"Pagi ma..."
"Pagi juga sayang...Gak kesiangan lagi?"
"Gak ma...Masa kesiangan mulu..."
Maisie menarik kursi di ruang makan, kemudian duduk berhadapan dengan Darren yang sedang fokus pada piring berisi nasi goreng di hadapannya.
Sama sekali tak ada pembicaraan diantara mereka, Maisie tak ingin suasana paginya di awali dengan melihat tingkah kakak tirinya yang dingin dan ketus itu.
"Sarapan dulu sayang..."mama Maria memberikan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi pada Maisie.
Diam diam Darren melirik Maisie kemudian fokus kembali pada makanannya, lirikan Darren tertangkap mata oleh Maisie, namun Darren kembali melihat ke arah Maisie dengan tatapan agak kaget dan menahan tawa.
Maisie menangkap ada yang salah pada dirinya.
"Kenapa nahan tawa kak?" Maisie ketus.
Darren menggelengkan kepala dan kembali makan, namun sikap Darren yang aneh membuat mama Maria jadi ikut penasaran.
"Kenapa sayang?" tanyanya pada putrinya
"Itu mah..kak Darren ngetawain Maisie"
"Itu hidung kamu." jawab darren singkat masih menahan tawa
"Sayang...kok kamu pakai plester luka di hidung gede banget gitu sih?" mama Maria menunjuk hidung Maise yang di tutupi plester luka.
"Bangun tidur tiba tiba ada jerawat nongol disini ma...makanya Maisie tutupin ini..."
"Kan bisa di gunting lebih kecil" Darren kembali berbicara
"Biarin...wweeeekkkk"
"Maisie...gak boleh gitu sama kakak kamu..."
Darren tersenyum sesaat, kemudian meletakan serndok dan garpunya di atas piring.
"Saya sudah selesai"
"Owh...berangkat Darren?" dan hanya di balas anggukan oleh yang di tanya.
Mama Maria tersenyum, setidaknya anak tirinya mau sedikit berbicara dengannya dan memperhatikan adiknya.
***
Maisie tersenyum sendiri mengingat sedikit perubahan sikap Darren pada dirinya dan mamanya, setidaknya pria itu tidak sejudes dan sedingin pertama kali bertemu.
Maisie bisa melihat ada kehangatan dan kelembutan di mata Darren di balik sikapnya yang seperti es balok itu.
Dan hari ini pak dimas akhirnya pulang dari urusan bisnisnya di luar negeri.
Sebuah hadian liontin berbentuk bunga di berikannya kepada putri istrinya.
"Ini untuk mama, dan ini untuk Maisie..."
"Makasih ya mas..."
"Makasih papi..." Maisie senang karena walau pak Dima hanya seorang ayah tiri namun kasih sayang dan perhatiannya begitu besar pada Maisie
"Ini untuk kamu Darren..." sebuah sepatu footsal karena tidak mungkin Darren di beri perhiasaan oleh papinya.
"Buat Maisie sepatunya mana pi?" Maisie merengek, merasa cemburu.
Tingkah Maisie yang menurut Darren imut seperti adik kecil, mengalihkan pandangannya yang sedari tadi fokus memainkan handphone nya.
Papi Dimas dan mama Maria tertawa melihat rengekan Maisie.
"Kalau kamu pingin sepatu atau tas, nanti besok papi ambilin di pabrik, papi ambil beberapa pasang biar bisa kamu bagikan ke sahabat kamu juga."
"Beneran pi? Makasih ya pi..."
"Mas...jangan terlalu memanjakan Maisie...Nanti dia bisa tambah manja."
"Gak papa ma...biarin aja..Kalau gak sekarang, kapan lagi papi bisa manjain Maisie. Ya kan Mai?"
"Tuh kan ma..Maisie dapat pembelain dari papi yang super ganteng..."
"Ahh...dapat sogokkan sepatu sih...jadi memuji deh...iya iya..."
Papi Dimas, mama Maria dan maisie tertawa bersama, sementara Darren yang hanya tersenyum kecil menanggapi.
***
Maisie menangis sesenggukan di kamar, mama Maria marah besar karena nilai ulangan tengah semester Maisie yang jeblog dan itu membuat mamanya benar benar murka.
"Udah ma...jangan di marahin terus...kasihan.."papi Dimas merangkul pundak istrinya untuk menenangkan.
"Gimana mama gak emosi mas? Maisie nilainya jatuh. Gimana dia bisa masuk unversitas yang bagus kalau begini? Mas terlalu manjain dia sih...jadi anaknya gak mau belajar..."
"Ya gak seperti itu ma...Bagaimanapun kan Maisie sudah berusaha...Harusnya kita suport dong..."
"Gak tau..mama kesel..."
Papi Dimas hanya menghela nafas mencoba meredakan emosi istrinya yang meluap luap.
Sementara Darren yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Maisie tak berbuat apapun walau dirinya sudah mendengar keributan sedari Maisie pulang sekolah tadi.
Sampai malam pun Maisie masih mengurung dirinya di kamar, aksi mogok makannya tanda protes karena di marahi habis habisan oleh mamanya, tak dihiraukan sama sekali oleh mama Maria.
Benar benar Maisie merasa kesal, sementara perutnya tidak bisa di ajak kompromi.
Terus saja cacing cacing di perutnya bernyanyi minta di isi makan.
Setelah menunggu suasana rumah sepi, Maisie akhirnya diam diam keluar dari kamarnya, mencari sesuatu di dapur yang bisa ia makan untuk mengganjal rasa lapar.
Tiba tiba Maisie tersentak kaget, Darren sedang duduk di ruang makan dengan semangkuk mie besar di hadapannya.
"Kamu lapar?" tawarnya pada Maisie yang masih saja terpaku melihatnya.
Maisie mengangguk kemudian berjalan menghampiri Darren dan duduk disampingnya.
"Boleh minta kak?"
"Ini makanlah kalau mau" Darren memberikan semangkuk mie yang sama sekali belum di santapnya itu.
Langsung saja di raihnya makanan yang di berikan Darren dengan lahapnya.
"Pelan pelan saja"Darren mengulurkan segelas air putih pada Maisie.
"Kamu baik baik saja?" pertanyaan Darren membuat Maisie menghentikan kegiatan makannya lalu melihat ke arah Darren.
"Kakak denger Maisie di omelin mama ya?"matanya berkaca kaca, ada perasaan malu dalam hati Maisie
Darren hanya mengangguk, membuat Maisie hampir berteriak kalau saja Darren tak membungkam mulut gadis itu dengan tangannya.
"Sssstttt...jangan berisik. Udah malam"
"Kakak pake acara nguping segala....kan Maisie malu"
"Kamar kita bersebelahan kalau kamu lupa. Bahkan kamu turun dari ranjangpun aku dengar."
Maisie mengangguk, kemudian melanjutkan makannya.
"Kalau butuh bantuan, aku bisa ajari."
Tak disangka ucapan singkat Darren membuat Maisie tersentuh, dirinya tak menyangka es balok bisa menawarkan bantuan.
"Beneran kak Darren mau ngajarin Maisie? Aaaa...makasih ya kak..."
Reflek Maisie memeluk pria dingin di sampingnya, membuat Darren salah tingkah dan pipinya memerah.
Maisie tersadar, ia pun melepaskan pelukannya pada Darren, dan pria itupun bangkit dari dfuduknya dengan sikap kaku.
"Aku ke kamar dulu. Habiskan makananmu."
"Makasih ya kak..." Darren berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah maisie yang masih tersenyum kepadanya.
Jantungnya berdetak begitu kencang dan tubuhnya serasa melemas tak bertenaga hanya karena pelukan kecil adik tirinya.
Perasaan sayang pada gadis kecil itu mulai tumbuh, ia seperti terlahir kembali sebagai seorang kakak, perasaan yang telah lama hilang dari hatinya.
Maisie bukanlah gadis yang cantik, namun keceriannya dan sikapnya yang kadang tak terduga membuat Darren merasa mulai menyukai gadis itu.
Disatu sisi Darren merasa sedikit bahagia, ia bisa merasakan kembali rasanya memiliki perasaan menyayangi dan ingin melindungi seseorang.
Namun disisi lain ia juga merasa takut kalau ia harus kehilangan orang yang dia sayang.
***
"Dari Andromeda" sebuah kotak kecil berisi coklat dan sebuah surat di berikan Michelle pada Maisie.
Sesaat Maisie terdiam, ia teringat seseorang yang tak lain adalah tetangga Michele yang sudah lama naksir padanya namun tak dihiraukan sama sekali olehnya.
"Capek aku jadi kurir mulu..."keluh Michelle.
"Sorry...habis aku gak punya perasaan sama sekali sama dia..."
"Gak di jalani dulu Mai?" Thania mencoba menengahi.
"Kalian mau ini? Papi ngasih buat kalian lho..." Maisie mencoba mengalihkan pembicaraan agar Michelle tak lagi kesal padanya.
"Wahhhh..papi kamu yang super kaya itu emang hebat ya..." raut wajah Michelle berubah setelah Maisie mengeluarkan dua kardus sepatu sport berwarna putih dan di berikannya kepada sahabatnya itu.
"Beruntung banget kamu ya Mai...Dapat papi kaya yang sayang banget sadfma kamu, dapat kakak tiri yang super ganteng abis lagi..." puji Thania, maisie mengulum senyum
"Ini berkat mama ku juga yang super cantik..."jawabnya dengan bangga.
Maisie memang merasa benar benar beruntung karena di kelilingi orang orang yang menyayanginya.
***
Sepulang dari sekolah, ternyata pria yang bernama Andromeda sudah menanti tiga gadis itu di samping mobilnya.
Seorang pria tinggi dengan manik mata biru, sangat tampan sebenarnya, namun sama sekali tak menarik perhatian Maisie yang notabene nya tak suka di kejar kejar pria.
"Tuh...akhirnya pangeran keluar juga"
"Waaahhh... bentar lagi ada yang bakalan traktir makan makan nih..." ledek Michelle dan Thania bergantian.
Berharap Maisie mau menerima Andromeda untuk jadi pacarnya.
"Hai kak Meda..." kedua sahabat Maisie menyapa pria itu dengan genitnya.
Andromeda tersenyum, namun kemabli menatap pada gadis yang sudah hampir setengah tahun ini di dekatinya.
"Pulang bareng Mai?"
Maisie menoleh ke arah dua sahabatnya, meminta persetujuan dari mereka, tanpa mengucapkan serpatah katapun.
"Sana Mai..."
"Iya...kita gak papa kok"
"Kalian juga ikut gak papa" tawar Andromeda.
Namun kedua gadis itu mengerti kalau Andromeda hanya basa basi dan ingn berduaan dengan Maisie.
"Gak usah kak...kita naik taxi kok. Udah pesan tadi. Bye Maisie...Kami pergi dulu yaaa...."
Maisie tak bisa menahan kedua sahabatnya yang suka sekali menjodohkannya pada pria yang bernama Andromeda itu.
Dengan langkah gontai, akhirnya Maisie menyetujui untuk diantar pulang oleh Andromeda.
"Kakak gak ngampus?"
"Hari ini lagi gak ada mata kuliah..."
"..."
"Mulai besok aku jemput ya Mai?"
Maisie membulatkan matanya, ia tak bisa berkata kata.
Untuk menolaknya kali ini saja susah, apalagi harus di jemput setiap hari. Membuatnya merasa tidak enak saja.