CHAPTER 19

1189 Kata
Maisie memutar mutar telephone genggamnya berkali kali di atas meja. Siaran televisi yang entah menyajikan acara apa sama sekali tak menarik perhatiannya. Sesekali ia melirik ke belakang, berharap Darren akan melihat dan menghampirinya. Namun pria itu tengah sibuk dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya dan laptp yang berada di hadapannya. Darren  berada di ruangan samping kamarnya dengan keadaan pintu yang terbuka hingga Maisie masih bisa melihat kesibukan pria itu. Berkali kali Maisie menghela nafas, bosan, tak ada yang bisa di lakukannya sementara sang kakak sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya yang katanya akan dikumpulkan besok. "Kak..." "Hmmmm..." "Kak..." Maisie merengek manja Darren meletakan kacamatanya di atas meja, ia tersenyum dari jauh memandang adik kecilnya yang jenuh menunggu tanpa melakukan apapun. "Ada apa?"  Maisie beranjak dari duduknya lalu menghampiri Darren yang berada di ruang belajarnya. "Kita gak kemana mana?" tanyanya dengan nada manja. "Tugas kakak belum selesai Mai...emang mau kemana lagi sih? Kan kemarin udah jalan jalan, udah belanja juga..." "Ehm...masa weekend di rumah aja..." Darren menarik tangan Maisie hingga gadis itu jatuh di pangkuannya. "Tunggu kakak selesai dulu ya...sebentar lagi..."dengan nada halus Darren berbicara dengan Maisie seolah gadis itu adalah anak TK yang perlu di beri pengertian. Maisie merangkul leher Darren dan melumat bibir pria itu sesaat, wajah Darren memerah dengan aksi tiba tiba adik kecilnya itu. "Oke bos" Maisie beranjak dari pangkuan Darren kemudian duduk manis kembali di depan televisi. "Dasar gadis nakal..."gumamnya sambil tersenyum. *** "Apa tidak aneh memakai pakaian seperti ini?" kembali Darren memegang sweater warna pink yang ia kenakan kembaran dengan Maisie saat mereka turun dari mobil. "Banyak pasangan yang memakainya juga kak..." "Aku merasa seperti anak anak alay." "Kalau tidak suka lepaskan saja!" Maisie membuang muka kemudian melangkah pergi meninggalkan Darren yang masih berdiri di samping mobilnya. Darren langsung berlari menghampiri gadis nya yang sudah ngambek, dirangkulnya pundak gadis itu dengan erat dan berbisik di telinganya. "Aku akan melepaskan pakaian ini, tapi bukan di tempat umum seperti ini. Bagaimana kalau kita kembali ke apartemen saja?" godanya Maisie mencubit gemas perut Darren, bukannya kesakitan pria itu malah tertawa dan mengecup pipi adik kecilnya. "Darren..."  Darren dan Maisie menoleh kebelakang, melihat seseorang yang memanggil nama Darren. Pria itu langsung membulatkan matanya, serasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jantungnya tiba tiba berdebar dengan kencang hingga tak terasa ia melepaskan rangkulan tangannya di pundak Maisie. Maisie menatap wajah kakaknya dengan bingung, mamang nya siapa dua orang di depannya ini hingga membuat Darren terdiam terpaku seperti melihat hantu? "Tak disangka bisa bertemu kau disini?" Wanita berambut pendek dengan potongan bob yang memanggil Darren tersenyum sambil mengulurkan tangannya mengajak Darren bersalaman. Namun yang menjadi pusat perhatian Darren adalah gadis berambut panjang dengan tubuh sexy yang berada berdiri disampingnya. Gadis berambut panjang itupun tersenyum pada Darren , dan senyum manisnya membuatnya hati Maisie nerasa sedikit cemburu. "Hai Darren, lama tidak bertemu. Apa kabar?" "Baik" terdengar dingin dan datar Maisie mengalihkan pandangannya pada Darren yang terlihat kaku dan tegang, ia menyelipkan jari jari tangannya di sela jemari Darren yang besar. "Kak..." bisiknya pelan, memecah lamunan Darren. "Gadis cantik ini..." gadis berambut panjang beralih memandang Maisie dan mengulurkan tangannya sembari tersenyum, Maisie menyambut uluran tangan gadis itu. "Maisie..." "Adellia" Deg...jantung Maisie seperti berhenti berdetak. Dipandanginya gadis yang bernama Adellia itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, bahkan Maisie sebagai sesama wanita pun mengagumi sosok Adellia, apalagi Darren kakaknya? Sementara gadis berambut bob yang berada di sebelah Adellia ikut menyalami Maisie, membuat gadis itu tersadar dari rasa terpukaunya terhadap Adellia. "Rossa" "Maisie" "Maaf, kami sedang ada acara. Permisi." Darren buru buru menarik tangan Maisie, membuat gadis itu terseret sambil berjalan dan mereka pun meninggalkan Adellia dan Rossa di basement. "Pacar baru Darren? Anak kecil kah?" Hanya dibalas senyuman oleh Adellia. "Lebih serasi saat denganmu Del..." "Ayo pergi" Sepanjang jalan masuk Mall, Darren hanya diam. Pikirannya melayang entah kemana, ia tak menyangka akan dipertemukan kembali dengan Adellia dalam situasi dan kondisi seperti ini. Adellia, cinta pertamanya, orang yang pernah lama singgah dihatinya. Namun sekarang ia tak sendiri, ada Maisie yang kini sering bersamanya, menemani hari harinya, membuat hatinya selalu bahagia dengan kepolosan dan keceriaan yang selalu dihadirkan gadis itu. Untuk apa Adellia harus kembali hadir di hidupnya? Lebih baik gadis itu tetap diluar negeri seperti dulu, jangan pernah kembali atau bahkan muncul lagi di kehidupannya. "Gadis tadi...Adellia yang dulu kak Darren suka kan?" Pertanyaan Maisie memecah lamunannya. "Hmmmm..? Kenapa Mai?" "Kak Darren masih mencintainya?" Darren menghentikan langkahnya, melepaskan genggaman tangan Maisie dan kembali merangkul gadis itu. "Kita makan dulu bagaimana?" Maisie mengangguk, kalau bicara soal makanan ia bisa melupakan segalanya. "Aku ingin seafood kak..." "Baiklah...kita ke restorant seafood." Maisie memilih milih menu makanan sementara Darren pamit menuju kamar mandi, ia ingin membasuh mukanya untuk menenangkan pikirannya. Sekembalinya dari kamar mandi Darren terkejut, di meja sudah tersedia beraneka makanan hampir satu meja penuh, tentunya dengan wajah Maisie yang tersenyum manis memandangnya. "Apa kau yang memesan semuanya?" Maisie hanya mengangguk, Darren menarik kursinya dan duduk di samping Maisie masih dengan tatapan bingung. Maisie tertawa melihat tingkah Darren. "Kenapa kak?" "Kau yakin akan menghabiskannya?" "Tentu tidak" "Lalu kenapa memesan sebanyak ini?" "Ada kak Darren..." "Aku? " Maisie mengangguk "Yang menghabiskan semua ini?" gadis itu kembali mengangguk sambil mengulum senyum. Darren menggelengkan kepalanya berkali kali, merasa tidak kuat melihat banyaknya makanan. "Kakak harus menyiapkan tenaga kakak...Aku menunggu,,," bisiknya membuat Darren membulatkan matanya dan merona. Mereka mulai menyantap makanan yang terhidang di meja, sambil ngobrol dan melupaka kejadian di basement saat bertemu dengan Adellia. Maisie tertawa saat melihat pipi Darren yang menggelembung akibat ulahnya yang terus menyuapkan makanan kemulut pria itu walau sudah penuh. "Aku telan dulu yang ini..." ucapnya sambil memonyongkan bibirnya. Maisie kembali tertawa, sukses mengerjai Darren. Ting ting... Telephone genggam Maisie berbunyi, gadis itu dengan tangan kirinya mengangkat panggilan yang ternyata dari mamanya. "Hallo Mai.." "Iya ma" "Sama Darren gak?" "Lagi makan sama kakak di mall." "Nanti malam kalian pulang kerumah ya...ada yang papi mau bicarakan.' "Oke ma..Siap." "Kamu jangan rewel ya...jangan buat kakak mu itu kesal" "Siap bos." Maisie tersenyum sambil menutup panggilannya. Lagi lagi mamanya berpesan agar ia tidak rewel karena takut kakaknya itu akan marah. Padahal kak Darren tak segalak seperti yang mamanya bayangkan. Memang dulu Darren adalah pria yang cuek dan dingin, namun sekarang pria pujaan Maisie ini adalah pria hangat yang romantis. Darren yang kaku telah berubah. "Kenapa senyum senyum sendiri? Sudah mulai gila ya?" "Jam ganjil kak" "Jam ganjil?" "Nyawaku belum penuh kalau jam ganjil, makanya suka ketawa ketawa sendiri." Darren mencibirkan bibirnya, ia mendengarkan dengan serius penjelasan Maisie namun ternyata gadis itu hanya mengajaknya bercanda. "Papi nyuruh kita pulang, katanya ada yang mau di bicarakan." "Owh..." "Cuma owh?"ditatapnya kesal wajah kakaknya yang dingin seperti es balok itu. "Apa aku harus berekasi berjingkarakan atau bernyanyi syahduatau gimana?" "Kakak emang es balok." "Es balok katamu?" "Iya, dingin." Maisie memasukan beberapa potong cumi bakar langsung kemulutnya tanpa melihat ke arah Darren yang terus menatapnya. "Buka es balok, tapi es krim, lembut tapi dingin" Maisie langsung tersedak mendengar bisikan Darren di telinganya dengan suara paraunya yang sexy, membuat bulu kuduknya meremang. Darren tertawa melihat reaksi Maisie, di sodorkannya segelas air putih dan langsung di teguk oleh Maisie. "Imutnya..."bisik Darren dalam hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN