Selesai makan Darren dan Maisie memutari pusat perbelanjaan, lebih tepatnya Darren yang mengikuti kemana arah gadis itu ingin melangkah.
"Belum capek?"
Maisie hanya menggelengkan kepalanya, matanya sibuk jelalatan kalau kalau ada yang ia inginkan.
Darren tersenyum memandang tingkah Maisie yang memang selalu menggemaskan dimatanya, biasanya ia sangat bosan apabila teman temannya mengajaknya nongkrong di mall atau sekedar duduk di cafe.
Ia lebih tertarik untuk ke gelanggang olah raga atau berkutat di depan laptopnya.
Namun beberapa kali ia merasakan kesenangan yang berbeda saat bersama Maisie, gadis kecil itu benar benar merubah pandangannya tentang dunia.
Darren menggenggam tangan Maisie, serasa takut kehilamgan padahal jarak mereka begitu dekat.
"Kak..."
"Hmmm"
"Boleh minta belikan sesuatu lagi?"
Darren tersenyum, ini salah satu sikap manja Maisie yang paling ia suka.
Darren merasa sebagai seorang kakak yang ingin memberikan apapun yang adiknya inginkan.
"Apapun itu."
Maisie menunjuk sebuah shoes store dan menarik tangan Darren agar ikut masuk kedalam.
"Yang itu kak...Couple." kembali Maisie memasang wajah sok manisnya di hadapan Darren.
Pria itu mendengus, sweater pink couple yang menurutnya sudah cukup alay saja sudah membuat wajahnyamerah padam sejak mereka masuk ke pusat perbelanjaan ini.
Bagaimana tidak?
Warna pink yang mencolok membuat hampir seluruh pasang mata memandang mereka lalu tersenyum sambil berbisik.
Lalu ini?
Haruskah ia membelikannya juga?
Ini bukan masalah harga, bagi Darren bahkan seluruh Mall inipun mampu ia beli.
Jangan lupakan keluarga Hartono yang kaya raya itu.
Diliriknya wajah Maisie yang berbunga bunga berharap Darren mengiyakan keinginannya.
"Baiklah."
Kembali Darren menghela nafas, ia tak bisa menolak permintaan gadis manis di sampingnya itu.
"Terimakasih ka." sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Darren.
Bukan yang pertama tentunya, bahkan seluruh tubuh Maisie pun ia sudah melihatnya.
Namun ini di tempat umum,
Pipi Darren sukses merona, antara malu dan senang bercampur aduk.
Maisie menunjukan ukuran sepatumya dan Darren pada pramuniaga, tak lama datanglah dua pasang sepatu putih telah dibungkus rapi dan diberikan ke tangan Maisie.
"Ada lagi?"
"Cukup hari ini kak."
"Kita pulang"
Darren kembali menggenggam tangan Maisie, apapunitu asal gadis disampingnya bahagia, ia juga merasa bahagia.
"Papi menyuruh kita pulang malam ini kak. Katanya ada yang ingin disampaikan."
"Hmmm..."
Darren fokus pada kemudi mobilnya, semabri senyum senyum sendiri melihat adiknya yang bahagia mendapatkan sepatu baru yang harganya tak seberapa itu.
Mungkin bagi Maisie bukan harga masalahnya, tapi bisa couplean dan mendapatkan sesuatu dari Darren adalah sesuatu yang spesial baginya.
"Apa kau sudah memikirkan akan kuliah dimana Mai?" Tanya Darren memecah keheningan, membuyarkan lamunan Maisie yang sedang berbunga bungan sedari tadi.
"Eh...? Entahlah kak. Aku belum memikirkannya."
"Carilah jurusan yang kau minati. Pasti kau akan merasakan kalau belajar bukanlah beban."
Maisie mengangguk, Darren memang benar.
Sedari dulu baginya belajar adalah beban, mungkin karena otaknya yang memang pas pasan.
Namun sebenarnya Maisie bukanlah murid yang bodoh, hanya saja memang ia tak suka belajar.
"Kakak kuliah jurusan apa"
"Bisnis dan menejemen."
"Apa kakak menyukainya?"
Darren tersenyum, kemudian menghela nafas sesaat.
"Sebenarnya tidak, tapi lama lama suka."
"Kok begitu? Gak suka tapi diambil? Lalu suka. Bingung."
Darren melirik sesaat gadis yang dudk disamping jok kemudinya, ia tersenyum, sembari masih fokus mengemudi Darren membelai rambut panjang Maisie dengan tangan kirinya.
"Dulu aku sama sekali tidak tertarik untuk mengambil jurusan itu. Aku lebih tertarik untuk masuk jurusan kedokteran. Namun papi memintaku untuk meneruskan perusahaannya. Jadi mau tidak mau aku harus merelakan cita citaku menjadi dokter dan masuk kuliah sesuai keinginan papi."
"Kakak tidak menolak?"
"Awalnya aku menolak, tapi papi bilang perusahaan bukan hanya milik kita, ribuan karyawan menggantungkan hidupnya disini. Jadi papi tidak akan membiarkan pabriknya tutup hanya karena putra semata wayangnya tak mau meneruskan usahanya."
"Owh..."
Maisie hanya ber owh ria karena ia sedikit bingung dengan penjelasan Darren yang berputar putar.
"Sebenarnya tujuan utamaku menjadi dokter tentunya untuk menyelamatkan orang, tapi tetap menjalankan bisnis papi agar tetap stabil tentunya juga sama untuk menyelamatkan orang dari pengangguran kan?"
Maisie tertawa, akhirnya ia faham maksud ucapan Darren.
"Kau tertawa? Ada yang lucu?"
"Bukan kakak yang lucu, hanya saja aku menertawakan diriku sendiri yang baru faham maksud ucapan kakak yang panjang itu."
"Jadi..."
"Jadi apa kak?"
"Sudah kau putuskan mau ambil kuliah jurusan apa?"
"Sebenarnya aku sedikit tertarik pada dunia mode semenjak mama buka butik ka, hanya saja aku masih ragu apakah aku cocok terjun kedua itu?"
"Kenapa tidak kau coba saja? Siapa tau kau tertarik. Seperti aku."
"Akan aku pikirkan kak."
"Ayo kita turun." Maisie memutar pandangannya, pembicaraan santai yang ia lakukan dengan Darren membuatnya lupa kalau mereka telah tiba di kediaman keluarga Hartono.
"Kalian sudah datang." mama Maria menyambut putra dan putrinya dengan gembira.
Dipelukanya Maisie erat padahal gadis itu baru pergi satu hari yang lalu menginap di apartemen Darren.
"Apa Maisie rewel Darren?"
"Iya ma...dia menganggu Darren terus hingga Darren tak bisa fokus mengerjakan tugas kuliah." jawaban Darren yang bagi Maisie ambigu membuat gadis itu memonyongkan bibirnya.
"Benar begitu Mai?" Darren tertawa puas
"Bohong ma...Kak Darren iiihhh..." Maisie berlari menghampiri kakaknya dan ingin mencubitnya kesal karena tuduhan yang menyebalkan itu.
"Sudah sudah ...kalian ini udah gedhe juga..."
Mama Maria memandang aneh pada pakaian yang dikenakan putra dan putri mereka, sweater couple berwarna pink, terlihat mencolok untuk dikenakan kakak beradik.
"Kenapa pakaian kalian..."
"Maisie yang minta ma. Padahal Darren udah nolak, kaya anak kecil aja pakai baju pink." Darren memotong ucapan mama Maria, ia seperti menangkap kecurigaan wanita paruh baya itu.
"Kak Darren cantik ya ma.?" Maisie gantian menggoda, mama Maria tersenyum, ternyata Maisie niat sekali mengerjai Darren.
"Papi mana ma?" Darren melihat sekeliling mencari keberadaan papi Dimas yang katanya menunggu mereka.
"Ada di ruang kerjanya, ayo kita masuk kedalam."
Mama Maria membawa kedua putra dan putrinya masuk kedalam ruang kerja suaminya.
"Sudah datang ternyata."
Darren, Maisie dan mama Maria duduk berdampingan di sofa besar di ruang kerja papi Dimas.
"Ada apa pi?"
"Kalian sudah makan?"
"Udah makan siang tadi pi di mall sama kak Darren. Kalau makan malam sih belum." celoteh Maisie
Papi Dimas tersenyum memandamg putrinya yang walau sudah bisa dikatakan dewasa tapi masih bertingkah manja seperti anak kecil.
"Kita bicara dulu pi, baru makan malam." sela Darren
"Baiklah, papi hanya ingin meminta waktu kalian sebentar, minggu depan kan ulang tahun perusahaan, tolong sempatkan untuk datang karena papi ingin memperkenalkan keluarga baru kita pada seluruh kolega papi."
Deg...jantung Maisie seolah terhenti, ucapan papi Dimas yang biasa namun menohok di hati Maisie.
Disatu sisi ia senang mendapatkan pai baru yang begitu menyayanginya dan mamanya, namun disisi lain ia tersadar bahwa pria yang disampingnya yang mulai sedari dulu ia kagumi dan cintai adalah kakak tirinya.
Bagaimanapun mereka adalah keluarga.
"Darren dan Maisie akan datang pi." dangan wajah datar seperti biasa Darren menjawab, namun tidak dengan Maisie, tubuhnya bergetar, ia menyadari posisinya di keluarga ini.
"Bagus kalau begitu. Kalian kemablilah ke kamar masing masing, ganti pakaian lalu kita makan malam bersama."
Darren dan Maisie mengangguk bersamaan kemudian pamit ke kamar masing masing.
Maisie berjalan dengan langkah gontai, masuk kedalam kamarnya.
***