Aca terbangun, membuka matanya, merasakan kantong kemihnya penuh, namun ia merasa kasihan jika harus membangunkan Fariq, suaminya terlihat sangat nyenyak, namun apa daya ia belum boleh beranjak dari kasur, kalaupun boleh ia harus digendong menuju kamar mandi. Namun sesaat tanpa sengaja ia melihat hal baru di kamarnya yang sangat luas. Ada lemari berwarna coklat khas kayu, yang isinya dapat terlihat jelas, jejeran buku yang menarik perhatiannya, juga terlihat kursi yang mempunyai sandaran kepala nyaman serta tempat kaki untuk berselonjor, pemandangan manis di pojok kamar mereka yang nyaman. Mata Aca jadi berkaca-kaca, secepat itu Fariq memenuhi keinginannya. Aca jadi terisak perlahan, ia merasa tadi malam Fariq hanya bergurau jika akan memenuhi keinginannya, ternyata ia memenuhi janjiny

