Fariq merasakan tubuh Aca yang melemah saat ciumannya semakin dalam, ia peluk Aca dengan lengan kirinya dan tangan kanannya memegang tengkuk Aca.
Fariq melepaskan ciumannya saat ia merasakan asupan oksigen mulai berkurang ke paru-parunya.
Fariq melihat Aca yang tersenggal dan dengan wajah memerah dan mulut terbuka, sekali lagi ia raup mulut istrinya dan Aca meremas jas suaminya, mendorong pelan d**a keras Fariq.
"Kamuuuh..ehg... tidak akan membunuhku kan Riq..ehg," napas Aca tersenggal dan terdengar tawa Fariq diantara deru napasnya.
Ia peluk Aca dengan erat, badan istrinya bersandar pada badannya.
"Aku tidak mengira, akan senikmat ini menciummu,"Fariq mengusap punggung Aca yang terbuka, seketika Aca melepas pelukannya, menatap wajah Fariq yang sedari tadi tersenyum menatap wajahnya.
"Aku boleh mandi dulu kan, aku lelah, kamu membuat aku semakin lemas," ujar Aca berusaha duduk di kasur besar dalam kamar Fariq.
"Kamu mandi dulu Riq, aku mau bersihkan wajahku dan membuka baju pengantin yang aneh ini," ujar Aca sambil melangkah pelan ke meja rias dan mulai melihat bermacam kosmetik di meja rias yang tertata rapi di sana, pasti mama Fariq dan kakak iparnya yang mengatur semuanya.
"Boleh aku tahu, di mana baju-bajuku Riq?" tanya Aca yang berusaha tidak melihat Fariq yang mulai melepas pakaiannya satu persatu.
"Baju tidurmu ada di kasur di dekatmu tadi, sudah dipersiapkan mama, sedang baju-baju lainnya masih di dalam travel bagmu, nanti aku akan menyuruh bu Fera mengaturnya di walk in closet," jawab Fariq, sambil melangkah menuju tempat baju kotor, ia melangkah santai dengan hanya bertelanjang d**a dan boxer yang melekat di badannya.
Aca kaget saat tiba-tiba Fariq berdiri di belakangnya, mencium ujung kepalanya dan Aca menjadi jengah menatap d**a telanjang Fariq, ia berusaha sibuk mengambil pembersih dan menunduk membetulkan kapas.
"Mau mandi sama-sama?" tanya Fariq lirih di telinga Aca, Aca hanya menggeleng dan badannya menegang saat Fariq menciumi lehernya, serasa ada sengatan tak terlihat mengenai badannya.
"Riiiq mandilah duluuuu," suara Aca terdengar merengek dan memaksa.
****
Aca tidak pernah membayangkan jika Fariq terlihat sangat menguasainya saat menciumnya tadi. Setelah selesai membersihkan badannya, ia membuka baju pengantinnya, tidak susah karena bahan yang jatuh dan model backless membuatnya hanya menjatuhkan baju melewati lengannya dan saat Aca berdiri baju itu menumpuk di kakinya. Ia buka bra bertali transparan, hanya menyisakaaln celana dalamnya saja.
Aca berjalan menuju kasur, meraih bathrob dan baju tidurnya, ia terbelalak melihat baju tidur aneh, Aca menggeleng pelan dan wajahnya memerah karena malu, ia tidak mungkin memakai pakaian yang sama halnya seperti tidak memakai baju.
Aca mendengar pintu kamar mandi terbuka lalu secepatnya Aca menggunakan bathrobnya.
Saat berbalik ia melihat Fariq hanya melilitkan handuk di pinggangnya, menatap wajah Aca yang bingung.
"Kenapa sayang?"
"Apa tidak ada baju tidur lain, aku bawa di travel bagku," ujar Aca sambil memegang lingerie warna silver. Fariq tertawa dan mendekati Aca yang mulai mundur.
"Itu pilihan mama, pakailah, hargai mama, meski kamu cuma memakainya sekali saja," ujar Fariq memeluk Aca, menarik pengikat rambutnya dan rambut Aca tergerai jatuh.
"Riq aku mau mandi," suara Aca terdengar mencicit saat dirasakannya tangan Fariq menarik pengikat bathrobnya.
"Nanti, akan aku mandikan," suara Fariq menghilang di ceruk leher Aca, tangannya mulai meraba d**a Aca yang tanpa penghalang, meremasnya pelan hingga terdengar desah Aca.
Fariq merasakan badan Aca melemah, ia gendong lalu ia rebahkan di kasur, bathrob Aca sudah ia lepaskan.
Terlihat wajah gelisah dan takut di bawahnya, Fariq mengusap rambut Aca.
"Harus sekarang?" tanya Aca lirih dan ia mulai merasakan milik Fariq mengeras di perutnya.
"Aku ingin sekarang, boleh?" tanya Fariq, tangannya mulai mengusap lembut ujung d**a Aca, mata sayu Aca dan napas tersenggal Aca seolah tak mampu lagi menjabarkan permintaan Fariq.
Mulut Fariq mulai berlabuh di d**a Aca, sedang tangannya menarik handuk yang melilit pinggangnya, Aca benar-benar merasakan benda keras itu menempel di perutnya.
"Ssshhh Riq, sakit," rintih Aca saat dadanya terasa nyeri karena gigitan Fariq. Ia merasakan tangan Fariq membuka penutup terakhirnya, menyentuh miliknya dan ia merasakan badannya bergetar saat entah Fariq melakukan apa dengan jarinya pada miliknya.
Aca mencari-cari tangan Fariq saat mulai merasakan hal aneh pada tubuhnya, ia merasakan semakin lemah saat ia mendapatkan pelepasannya.
"Jangan siksa aku Riq, tanganmu menyiksaku," suara Aca membuat Fariq melepaskan bibirnya dari d**a Aca.
"Baiklah, aku akan pelan, jika sakit aku kan berhenti," Fariq membuka paha Aca lebih lebar, mulai menyatukan dirinya dengan Aca, terdengar pekik dan rintihan Aca yang meremas punggungnya.
"Sakit?" pertanyaan aneh Fariq saat melihat wajah Aca menahan sakit namun gesekan dadanya pada d**a Aca membuatnya kembali hilang kendali.
"Tahan Ca, aku akan pelan," Aca hanya mengangguk saat Fariq kembali mempermainkan dadanya dengan bibir dan lidahnya, sedang badannya mulai bergerak perlahan dan semakin cepat saat desah Aca mulai terdengar.
****
"Aku lelah Riq," rintih Aca setelah satu jam lewat Fariq tak kunjung selesai.
"Sebentar lagi Ca, aku akan sampai," suara serak Fariq membuat Aca memejamkan matanya, membiarkan Fariq memeluknya dari belakang, tumbukan teratur yang semakin kasar, membuat Aca merebahkan kepalanya ke lengan Fariq yang ia jadikan bantal, hentakan keras serta gigitan di lehernya, membuat Aca semakin lunglai dan Fariq menyudahi segalanya sambil tetap memeluk Aca, mengusap lengannya dengan lembut dan menciumi bahu Aca.
Fariq membaringkan Aca, menatap badan polos istrinya yang tak bertenaga.
"Selimuti aku, aku malu Riq," Aca masih berusaha menutup dadanya dengan dua tangannya meski sebenarnya ia sangat lelah, matanya masih saja terpejam.
Fariq bangkit, sejenak ia melihat darah Aca di sprei, lumayan banyak dan membuat Fariq tersenyum semakin lebar.
Ia menggendong Aca ke kamar mandi, tak peduli meski Aca protes, mendudukkan istrinya dalam bathup yang berisi air hangat, Fariq juga masuk ke dalam bathup, mendudukkan Aca didepannya.
Fariq menyabuni badan Aca, terasa segar dan Aca seolah menemukan kekuatannya kembali meski ia masih saja menyandarkan badannya pada d**a bidang Fariq.
"Kamu, membuatku lelah Riq, aku tidak mengira kamu seperti orang mengamuk tadi, terasa aneh saja, kamu yang lembut dan sabar jadi menakutkan seperti tadi," terdengar tawa pelan Fariq.
"Badanku rasanya sakit semua, dadaku nyeri, di bawah sini juga,kebas rasanya, kamu nggak selesai-selesai, sakit Riq bener," Aca memejamkan matanya, bersandar pada d**a Fariq menyamankan badannya yang terasa pegal.
Namun Aca kembali kaget saat Fariq mengangkat sedikit badannya dan Aca memekik, merasakan miliknya penuh dan sesak serta perih membuatnya mendesis.
"Riq, kamu," Aca merasakan tangan Fariq yang memeluknya erat dari belakang, dan miliknya terasa dihujam berkali-kali dari bawah, air di bathup tumpah menyebar dalam kamar mandi.
Suara desah keduanya memenuhi kamar mandi dan berakhir dengan geraman Fariq, Aca benar-benar memejamkan matanya, lelah dan kantuk menyerangnya bersamaan.
****
Dering ponsel membangunkan Fariq, ia bangkit dan meraih ponselnya.
Ya maaaa
Wah kalau dari suaranya kayak bangun tidur sayang
Ah mama, yaaa iya memang
Mana Aca, mama ada perlu, bentaar aja
Jangan sekarang ma, kasihan, Aca kecapean ma, lemes banget kayaknya
Wah, kamu apain saja sayang, sampe segitunya
Ck mamaaa, mulai deh
Lah kamu ya main langsung aja, nggak nunggu ntar malem, malah siang-siang gini lagi
Ini sudah hampir sore mah
Iyaaaa iyaaaa tapi kan kamu sama Aca gituannya tadi siang kan, main langsung aja
Mamaaaa ketawa lagi, lah pengennya pas siang
Iya dah nanti aja pas Aca bangun mama telpon lagi, bai sayang
Fariq mengelus bahu Aca dan menciumi lengan Aca. Perlahan Aca bergerak dan mendesis saat pangkal pahanya terasa nyeri.
"Sholat asar dulu yuk Ca, kita dah kelewat sholat duhur tadi," ujar Fariq terlihat menyesal.
Aca kaget dan berusaha bangun meski nyeri dipangkal pahanya semakin terasa.
"Iiiih kamu sih, jadi kelewat gini," Aca bangkit dan berjalan perlahan ke kamar mandi hendak berwudu.
****
Lepas isyak kediaman Fariq tampak ramai, mama, papa, Razel dan Verina berada di ruang makan.
"Nggak ganggu kan Riq?" tanya Razel menggoda adiknya. Fariq tersenyum dan menggeleng.
"Ck, kakak, nggak lah, yang penting jam sembilan harus pada pulang."
Semuanya tertawa dan tak habis pikir Fariq terlihat terlalu jujur jika ia masih ingin bersama Aca.
"Mana Acanya?" tanya mama Fariq.
"Tuh yang dicari dah muncul," senyum Fariq semakin lebar, matanya tak henti menatap istrinya yang menggunakan kaos lengan panjang warna peach dengan leher kaos model turtleneck, menutupi bercak kemerahan di lehernya. Rambut Aca dibiarkan tergerai, dan celana jeans membalut kaki jenjangnya, sehingga penampilan Aca terlihat casual.
Aca duduk di samping Fariq namun sebelumnya ia menyapa mertua dan kakak iparnya, memeluk mereka bergantian.
"Capek Ca?" tanya mama Fariq kawatir, melihat wajah lelah Aca dan mata Aca yang masih mengantuk, namun Aca berusaha tersenyum.
"Nggak capek kok ma, iya kan sayang?" Fariq memeluk bahu Aca, menciumi pelipis istrinya berulang.
"Capek banget, kamu sih," suara pelan Aca membuat semuanya tertawa dan Fariq menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nah kan, berarti biar nggak ada yang gangguin Aca, kita di sini saja sampe malam, gimana?"tanya Razel pada mama, papa dan istrinya.
"Yah jangan dong, jangan terlalu malam, aku kan...," Fariq terlihat jengkel pada kakaknya, dan menatap wajah istrinya yang menatapnya dengan mata sayu karena lelah, namun Fariq mengartikan lain, ingin rasanya kembali membawa Aca ke dalam kamarnya.
Papa dan mamanya menahan tawa saat melihat percik gairah di mata Fariq, dan Razel merasakan nikmatnya membuat adiknya marah dan tersiksa.
****