#33

1713 Kata
Jam dua belas lewat, papa mama Fariq, Razel dan Verina baru meninggalkan rumah Fariq. Meski jengkel Fariq berusaha menahannya, melihat wajah ceria istrinya saat berbicara dengan mamanya dan kakak iparnya membuat Fariq lupa sejenak akan kejengkelannya karena semuanya seolah kompak melihat Fariq tersiksa. **** "Tadi ngomong apa saja sih kok kayaknya seneng banget?" tanya Fariq mulai memeluk Aca saat mereka sudah di kasur. "Biasalah, masalah wanita, tidak jauh dari baju, makeup dan perhiasan, tapi aku banyak nggak tahunya, yah mama sama kak Verina kan dari keluarga berada, biasa beli barang mahal, sedang aku baru setelah bekerja, punya uang sendiri baru mampu beli ini itu," jawaban pelan Aca membuat Fariq semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau kamu ingin apa saja, beli, ngerti, aku tidak ingin istriku jadi menahan keinginannya," Fariq menyibak rambut Aca, menciumi leher istrinya yang kembali merasakan kaget dan terkejut saat merasakan tubuhnya bagai terkena sengatan listrik. "Kenapa sayang, kamu selalu saja seperti kaget kalau aku ciumi lehermu?" tanya Fariq, lalu mulai menyusupkan tangannya ke d**a Aca, mengelus pelan benda kenyal itu, mencari ujungnya dan menjepit dengan jarinya. Aca menoleh ke belakang, dan Fariq menyambutnya dengan meraup bibir istrinya yang langsung kehabisan napas. Fariq melepaskan ciumannya, membalik badan Aca menjadi berhadapan, hingga terlihat d**a Aca dibalik baju tidurnya. Aca terlihat gelisah dan malu, namun ia beranikan diri menatap Fariq yang dari tadi tersenyum menatapnya. "Lagi, tadi siang kan sudah?" tanya Aca pelan. "Boleh kan kalau aku ingin lagi?" pertanyaan Fariq membuat Aca bingung, mengingat pangkal pahanya belum sepenuhnya nyaman karena aktivitas tadi siang benar-benar membuat miliknya sakit. "Tapi milikku rasanya masih sakit Riq, kamu sih nggak selesai-selesai," sahut Aca mulai menyurukkan wajahnya ke d**a Fariq, terdengar tawa pelan Fariq yang mengusap kepalanya perlahan. "Baiklah, aku tidak akan bermain keras dan kasar, aku akan membuatmu benar-benar siap," Fariq bangkit, membetulkan posisi Aca, menaikkan baju tidurnya, wajah Aca bingung saat Fariq menarik celana dalamnya melewati kakinya dan memekik lirih saat wajah Fariq berada di pangkal pahanya, membuka pahanya lebih lebar. "Riq kamu, jangan Riq, jangan, jijik, itu...egh, ah Riiiq," Aca memegang kepala Fariq dan merasakan lidah Fariq menyapu dan mengoyak miliknya. Sensasi lain Aca rasakan, hingga badannya meremang dan kepalanya yang mendadak pusing,  ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada badannya. Aca menjerit pelan dan merasakan badannya lemas, Fariq masih saja berada di pangkal pahanya setelah ia merasakan pelepasan pertamanya, badannya lunglai dan napasnya menjadi tak beraturan, saat membuka matanya ia melihat Fariq sudah berada di atasnya dengan senyum lembut, mengusap rambut Aca yang basah oleh keringat. "Kau apakan aku, aku jadi semakin lemas, sudah ya kita tidur?" suara pelan Aca membuat Fariq menahan tawa. "Aku belum sampai, bahkan belum merasakan apa-apa," Fariq membuka kaos dan semua yang menempel di badannya. Aca merasa ngeri saat tanpa sengaja melihat milik suaminya yang menegang, ia merasa malu dan melihat ke sisi yang lain. Fariq kembali memeluk Aca, membawanya berhadapan dengan posisi menyamping. "Capek sayang?" tanya Fariq dan Aca mengangguk. Menarik tungkai Aca ke pinggangnya dan melesakkan miliknya perlahan. "Ssshhh Riq," Aca mencengkeram punggung Fariq. Fariq menahan pinggang Aca, menahannya agar tetap berhadapan dengannya, lalu mulai menggerakkan pinggangnya, menumbuk pelan, lalu cepat dan pelan lagi. **** Satu jam lewat dan Aca sudah berada di bawah dengan mata terpejam karena lelah, kadang ia buka matanya dan menemukan wajah sabar itu mengeras dengan keringat menetes dan memandangnya dengan tatapan berbeda. Gerakan Fariq semakin cepat dan hentakan terakhir membuat Aca menjerit entah karena sakit atau yang lain, Fariq merebahkan badannya di samping istrinya, memeluk dengan erat badan lunglai itu dan menciumi bahu Aca. "Tidurlah sayang, " Fariq benar-benar melihat istrinya yang lelah dan segera terdengar napasnya yang teratur, Aca segera terlelap meski Fariq membersihkan milik istrinya dengan tisu, bisanya Aca akan segera menutup pangkal pahanya, namun kali ini tergolek lemah dengan mata terpejam. "Maafkan aku sayang, membuatmu tak bisa beristirahat dengan nyaman, tidurlah," Fariq menarik selimut, menutupi badannya dan badan istrinya. **** Fariq bergerak bangun saat terdengar adzan subuh, saat tanpa sengaja menyentuh kulit Aca ia kaget. Fariq pegang kening Aca, terasa panas di telapak tangannya. Mendadak Fariq bingung, namun ia tetap membangunkan Aca untuk segera mandi dan sholat subuh. "Aku mandikan ya sayang," suara pelan Fariq membuka mata Aca, tidak ada sahutan bahkan saat Fariq mendudukkan Aca di bathup, ia diam saja. **** Setelah selesai Fariq mendudukkan Aca di kasur, berjalan ke walk in closet mengambilkan dalaman Aca hingga baju tidur yang agak tebal. "Pakai bajumu dulu Riq, aku jadi takut lihat kamu memakaikan bajuku tapi kamu nggak pake apa-apa," Aca berdiri berpegangan pada bahu Fariq saat Fariq memakaikan celana dalam dan celana bahan katun. "Yang penting cepet dulu,  badan kamu panas, sholat, dan rebahan lagi ya, aku akan manggil dokter, om Aldo lagi di KL, biar dokter yang lain yang ke sini sayang, kalau lemes sholat sambil duduk aja ya?" Fariq melangkah cepat mengambil kursi dan menghadapkan ke arah kiblat. Mengambil mukena Aca dan meletakkan di samping Aca, lalu melesat lagi ke walk in closet memakai baju untuk dirinya sendiri. **** "Riq, mana Aca?" pagi-pagi mamanya sudah ramai dan muncul lagi di rumahnya. "Tidur ma," sahut Fariq mengambil teh hangat di meja makan lalu berjalan ke kamarnya. "Tidur gimana, tadi Aldo nelpon mama dari KL, dia ngabarin kalau kamu pagi-pagi banget nelpon dia karena Aca sakit, makanya lihat-lihat tenaga istrimu, anak dua kok sama saja, senengannya nyiksa istri, Razel ya gitu juga tiga bulan lalu," mama Fariq masih saja ngomel-ngomel sampai akhirnya ia membuka pelan kamar Fariq dan mendapati Aca yang tertidur pulas, berselimut dengan wajah lelah, Fariq berdiri di dekat mamanya setelah meletakkan teh hangat di meja kecil dekat tempat tidurnya. Mama Fariq mengusap lembut rambut Aca dan Aca bergerak perlahan. "Aku capek Riq, jangan dulu ya, seharian ini bisa kan jangan apa-apain aku dulu," suara pelan Aca membuat mama Fariq menoleh pada anaknya dengan tatapan jengkel dan Fariq hanya menggaruk-garuk kepalanya. "Ini mama Ca," suara pelan ibu mertuanya mengagetkan Aca yang berusaha bangun meski lemas. "Hei sudah tiduran saja, mama suapi ya, mama bawa bubur ayam, mumpung masih hangat, heh anak nakal cepet ambil bubur ayam di meja rias tuh," mama Fariq menumpuk bantal agar posisi Aca nyaman saat ia suapi. "Sini buburnya, lalu kamu ke luar, ada yang mau mama bicarakan sama Aca," mama Fariq menerima mangkuk bubur dari Fariq dan menatap anaknya yang masih saja berdiri di dekat istrinya. "Loh, kok masih di sini, ayo ke luar?" mama Fariq menggikan suaranya dan Fariq melangkah ke luar dengan wajah penuh tanya, namun ia sempatkan mencium kepala istrinya. "Mama ngapain main rahasia-rahasiaan, ntar Fariq tanya Aca saja," Fariq akhirnya ke luar, namun sekali lagi ia melihat wajah istrinya sebelum menutup pintu kamar. "Ca, makan ya," mama Fariq mulai menyuapi Aca. "Kamu harus jaga makan, minum vitamin, jaga stamina sayang,  pada Verina mama juga bilang gini, kamu akan sakit kalau tidak jaga asupan makanmu, laki-laki keluarga Mikala semuanya seperti ini,  tidak usah malu bicara seperti ini dengan mama, ini untuk kebaikan kamu dan Fariq, semua laki-laki Mikala tidak akan cepat selesai jika berurusan dengan ranjang, harusnya kita bangga punya suami seperti mereka, tapi kalau kamu tidak jaga diri, maka kamu akan sakit, mama dulu juga sepertimu, ayo habiskan makannya ya sayang," mama Fariq melihat Aca yang wajahnya memerah menahan malu. **** "Heh Riq, mama tanya berapa kali kamu kerjain istrimu hah?" tanya mama Fariq setelah berbicara panjang lebar dengan Aca dan Aca akhirnya bisa tertidur setelah mama Fariq memberinya vitamin dan obat turun panas sesuai anjuran dr. Aldo "Ck ngapain mama tanya-tanya, baru juga tiga apa empat kali ya, lupa," jawab Fariq berusaha mengingat dan ia mendapat pukulan keras di bahunya. "Kamu tahu kenapa istrimu sakit, dia kecapean, kurang makan, kamu nyerang terus tiada henti, lama, nggak selesai-selesai, ngerti mama kalau kalian pengantin baru, maunya gitu terus tapi ingat, stamina orang tidak sama, heh bikin mangkel aja, tiga bulan lalu Razel eh sekarang kamu gini juga," ujar mama Fariq. "Ya habis gimana ma, Fariq nggak ngerti juga, kenapa badan Fariq jadi gitu reaksinya kalau dekat Aca," Fariq jadi serba salah. Tak lama datang Razel dan Verina, melihat wajah marah mamanya dan wajah bingung Fariq, ia tahu masalahnya. "Maaaa jangan salahkan Fariq, tapi Aca fisiknya harus kuat, iya nggak Riq, kami para lelaki ya gini kalau pingin ma, terus mau gimana, kan nggak mungkin kami biarkan bagian badan kami jadi sakit karena menahan sesuatu," ujar Razel membela adiknya. Verina duduk di dekat mertuanya dan mereka terlihat saling memeluk dan mencium pipi. "Bukan gitu Zel, kan bisa dengan cara lebih manis, atau biarkan kami istirahat dulu yang cukup," ujar Verina. "Tuh,  denger kalian para lelaki, istri kalian bukan tidak mau melayani, tapi kalian harus lihat kondisi mereka, denger anak-anak mama?" suara mama Fariq tetap berintonasi tinggi. "Iya maaaaaa," Fariq dan Razel menjawab bersama dan terdengar tawa mereka bersamaan. "Memang Aca sakit kayak Verina dulu ma?" tanya Verina menahan senyumnya dan mama Fariq mengangguk cepat. Ponsel Fariq yang berbunyi nyaring menghentikan sementara pembicaraan mereka, ia meraih ponsel dari sakunya dan terlihat nama Andra. Ya Ndra, ada apa, kamu sampe bela-belain nggak datang ke nikahanku karena mencari wanita itu Riq, aku menemukannya Riq, ternyata benar kata temanku, ia pemilik salah satu butik ternama di KL Syukurlah Ndra Ya hanya aku masih mencari cara agar ia tak lari lagi Riq jika ia melihatku, maafkan aku jika aku memperpanjang cutiku Yah nggak papa Fariq meletakkan poselnya di meja,  ia mulai meraih piring untuk sarapan. "Siapa Riq?" tanya mama. "Rajendra,  Andra ma, dia menemukan orang yang dia cari di KL, kata Andra wajahnya mirip banget sama Aca, malah pertama bertemu dia memanggil Aca dengan sebutan Savana ah entahlah," ujar Fariq. "Savana, aku jadi ingat rekan kerjaku yang akan aku temui dua hari lagi di KL, aku belum tahu wajahnya seperti apa, salah satu perusahaan di KL meminta perusahaanku membuat iklan untuk perusahaannya, dan semua pakaian model yang aku bawa akan menggunakan rancangannya," ujar Verina. "Ah hanya kebetulan nama sama paling sayang," ujar Razel menikmati sarapan bersama Fariq. **** Sementara di belahan dunia yang lain, Andra mengamati wajah wanita yang ia rindukan dari jauh, dari seberang jalan saat wanita itu, melangkah menuju mobilnya. Tak terasa langkah pelan Andra semakin cepat menuju mobil Savana. Saat akan membuka mobil, Andra menarik lengan Savana dan keduanya saling menatap lama, mata Savana berkaca-kaca. Andra menarik Savana ke dalam pelukannya. "Savana....." "Rajendra..." Savana mendekap erat laki-laki yang sangat ia rindukan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN