Berempat mereka menikmati makan malam, suasana yang nyaman membuat keempatnya benar-benar betah, apa lagi mereka sengaja mencari tempat di pojok. Mereka tidak benar-benar duduk berempat dalam satu meja, mereka menggunakan dua meja terpisah. Agak jauh namun mereka bisa saling melihat. "Ada apa ya sayang kok, Savana kayak sedih, dari tadi aku lihat Andra memegang tangannya lalu mengusapnya dan Savana hanya geleng-geleng kepala," tanya Fariq sambil sesekali melirik Andra dan Savana. "Iya, aku melihat mata Savana yang berkaca-kaca, apa sulitnya ya menerima Andra, dia laki-laki yang bertanggung jawab, kan katamu Andra ingin segera menikahi Savana karena ingin bertanggung jawab atas perbuatannya," mata Aca menatap saudara kembarnya yang terlihat sendu. Aca kaget saat tiba-tiba tangannya

