saat Aca membuka mulutnya dan cup, bibir Fariq menyentuh sekilas bibirAca, Aca terbelalak, dan memukul lengan Fariq. "Riiiq ah," Aca menjadi jengkel dan menutup mulutnya lagi. "Nggak nggaaak, maaf, aku suapi beneran, ayolah,  aku kan sudah minta maaf Caaa," Fariq menatap Aca yang mulai menoleh padanya dan membuka mulutnya kembali, mengigit separuh dan mengunyahnya, Fariq pun makan dari sisa gigitan Aca. Keduanya saling menatap dan sama-sama tersenyum. "Kita ini pasangan aneh Ca, sama-sama berwajah dingin kata orang-orang, tapi kita bisa mesra saat berdua kayak gini, kamu lihat tadi wajah karyawan kantor kita saat resepsi pernikahan kak Razel, stafmu di bagian accounting, mereka semua kaget saat aku menggengam tanganmu, memeluk bahumu, mereka semua baru tahu jika kita punya hubungan khusus, dan para senior manajer memuji keprofesionalan kita, tadi mereka mengatakan itu pada papa," sekali lagi mereka sama-sama tersenyum, saling mengagumi senyum yang jarang mereka lihat. Fariq selalu menyukai saat Aca menunduk karena tidak bisa menatap matanya terlalu lama, pura-pura mengerjab dan melihat ke sisi yang lain. Fariq mendesah pelan, sabarlah Riq, sebulan lagi, hanya sebulan lagi... **** "Riq, bawa apaan itu malam-malam ke sini?" tanya mamanya. "Beberapa baju kantor Fariq ma," sahut Fariq. "Kan di sini sudah ada, tapi sedikit sih" mama papa Fariq saling berpandangan. "Kan sebulan lagi Fariq nikah ma, nggak tahu kenapa Fariq ingin di sini sebelum menikah bulan depan," ujar Fariq. "Terserah kamu, gimana Aca tadi Riq?" tanya papa Fariq. "Nggak apa-apa pa, tadi sempat aku suapi martabak dan dia mau, sejak pagi dia hanya minum saja dan belum makan, makanya aku paksa tadi," ujar Fariq dan mendengar tawa mamanya. "Kamu tuh pakai jurus apa sih Riq, kok bisa menaklukkan Aca yang kayak gitu?" tanya mama Fariq. Fariq tertawa dan menggeleng lalu duduk di dekat papanya. "Fariq nggak tahu juga ma, kayaknya meski Aca belum sepenuhnya mencintai aku, aku selalu merasakan jika dia mulai membutuhkan aku, satu hal yang sangat aku suka dari Aca,  dia selalu takut jika aku mulai memandanginya dari jarak dekat, wajahnya yang mulai memerah karena malu, bikin aku selalu ingin menggodanya ma," Fariq memejamkan matanya sambil tersenyum. Fariq merasakan lengannya yang dicubit oleh mamanya dan tawa papanya yang mulai terdengar. "Heran deh kamu, Aca yang pendiam kamu kerjain, awas kamu juga dikerjain Aca kalau sudah jadi istrimu nanti," mama Fariq akhirnya tertawa. "Nggaaak, nggak mungkin lah ma, dia terlalu lugu untuk urusan kedekatan pria dan wanita," sahut Fariq cepat. "Alaaah kayak kamu berpengalaman saja, kamu ya sama kayak Aca, nggak tahu apa-apa juga, beda dengan Razel yang jam terbangnya tinggi banget," kembali tawa mama Fariq terdengar. "Yaaa kalau bandingannya kak Razel jelas kalah ma, tapi kalau dengan Aca ya masih menang Fariq jauh ma, Fariq kan bisa belajar dari mana saja, meski pas prakteknya rada-rada kaku awalnya, lama-lama ya lancar juga ma, " sahut Fariq, mama dan papanya saling berpandangan dengan wajah penuh tanya. "Lah, emang kamu sudah meraktekin apa sama Aca, Riq, jangan bikin takut mama papa kamu, hah ayo ngaku," mama Fariq terlihat marah dan Fariq terlonjak kaget. "Nyium Aca ma," jawab Fariq dan pecahlah tawa papa dan mamanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN