Pagi itu kesibukan di rumah Bu Heru luar biasa, sejak semalam sanak keluarganya yang disediakan penginapan di hotel berbintang oleh keluarga Fariq malah diabaikan, semuanya menginap di rumah bu Heru, berdesakan bagi mereka tak masalah karena sudah puluhan tahun mereka tidak bertemu.
Aca digoda habis-habisan oleh sanak familinya yang Aca tahu saat ia kecil dulu pernah diajak berlibur oleh bapaknya ke Tulungangung dan Maospati namun setelah kakek dan neneknya meninggal ia tak pernah lagi ke tempat itu, selain karena tidak adanya waktu juga karena biaya yang tidak memungkinkan mengingat bapaknya seorang pns.
Pagi-pagi setelah sholat subuh, Aca sudah dirias oleh perias pengantin, mama Fariq juga ada di sana, menenangkan Aca yang sejak awal matanya terlihat berkaca-kaca.
"Jangan menangis ya sayang, nanti riasanmu rusak, yakinlah bapak kamu pasti bahagia melihat kamu hari ini," bu Ferdi berbisik di telinga Aca.
****
Saya terima nikah dan kawinnya Anataya Tasaufi binti Heru Sasmito dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas senilai dua ratus lima puluh juta, dibayar tunai
"Sah" kalimat itu meluncur dari para saksi, lalu diamini oleh seluruh yang hadir maka mengalunlah pembacaan doa dan selesai proses akad nikah.
Tak lama Aca yang diantar oleh adik ibunya, berdiri di samping Fariq, mencium punggung tangan suaminya dan Fariq mencium kening Aca.
Suasana mendadak riuh karena Fariq yang terpaksa ditepuk bahunya oleh Razel yang berada di dekatnya karena Fariq terlalu lama mencium kening Aca.
Aca yang terlihat gugup, semakin tidak bisa tersenyum saat semuanya tertawa geli melihat Fariq yang juga salah tingkah.
Setelah selesai penandatanganan surat nikah maka sanak keluarga dan tamu yang hadir segera melakukan sesi foto, namun tak lama lagi mereka harus bersiap berganti baju karena dua jam lagi resepsi pernikahan akan digelar.
Sebagian besar sanak keluarga Fariq dan Aca terlihat menikmati hidangan.
"Aca, Fariq ayo ikut mama ke ruang ganti baju, siap-siap untuk yang resepsi pernikahan," mama Fariq melambaikan tangan pada keduanya.
"Iya ma, bentar masih makan nih," Fariq terlihat menyuapi Aca dan makan untuk dirinya sendiri.
Selama makan tak henti Fariq menatap Aca dan kebayanya yang terlihat pas di badan Aca, kadang jika Aca sedikit menunduk maka belahan dadanya terlihat, Fariq hanya tersenyum saat melihat Aca yang cepat menutup dadanya, waktu Aca sadar ke mana arah tatapan Fariq.
"Hayo lihat apa?" ujar Aca lirih.
"Sudah sah juga, mau aku lihatin semuanya juga nggak dosa," Fariq menyuapi Aca untuk sendok terakhir dan meraih gelas air minum.
"Nih minum dulu sayang," Fariq mendekatkan ke bibir Aca dan segera mencuri cium saat bibir Aca sudah mendekat ke bibir gelas.
"Riiiq tuh kan papa sama mama lihat, mereka tertawa loh, benci aku, nggak lucu jadinya," Aca terlihat jengkel dan meraih gelas di tangan Fariq lalu meminumnya sampai habis.
"Ngapain malu, mereka tahu kok kalau aku sudah ingin menciumimu sejak sebulan lalu," Fariq makin melebarkan senyumnya dan Aca hanya berdecak jengkel.
****
Suasana resepsi siang itu sangat meriah dan mewah, makanan yang tumpah ruah dan tamu yang tak henti mengular.
"Sampai berapa lama lagi kita berdiri gini Riq?" tanya Aca.
"Kenapa sayang, kamu sudah capek atau kamu ingin segera kita buka baju?" suara Fariq semakin membuat Aca jengkel.
"Riq, please, kakiku pegel," ujar Aca.
"Sshhhhh Riq, ah tanganmu," Aca semakin marah saat tangan Fariq menyusup di punggung Aca yang menggunakan baju pengantin bermodel backless, Fariq hanya tersenyum lebar dan menurunkan tangannya.
"Tuh kan lihat papa mama kamu tertawa geli lihat kamu, ah bikin malu saja," Aca terlihat membalas senyum mertuanya, dengan wajah dibuat semanis mungkin.
"Selamat Pak Fariq dan Ibu Anataya, akhirnya ke pelaminan juga, meski tidak bisa dibohongi hati saya sakit, tapi saya ikut bahagia melihat bapak ibu akhirnya menikah," Tenti menyalami keduanya tanpa senyum dan segera berlalu.
Aca menatap wajah suaminya yang tiba-tiba menahan senyum.
"Kenapa?" tanya Aca bingung.
"Lah tadi dia bilang sakit hati lihat kita, tapi kamu apa nggak lihat tanda kemerahan di leher dan dadanya, ah wanita itu, entah dengan siapa dia bergulat semalam, bisa-bisanya bilang sakit hati," Fariq akhirnya tertawa dan Aca hanya tersenyum sambil mengedikkan bahunya.
"Bukan urusan kita, kecuali kalau kamu tidak bisa melupakannya sebagai sekretaris cantikmu," ujar Aca dingin, dan Fariq memeluk pinggang Aca dengan erat.
Aca memekik lirih, memukul pelan bahu Fariq.
"Riiiq, diam ah, lihat tuh kak Razel sama kak Verina sampai terbahak-bahak gitu, malu tahu, kita kayak kebelet banget jadinya," ujar Aca lagi dan Fariq menenangkan istrinya dengan memeluk lembut bahunya.
"Iya iyaaa maaf, tapi nanti malam jangan ngambek," Fariq kembali mencium pelipis Aca sekilas dan semakin membuat Aca malu pada sanak keluarganya, juga keluarga Fariq.
****
Selesai sudah acara melelahkan sepanjang hari itu, setelah sesi foto maka keluarga besar Aca pamit pada kedua pengantin itu.
Saat akan menuju mobil untuk selanjutnya menuju kediaman Fariq, Aca dan Fariq melihat langkah Daniya yang terburu-buru meninggalkan gedung itu.
Fariq dan Aca berpandangan, tidak memahami peristiwa dihadapannya, wanita itu dan keluarganya diundang oleh papa mama Fariq, tapi mengapa kedatangannya seperti tamu tak diundang.
"Ada apa dengan wanita itu ya Riq?" tanya Aca.
"Sudahlah, kita menuju rumah kita, mama maunya kita langsung ke hotel milik keluarga mama, tapi aku menolak Ca, aku ingin menikmati saat-saat pertama denganmu di rumah kita, sudah aku pasang peredam suara, takut suara kita terdengar keluar," Aca menahan napas saat Fariq berbisik di telinganya, meski ia tak tahu apapun mengenai hal-hal semacam itu, ia cukup paham apa yang akan terjadi nanti, hingga Aca menutup mulut Fariq agar ia tak berbicara lagi, dengan wajah memerah menahan malu Aca melangkah cepat menuju mobil dan duduk bersisian dengan Fariq, mobil yang dikemudikan oleh sopir keluarga Fariq berjalan pelan.
****
Mereka memasuki rumah besar itu berdua, Fariq menuntun Aca, mereka disambut oleh beberapa pelayan di rumah itu, tentu saja Bu Fera sudah siap dengan segalanya.
Aca terkejut melihat kamar tidur Fariq yang ditata sedemikian rupa agar terlihat romantis.
"Ini pasti kerjaan mama sama kak Verina," ujar Fariq.
"Kok tahu?" tanya Aca.
"Kak Verina ahlinya dalam hal seperti ini, ia memiliki perusahaan yang bergerak dalam penyediakan jasa pernikahan dan semacamnya, ia juga fotografer handal, sering ke luar negeri melakukan pemotretan," ujar Fariq sambil menutup pintu kamar dan Aca berbalik menatap Fariq dengan tatapan takut.
Fariq mendekat, menatap istrinya dari jarak dekat.
"Selamat datang di rumah kita, istriku," Fariq meraih dagu Aca menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, Fariq merasakan bibir Aca yang bergetar.
****