Duta Gendut

1705 Kata
“Gab, wah elo sih keterlaluan. Mana makanan resto?” Galih menyambut Gabrian di gerbang kotsan. Gabrian melengos, malas. “Heh, annyying!! Bisa-bisanya elo cuekin gue!” Galih menoyor kepala Gabrian. “Haish!!” Gabrian sedang tidak mood bercanda. Gabrian, si mahasiswa tampan jurusan sastra inggris semester enam itu melepas sandal jepit dengan kasar. Galih dan Duta si gembul yang saat itu tengah menggejreng gitar depan kostan saling bertatapan, Duta mengedikkan bahu dan menghisap rokoknya. “Dasar kampret, kenapa enggak binasa aja lo??” seru Galih dari luar sementara yang diajak bicara sudah ngleloyor masuk ke dalam rumah kost yang ukuranya cukup besar itu. “Udeh ah, jangan ngebacot aja! Mending godain si neng anak kang sate noh!” si Duta Gendut melirik ke gadis yang gerobak sate bapaknya mangkal depan gerbang kostan setiap malam. “Ogah, nanti bapaknya nyuruh gue beli!” “Ya tinggal beli!” “Duit darimana, bodoh! Ini aja usus gue lagi mau minggat gegara dari tadi gue belum kasih asupan.” Duta terkekeh, “Usus bisa minggat juga, Lih. Dasar malih!” Galih memegangi perutnya, dia ikutan Gabrian ngeloyor masuk. Siapa tahu mak kost punya stok mie instan rasa mercon di dapurnya. Gabrian duduk malas tak jauh dari meja makan, pandangannya kosong. Bosan sekali hidup tanpa cinta selama dua puluh dua tahun, dan sekarang sekalinya punya cinta malah diembat sama si Papi. “Mo bikin mie enggak?” Galih menyalakan kompor. “Boleh tuh, belum makan gue!” sahut Gabrian tanpa menoleh. “Hari ini gue ampuni lo, besok gue mampusin!” gerutunya karena dia sudah menahan lapar karena dijanjikan makanan resto, tapi dia berakhir menjadi koki dadakan. Gabrian menaikan sebelah bibirnya dan kemudian menelungkup di atas meja makan setelah menggeser kursi plastiknya. Dua buah mangkok mie instan tersaji, asap panas mengepul dari kedua benda bulat cekung itu. Gabrian menyambar sebuah mangkok yang ada di depan wajahnya. Mengaduknya dengan rasa curiga dan melirik Galih. “Lo ludahin ya?” selidiknya. “Het, gue rebus juga mulut lo!” omel Galih. “Udah dibuatin malah suudzhon, bilang makasih kek, apa kek!” tambahnya kemudian larut dalam kelezatan makanan wajib anak kost itu. Gabrian mendengus, biasanya mereka akan bertengar mulut tanpa kenal waktu, tapi kali ini dia sedang tidak mood. Gabrian menyeruput mie itu, keningnya mengkerut. Dia sekarang menyendok kuah mienya. “Vangsattttt!!! asrep!” umpatnya. Galih tersedak dan terbahak-bahak sampai airmatanya keluar. “Jan main-main lu, enggak gue bikinin contekan tau rasa!” “Haha, sorry Gab. Habis di dalemnya emang enggak ada bumbunya, hahahaa..” Gabrian merebut mie milik Galih dan melahapnya tanpa permisi. Galih menyilangkan kedua lengannya. “Pertumbuhan sel otak lo bagus ya Gab, terpana gue! Pertumbuhan g****k elo berkembang pesat!” gerutunya. “Udah koar-koar beliin makanan restoran bintang-bintangan, malah jadi ngembat makanan gue!” “Bodo amat, brisik!” Gabrian tak peduli, dia menghabiskan seluruh isi mangkok bahkan air kuahnya sampai kering kerontang. Galih berdecak, rasa lapar dia sudah menguap. Tak lama, Mak kost datang membawa sekotak nasi berkat. Meletakannya di depan mereka. “Apaan nih?” tanya Galih. Gabrian sibuk menjilati mangkok, tidak memperhatikan kotak kardus itu. “Berkat dari acara syukuran kawinan.” “Ada yang punya?” tanya Galih ngiler. “Ya gue!” “Boleh buat Galih?” “Boleh aja, tapi abisin biar enggak mubajir!” “Asoy dahh, mak kost emang terbaeeekk!!!” “boboboi dong gue!” mak kost berlalu pergi dari dapur yang merangkap ruang makan itu. “Rejeki emang tahu jalan pulang, ya Gab?” Galih mengolok-olok kawannya. Yang di ledek mendengus dan pergi setelah mencuci mangkok bekasnya makan. *** Pagi itu, ponsel Gabrian yang tengah di charge bergetar, sebuah pesan masuk dari sang Papi. Tapi, Gabrian terlalu malas untuk sekedar membuka pesan lewat aplikasi itu. Dia mencabut charger dan bersiap berangkat ke kampus. Dia dan dua sohib kentalnya itu berangkat menaiki sebuah motor matic ramping milik di Gendut Duta, tidak perlu heran dengan trio ‘Gabut ih’ yang sudah terkenal seantero kampus, kemana-kemana selalu bertiga. Makan, masuk kelas, ke toilet, bahkan biasanya mereka iseng ngobrol saat pipis sambil saling tengok dan beradu mulut menyombongan alat perang masing-masing. Gabut ih, Gabrian Duta dan Galih. Cukup garing untuk dibahas, tapi satu-satunya yang cukup menonjol dari trio itu adalah si kepala suku alias Si-paling makmur di antara mereka, Si-paling banyak duit, Si-paling tampan seantero kampus. Si-apa lagi kalau bukan Gabrian Kaisar Wijaya. “Motor elo kapan kelarnya sih?” omel Duta si Gendut yang terjepit diantara dua batang kedondong, maksudnya dua perjaka. Gabrian malas menjawab, dia duduk paling belakang. Sumpah demi apapun, dia hanya duduk di ujung besi jok matic kecil itu. Dia harus siap kejengkang kalau Galih melewati polisi tidur dan motor terguncang. “Bawa motor yang bener Malih!” kini Duta melampiaskan kemarahannya pada Galih yang hampir menyerempet gerobak bubur milik Bang Mi’un yang sampai sekarang belum naik haji, so sad. “Bawel banget Gendut! Elo pikir gampang boncengin dua beban, satunya beban lemak satu lagi beban dosa!” balas Galih sengit. “Vangke! Kenapa gue dibawa-bawa!” tukas Gabrian yang kini menyengkram erat pundak si Gendut. “Jangan teken pundak gue! Engap gue njjing!” Duta menggoyangkan bahunya. “Ya terus gimana? Nanti gue nyusruk mampus!” “Pegangan pinggang aja!” Gabrian menatap bagian belakang tubuh Duta yang terlampau mepet dengannya. “Pinggang lo yang mana begok??!!” “Anjj..” Duta kesal setengah mati. “Dari bawah sampe atas sama semua! kaga ada lekukannya pisan!” “Sialan, turun aja lo Gab!” Duta mengerucutkan bibir. Galih tertawa terbahak-bahak dan motor itu menghantam polisi tidur dengan kerasnya. “Bangke!!! Bangke!!!” Gabrian hampir saja kejengkang, sontak dia pegangan pada kepala duta yang kemudian mengaduh keras. *** Di kampus, satu kelas jurusan sastra tengah asyik mengulas materi yang akan dijadikan ujian tengah semester yang akan datang tiga pekan lagi. “Gab, elo di panggil Pak Badrun!” suara seorang gadis tomboy bernama Zia dari arah pintu. Gabrian yang sejak tadi menaikan kaki ke atas meja, menaikan alisnya. “Ada apaan?” tanyanya yang merasa hari ini tak punya salah apa-apa. Zia mengedikkan bahu. “Haish!! Males banget!” Gabrian beranjak, memasukan celana ke dalam saku tangannya. Maksudnya memasukan tangan ke saku celananya. Seorang mahasiswi yang berpapasan dengannya tersenyum tersipu dan berlari menjauh. “Kenapa neng? Gila?” Gabrian si cuek itu menyusuri lorong menuju ruang dosen yang ada di ujung sana. “Tokk!! Tok!!!” gabrian membuk pintu. “Pak Drun, panggil saya?” Gabrian mengunyah permen karet yang sudah tak berperisa. “Buang dulu isi mulutmu!” tegur Pak Badrun. “Hah?” “Permen mu ituloh!” “Ah, iya-iya..” Gabrian mengambil permen lengket itu dan menempelkannya di pintu. Untung saja Pak Badrun enggak lihat. Gabrian mendekati meja Dosennya. “Nah, Gab. Tadi Papi kamu menghubungi saya.” Gabrian ketar-ketir, apa lagi kali ini? Dia sudah sering bermasalah dan melibatkan sang Papi. Gabrian tak bicara apa-apa, menunggu Pak Badrun selesai bicara. “Katanya dia titip keponakan Papi kamu.” Gabrian mengernyitkan kening. “Nitip keponakan? Enggak ah memang aku panti asuhan!” Seorang Gadis berjilbab yang duduk di depan Pak Badrun itu masih tetap duduk disana, mendengarkan pembicaraan mereka. Gabrian berdiri dibelakangnya. “Eh, ini amanah Papi kamu! Kamu Cuma ditugasin buat temenin dia liat-liat kampus, dia pindah kuliah hari ini.” “Hah? Mana dia?” “Lho ini..” Pak Badrun menunjuk hidung gadis tadi. Yang ditunjuk itu menoleh dan mengulas senyum manis. “Lho, Jel-Jel..” Gabrian mundur selangkah. “Jelita!” serunya. “Nah, benar ternyata kalau dia ini masih kerabat kamu.” Ujar Pak Badrun. “Hah? Keponakan Papi?” lirih Gabrian, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak berkutu. “Hai, Gab!” sapa Jelita tanpa dosa. Wajah Gabrian memerah, entah kenapa jantungnya selalu berdegup kencang jika berada di dekatnya. Dan itu sungguh menyiksanya. ‘Tapi, kemarin Papi enggak bilang apa-apa. Malah bilang kalau Jelita mau cuti kuliah, kenapa jadi pindah kesini?’ batin Gabrian heran. “Beliau bilang sudah mengirimi kamu pesan.” Seolah mendengar suara hati Gabrian, Pak Badrun berujar. “Ah? I-iya.” Gabrian memang tak membaca pesan itu. “Nah, ya sudah, bapak ada kelas! Silahkan ajak Jelita berkeliling kampus!” pak Badrun pergi meninggalkan Gabrian dan Jelita. Gabrian menelan ludah, dia mendadak mati gaya. “Aku panggil kamu apa?” suara Jelita membuat hati Gabrian berdesir. Kenapa dara cantik itu harus jadi calon istri Papi? Kenapa? Masih adakah ready stok satu lagi yang persis seperti dia. Yang akal sehatnya masih bisa terpakai? “Hai!!” Jelita mengibaskan tangan di depan wajah Gabrian. “Ha? Uhm, Gabrian aja.” “Kita pernah ketemu kan? Di taman!” Jelita ingat kejadian kemarin itu. “I-iya bener.” Jelita tersenyum. “Kita belum kenalan secara resmi, aku Jelita. Kita seumuran kan? Jadi enggak usah panggil Mas ya?” “I-iya..” Gabrian jadi salah tingkah. Semakin dilihat, wajah itu semakin mengeluarkan racun berbisa untuknya. Benar-benar seperti menghentikan aliran darahnya detik demi detik. “Ngomong-ngomong kamu ngekost di sini?” tanya Jelita yang rupanya banyak bicara. “Iya, enggak jauh dari kampus.” “Ehm, kalau aku tinggal dirumah Papi kamu.” “Hah?” Jelita tersenyum. ‘Kacau banget si tua bangka itu, belum kawin udah tinggal serumah!’ Gabrian sangat geram. “Papi kamu itu orang baik, kamu pasti bangga!” ujarnya tanpa ditanya. ‘Cih, bangga apanya!’ pikir Gabrian sebal. “Kok diem aja sih? Maaf ya, aku bawel!” Gabrian tersenyum kecut. Dia tak bisa menyiratkan apa yang dia rasa, seandainya saja Jelita bukan milik Papinya, pasti dia akan sangat senang saat ini. Jangankan mengajak Jelita keliling kampus, keliling akhiratpun dia mau. Mereka berjalan beriringan sampai menarik perhatian banyak mahasiswi yang menaruh hati pada Gabrian yang tampan dan sedap dipandang. Mereka sampai di kantin, dan Jelita mengeluh haus. “Woy Gab!” Galih menghampiri mereka yang tengah duduk berdua di kantin. “Wih, siapa nih? Kok cantik! Nyolong dimana lo?” Galih mengedipkan matanya pada Jelita. “Bacot njing, sana ambilin es teh! Tadi gue udah pesen tapi belum di anter juga!” “Gue pesen nasi uduk ya!” “Serah deh!” “Mantap!” Galih menampar pelan pelipis Gabrian. Jelita agak berjengit melihat kelakuan mereka berdua yang absurd dan kekanak-kanakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN