"Riq, kamu dari mana saja, Aca dan mama kawatir," Razel menunggunya di ruang tamu, Fariq agak kaget, saat larut malam ia baru menapakkan kakinya di rumah besar itu. Fariq menghentikan langkahnya, menatap wajah cemas kakaknya. "Kakak tidak perlu bertanya, aku tahu kakak menyuruh orang mengikuti pergerakanku seharian, aku sudah nelpon Aca dan mama barusan, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan, dan.... jangan kawatir aku bukan spikopat, aku bukan orang berhati dingin dan menikmati saat seseorang kesakitan, aku hanya ingin ia tahu bagaimana Aca menahan sakit teramat sangat, dan ketakutan yang sampai terbawa mimpi, jangan kawatir kak, aku akan segera menyerahkannya pada yang berwajib, aku hanya ingin melengkapi bukti-bukti dulu, dan katakan pada kak Verina, aku tidak akan berbuat j

