"Kita tanya Aca dulu, beneran bisa nggak dia kita bawa jalan-jalan, jangan maksa lah ma," ujar papa Fariq menanggapi rencana istrinya mengajak Aca dan Fariq ke KL mumpung Verina ada kerjaan di sana dan Razel yang akan menghabiskan cutinya.
"Mau kok Acanya pa, dia bilang sehat, apalagi tadi kan Bu Heru datang ke rumah Fariq, Aca seperti mendapat suntikan vitamin lagsung seger," ujar mama Fariq.
"Bener kan sayang kamu sehat dan bisa ikut kami jalan-jalan ke KL?" tanya mama Fariq dan Aca mengangguk ragu.
"Fariq juga kan ma?" tanya Aca dan Fariq tertawa sambil memeluk bahu istrinya.
"Ya iyalah sayang, kalau aku mggak ikut, kamu juga tidak boleh ikut," ujar Fariq masih menyisakan tawa.
"Ah bahagianya aku pa, kita jalan-jakan berenam, keiginanku sejak dulu, kalau punya menantu akan aku ajak jalan-jalan berenam," ujar mama Fariq.
"Rencananya kapan Verina berangkat ma?" tanya papa Fariq.
"Besok sore sama seluruh crewnya, dia kan bawa model dan alat-alat apalah banyak pokok pa," sahut mama Fariq.
"Dan kita nginap di hotel yang sama dengan mereka?" tanya papa Fariq lagi. "Ya nggaklah pa, kalau mereka kan apa-apa ya disesuaikan sama budget prerusahaan kan pa, kita milih hotel yang nyaman lah pa, apalagi ada penganten baru itu, kita pilih yang suiteroom lah, gampanglah pa, temanku punya hotel di KL, aku sudah menghubungi dia, sekalian kita juga honeymoon pa," terdengar tawa mama Fariq.
"Mamaaa, kita loh usia berapa kok masih honeymoon saja," papa Fariq tersenyum menatap wajah istrinya yang tiba-tiba memeluknya.
"Mamaaa, papaaaa, ada Aca nih, kebiasaan, di depan aku sama Razel nggak papa lah ini di depan menantu," ujar Fariq sambil geleng-geleng kepala.
Terdengar derai tawa mamanya dan Aca yang hanya tersenyum menatap kedua mertuanya yang tetap mesra meski mereka tidak muda lagi.
****
Udara malam menyambut mereka saat turun dari pesawat, bandar udara yang terletak di Sepang, negara bagian Selangor ini menyapa rombongan dengan angin semilir.
Rombongan akhirnya terbagi dua, keluarga Mikala menuju hotel teman mama Fariq dan rombongan crew Verina menuju hotel yang letaknya tak jauh dari hotel tempat keluarga Mikala menginap.
Sejenak Verina memberikan instruksi pada seluruh crewnya bahwa jam tujuh mereka sudah di lokasi, dan akan diusahakan sehari selesai.
****
Tiba di hotel mama Fariq disambut oleh pemilik hotel dan mereka segera masuk ke kamar masing-masing melepas lelah, besok mereka akan menuju destinasi wisata yang ada di KL, bagi keluarga Mikala dan Verina ini adalah perjalanan yang ke sekian ke KL, sementara bagi Aca adalah perjalanan pertamanya ke tempat itu.
****
"Mama sama papa berapa ya Riq ngeluarkan biaya untuk kita, terlalu besar kamar ini untuk kita berdua," ujar Aca saat melihat suiteroom yang ia tempati.
Fariq memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Kami menyayangimu, jadi jangan berpikir tentang uang, nikmati saja perjalanan sederhana dan singkat ini, aku tidak bisa terlalu lama ninggal perusahaan, mungkin kita hanya tiga hari di sini, mandilah, lalu istirahat," ujar Fariq melepas pelukannya dan menarik travel bag yang diantar roomboy kedekatnya, membukanya dan mencari baju tidur untuk istrinya.
"Biar aku cari sendiri Riq, aku tidak mau kamu selalu melayaniku, kata ibu harusnya aku yang melayanimu," Aca membuka celana jeansnya dan duduk di dekat Fariq, meraih bathrob dan menatap Fariq.
"Berbaliklah, aku mau buka baju," suara Aca terdengar memohon, Fariq tersenyum sambil menyentuh paha terbuka istrinya.
"Bukalah, aku tidak akan mengganggumu, besok saja, aku tidak mau membuatmu lelah lagi," Fariq menarik baju Aca melewati kepalanya hingga terlihat Aca menggunakan bra dan celana dalamnya.
Fariq memakaikan bathrob dan memandang istrinya dengan lembut.
"Mandilah, nanti aku, gantian, aku tidak mau mandi sama-sama, takut lupa lagi kalau kamu belum pulih," ujar Fariq sedikit mengernyit dan Aca baru menyadari saat celana Fariq yang menggelembung di pangkal pahanya.
"Kamu, sakit Riq?" tanya Aca melihat suaminya dengan wajah penuh penyesalan karena ia masih lelah dan tak mungkin melayani Fariq.
Terdengar tawa Fariq dan memeluk istrinya sambil mencium ujung kepala Aca berulang.
"Tidak apa-apa, aku sudah merasakan nikmatnya berkali-kali, kalau kali ini saja si kecil istirahat, tidak masalah, banyak cara memuaskan si kecil tanpa membuat kamu lelah, nanti aku ajari," senyum Fariq membuat Aca takut, dan memukul lengan Fariq pelan.
"m***m," akhirnya tawa Aca terdengar meski tidak keras.
"m***m pada istri tidak dosa kok," Fariq kembali mencium Aca.
"Aku mandi dulu," Aca melangkah ke kamar mandi dan menutup pintunya lalu mulai membuka bathrob, melepas celana dalam dan branya, dan perlahan masuk ke bahtup menyegarkan badannya yang lelah, ia berjanji akan makan teratur dan minum vitamin, serta menjaga stamina tubuhnya, ia tidak ingin merasa bersalah karena tidak bisa melayani suaminya.
Setelah mandi Aca segera membuka pintu kamar mandi dan menemukan Fariq yang asik dengan ponselnya, tertegun memandang layar ponselnya.
"Riq mandilah, " suara pelan Aca mengagetkan Fariq.
"Ah ya," ia segera meletakkan ponselnya di kasur dan melangkah ke kamar mandi.
Aca masih saja berdebar jika melihat Fariq seperti tadi, hanya menggunakan boxernya dan berjalan santai di depannya. Aca masih melihat milik Fariq yang membesar di balik boxer itu.
Terdengar pintu ditutup dan Aca mulai memakai hand and body ke seluruh badannya, menggunakan parfum lalu bangkit hendak meraih dress saat ia mendengar Fariq mengerang di kamar mandi, dengan menyebut namanya.
Aca segera berlari menuju kamar mandi kawatir suaminya sakit atau terjatuh.
Aca buka seketika pintu kamar mandi namun ia tercekat saat menemukan Fariq yang baru saja mendapatkan pelepasannya sendiri karena ia melihat Fariq memegang miliknya dengan napas terengah, Aca merasa bersalah dan segera menubruk badan Fariq, memeluknya, lalu menangis sejadinya di badan besar itu.
"Maafkan aku, maafkan aku yang tidak berguna sebagai istri, aku berdosa sudah membiarkanmu seperti ini," tangisan Aca membuat Fariq juga merasa bersalah, ia peluk istrinya, ia usap rambut basah Aca.
"Maafkan aku juga sayang, aku tidak mau melihat kamu menangis seperti ini, aku hanya tidak mau kamu lelah lalu sakit lagi, tidak masalah aku seperti ini,"Fariq memeluk Aca semakin erat.
Aca melepas pelukan suaminya, lalu membuka bathrobnya hingga Fariq dapat melihat tubuh Aca yang tidak menggunakan apapun.
"Sayang, jangan, kamu masih lelah setelah perjalanan tadi," namun Fariq dapat merasakan miliknya yang kembali mengeras. Aca menggeleng, meraih leher Fariq agar menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya.
Fariq meraih badan Aca, menggendongnya menuju kasur.
****
"Kemana ya dua anak itu, aku telpon dari tadi nggak ada yang ngangkat dua-duanya," ujar mama kawatir.
"Makanlah dulu, bentar lagi juga nyusul ke sini," ujar papa Fariq.
Razel dan Verina saling melempar senyum.
"Nggak usah kawatir ma, paling yaaaa ya itulah," kembali tawa Razel dan Verina terdengar.
Ternyata benar dari arah pintu restoran hotel keduanya muncul saling mendekap dengan rambut basah.
"Bener kan maaaa," suara tawa Razel semakin keras dan terdengar hembusan napas lega mamanya.
****