"Verina mama harap kamu ngerti, mama tidak bermaksud membedakanmu dengan Aca, tapi kamu sudah terbiasa hidup seperti kami, sedangkan Aca, dia baru menikmatinya sekarang," ujar mama Fariq sambil menatap menantunya dengan tatapan memohon.
"Iya mama, Verina ngerti kok, nggak papa, mama santai saja, kayak nggak ngerti Verina," sahut Verina berusaha menenangkan ibu mertuanya.
Saat Aca dan Fariq semakin dekat, mereka segera berhenti dan mencium Aca sebelum duduk di dekat Fariq.
"Mama kawatir dari tadi Riq, nelpon kalian bolak balik nggak ada sahutan, takut Aca kenapa-napa, ya aku bilang ke mama santai aja, paling juga lagi ngapa-ngapain eh ternyata benar," ujar Razel dan semuanya tertawa menanggapi gurauannya.
Wajah Aca memerah menahan malu, dan pura-pura menawari Fariq beberapa makanan.
"Mama kawatir kondisi Aca, Razel ah kamu ini, ingat pesan mama Riq," kilatan mata mama pada Fariq seolah mengingatkannya pada kondisi Aca.
Fariq menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya menghadap mamanya.
"Ngerti mama, Fariq ngerti, tadi cuman bentaaar kok nggak lama, bener, tanya Aca tuh kalau nggak percaya," suara lirih Fariq kembali membuat semuanya tertawa.
Verina dan Razel hanya geleng-geleng kepala sambil menikmati makan malamnya.
"Alah kakak geleng-geleng, pasti kakak malah lebih parah dari aku, yakin deh aku lihat badan kakak yang menakutkan gitu," ujar Fariq terlihat jengkel karena merasa ditertawakan.
"Heh masalahnya aku ya lihat-lihat kondisi Verina, nggak main embat aja kayak kamu," sahut Razel tak mau kalah.
"Alaaah kayak nggak tahu kita, kak Verina juga sakit kayak Aca kan waktu kalian pengantin baru," jawaban Fariq meluncur begitu saja dan Verina jadi menahan tawa.
"Heeh sudah sudah ayo makan malam dulu, kok malah rame, nggak malu sama papamu, dari tadi senyum-senyum saja tuh," mama segera melerai dan baik Fariq maupun Razel serentak menoleh pada papanya yang masih saja tersenyum.
"Pasti papa senyum-senyum karena dulu gitu juga ngerjain mama ya Riq?" tawa Razel seketika meledak dan terdengar tawa papa yang sangat jarang di dengar oleh anak dan menantunya.
Mereka menikmati makan malam berenam dengan suasana yang sangat nyaman. Sampai akhirnya Aca ijin ke toilet.
"Ingat Riq jangan bikin Aca lelah lagi ngerti, besok kita jalan-jalan bareng ya, tapi Verina nggak bisa kan ya sama Razel?" tanya mama.
"Gini aja, biar kami nyusul ma, setelah pengambilan gambar, saya harus memastikan semuanya sempurna, juga mau bertemu langsung dengan pemilik butik sekaligus perancangnya yang bernama Savana," ujar Verina.
"Ok, enak gitu, nanti kita saling telpon saja ya sayang?" sahut mama Fariq dan mereka melihat Aca yang sudah kembali di tengah-tengah mereka.
****
"Kemana duluan nih kita jalan-jalannya ma?" tanya Fariq saat siang itu mereka akan memulai jalan-jalan.
"Ke jalan Petaling sajalah Riq, di sana kan kita bisa lihat-lihat china town kayak apa, ada macem-macem souvenir dan Chinese food, mau ya Ca?" tanya mama dan Aca hanya mengangguk saja.
****
"Ayo, ayo semua kerja jangan lelet, waktu terus berjalan, dan yang pasti semakin lama di sini semakin banyak uang ke luar, ayo teman-teman cantik dan ganteeeng go goooo," teriakan Verina membuat crewnya bergegas bekerja, Razel melihat istrinya yang energik hanya senyum-senyum dari tempat duduknya.
Verina melangkah mendekati Razel dan meraih botol minuman, beberapa frame telah selesai, sekarang menggunakan baju berikutnya, untuk adegan selanjutnya.
Verina dikejutkan oleh tepukan halus asistennya.
"Mbak Verina, ibu Savana menunggu di restoran resort ini, mari saya antar mbak Verina ke tempat ibu Savana, ternyata dia orang Indonesia, ramah dan sabar, tadi agak lama bicara dengan saya," ujar Ani, asisten Verina.
"Sayang, ikut yuk, ke restoran di depan sana, perancang yang aku pakai bajunya sudah datang, maunya aku ke butiknya eh ternyata dia ke sini, baik banget," ujar Verina sambil menarik tangan Razel agar ikut dengannya.
****
Verina dan Razel melangkah masuk ke restoran dan melihat wanita dengan rambut sepinggang duduk membelakangi mereka.
Ani segera memberitahu wanita itu dan bangkit menyambut Verina dan Razel, lalu berbalik dan tersenyum.
Mulut Verina dan Razel terbuka lebar karena kaget.
Bahkan Verina sempat terhenti langkahnya dan memegang tangan suaminya.
"Ya Allah, sayang ini...," Verina melanjutkan langkahnya dan berusaha tersenyum saat wanita yang bernama Savana tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.
"Savana," ucapnya dengan suara lembut.
"Ve..Verina," sahut Verina gugup.
"Senang rasanya saya berjumpa dengan anda, saya orang Indonesia, asli, hanya sejak kecil saya di sini dengan nenek, sesekali pulang ke Indonesia jika rindu pada papa," ucap Savana sambil sesekali mengusap rambut panjangnya.
"Saya tidak mengira jika anda sangat cantik dan berkelas," ujar Verina menatap takjub pada wanita di depannya bukan karena kecantikannya tapi karena ada wajah Aca di sana.
Berkali-kali Verina dan Razel menghembuskan napas, mencoba menenangkan diri mereka bahwa yang di depan mereka bukan Aca.
"Ah ya saya lupa mengenalkan suami saya pada anda, saya juga bersama mertua dan ipar saya yang baru menikah, hanya sekarang mereka jalan-jalan, jika anda mau, anda akan kami undang makan malam sebelum kami kembali ke Indonesia," ujar Verina menawarkan dan Savana mengangguk antusias.
"Mau, saya mau, sayaaaa, saya sangat ingin seperti itu, tapi apa daya, keluarga saya semuanya sibuk, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri sejak kecil," sahut Savana terlihat sedih meski berusaha tersenyum.
"Terima kasih anda telah mau bekerja sama dengan perusahaan kami, saya berharap jika suatu saat anda ke Indonesia mampir ke rumah atau kantor kami, semoga kita bertemu dalam kerja sama yang lebih hangat lagi," ujar Verina dan pembicaraan mereka terhenti saat Savana menerima telpon, sambil meminta maaf Savana mengangkat telpon, berbicara memelas lalu segera menutup telpon.
"Mohon maaf, ternyata saya ada janji yang saya lupakan, jangan lupa undang saya makan malam dengan keluarga anda, ini kartu nama saya," ujar Savana bangkit dari duduknya dan memeluk Verina, namun Verina sedikit menahannya saat meminta berfoto dengan Savana dan Razel yang mengambil gambar mereka.
"Panggil saya, Savana, saya yakin usia kita tak jauh berbeda," ujar Savana setelah mereka berfoto.
Savana melambaikan tangan dan meninggalkan keduanya yang kembali terhenyak duduk sambil menghela napas berat.
"Sayang, ini nggak mungkin, nggak mungkin, sekalipun ada yang mirip dengan wajah seseorang sampai identik kayak gitu," Razel masih geleng-gelang kepala dan memandang Verina yang juga bingung.
****
Malam telah tiba, lepas maghrib mereka menelpon mama, ternyata mereka sedang menuju jalan Alor, akan menikmati makan malam di sana, sea food yang menjadi pilihan mereka.
"Ok ma, Razel dengan Verina menuju ke sana juga, nanti akan Razel telpon lagi jika sudah sampai," Razel menutup ponselnya.
****
Berenam mereka kembali menikmati makan malam, namun entah mengapa tiap melihat Aca Razel dan Verina kembali mengingat Savana, wajah mereka benar-benar bak pinang di belah dua.
"Kalian kenapa sih, dari tadi bengong aja?" tanya Fariq.
"Capek Riq, ternyata aku baru tahu kerjaan istriku meski banyak melibatkan orang kreatif, cantik dan tampan, haduh, capek ternyataaaa," sahut Razel mencoba memberikan alasan.
Ponsel Verina tiba-tiba berbunyi dan ia melihat panggilan tak dikenal, namun ia terima..
Ah Savana, saya dan keluarga ada di jalan Alor, ini kami sedang makan...ok saya tunggu..oh tidak apa-apa silakan jika anda bersama teman anda juga, iya ok, ok saya tunggu....
"Savana akan ke sini ya sayang?" tanya Razel. Verina mengangguk dan melihat semua yang ada di meja itu.
"Tidak apa-apa ya, jika rekan bisnis saya bergabung? " tanya Verina.
"Nggak papa, itung-itung nambah saudara," ujar mama yang masih asik menikmati seafood kesukaannya.
Setengah jam kemudian kembali ponsel Verina kembali berbunyi dan ia memberikan arahan dimana posisinya.
****
"Hai Verinaaa..."
Suara teriakan membuat mereka menoleh dan kaget....
Fariq tercekat melihat ada wajah yang sama dengan wajah istrinya dan laki-laki yang sangat ia kenal berdiri di samping wanita itu.
"An..Andraaaa...."
Aca menatap wanita cantik di depannya dengan tatapan nanar, seolah kembali berputar mimpi pertemuan dengan bapaknya yang mengatakan ia punya saudara...
Bapak, apakah ini maksud bapak...
Tangan Fariq menggenggam tangan istrinya yang menjadi dingin.
****