TIGA
Papi masih melingkarkan tanganya di pinggang Jelita. Aku menatap senyum manis Jelita yang amat kurindukan. Kali ini, takkan kubirakan salivaku meleleh di depan Jelita.
“Gabrian, Papi harap kamu bisa menerima. Tentang rencana pernikahan ini,” ujar Papi serius.
“Brian menerima Pi, sangat menerima, dengan senang hati,” Jawabku, bagai kucing yang ditawari pepes ikan paus disaat busung lapar melanda.
“Memang rencana pernikahan ini terkesan mendadak, semoga kamu bisa memahami keadaan ini..”
“Bisa Pi! Tentu aja bisa! Bisa banget!” ujarku mantap.
Papi tersenyum lega, “Syukurlah kalau kamu senang hati menerima Jelita. Rencananya Papi baru akan mengabari Mami kamu besok.”
“Iya Pi, oke, makin cepat makin bagus, kalau perlu sekarang saja Pi! Telepon Mami!” kataku terlonjak bahagia penuh semangat membara.
“Jangan lewat telepon, Papi takut Mami kamu terkejut,” Papi rupanya memikirkan baik-baik semuanya, sungguh Papi terbaik. Entah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan Papi.
Dia seperti Dewa dalam cerita dongeng yang tahu kondisiku saat ini dan membawa Jelita ke hadapanku.
“Ya sudah, terserah Papi aja,” kataku, yang menahan rasa sukacita yang hampir tak terbendung.
Papi mengangguk-angguk dan melakukan kontak mata dengan dara itu, keduanya terssenyum, kalau begitu aku juga harus ikut tersenyum.
“Oh ya, rencananya setelah menikah kami akan berlibur ke Korea. Kebetulan, Jelita sedang mengambil cuti kuliah selama setahun,” lanjut Papi.
Lho, apa? Sebentar! Apa kata Papi tadi?
“Kami?” tanyaku tak paham. Aku menatap Papi dan Jelita secara bergantian.
“Iya, setelah menikah, dua hari kemudian Papi dan Jelita akan berlibur, ya, katakanlah untuk honeymoon,” Papi terkekeh manja dan mengusap pipi ranum Jelita. Gadis itu terdengar berhi-hi-hi pelan seraya tersipu malu.
Ribuan peluru kasat mata memberondong merangsek masuk ke setiap jaringan tubuh. Disaat yang sama, rasanya seperti tersengat kawanan belut listrik. Ada gempa bumi lokal di dalam diri ini. Magtitudonya semakin menguat, seiring kulihat Jelita yang membalas senyum nakal Papi. Aku tertegun, tak sanggup berucap apapun meski banyak kata umpatan berkeliaran dengan buas dalam kepala.
“Papi senang kalau kamu bisa menerima Jelita. Kamu makan sendiri ya, Jelita katanya kurang berselera makan disini. Jadi kami mau ke restoran Korea saja. Gabrian, kamu dengar Papi kan?”
Tatapan kosongku tertuju pada buku menu di atas meja. Aku tak sanggup menaikan daguku sedikitpun. Apa-apaan ini, mimpi bukan sih? Kenapa dunia berasa terbalik! Kepalaku mendadak berdenyut hebat membuat pandanganku kabur.
“Oh ya, ini uang saku bulan depan yang Papi janjikan tadi, sengaja Papi tidak transfer ke rekening Brian, supaya kamu sekali-kali pegang uang tunai banyak,” Tua bangka itu meletakkan sebuah amplop tebal berwarna putih di atas meja. Aku masih tertunduk.
Mereka lalu meninggalkan diriku yang duduk bersama luka hati yang dalam dan dengan harga diri yang tergores di depan gadis cinta pertamaku. Jelitaku.
*
Aku menyambar amplop putih itu hingga buku menu yang ada di sebelahnya terjatuh ke lantai resto yang berwarna cokelat dop itu. Rasanya, jauh lebih baik jika Jelita menolakku karena sendal jepit yang aku pakai ini. Atau karena jaket ojol yang membalut tubuhku ini. Tapi, bukan seperti itu kisah yang baru saja aku mulai ini. Apa ini ilusi? Apa aku masih belum bangun dari tidur siang setelah santapan lezat dari Mak kost tadi? Ini lebih normal jika disebut mimpi!
“Gab! Elo mimpi Gab! Bangun!” lirihku seraya berjalan dengan mata menatap kedua pasang sendal jepit cap got yang aku pakai ini.
Sebuah sepeda motor hampir saja menyerempet, pengemudinya memaki dengan nada kesal. Aku tak peduli, baru kali ini aku setuju dengan cinta pada pandangan pertama, bahwa hal itu ada dan nyata. Tapi, satu detik kemudian, sosok bernama Papi itu merenggut segalanya dariku.
Dia, dara yang hari ini menyelinap di relung hatiku ternyata adalah calon ibu tiriku. Bolehkah aku tetap mencintainya setelah dia menikah dengan Papi?
Papi itu.. hatinya terbuat dari apa? Baru saja dia bercerai dengan Mami tapi sudah ingin mengecap manisnya pucuk daun muda. Benar-benar tak bisa tak disebut biadab. Apa selama ini dia memang gemar bermain-main dengan daun muda? Tapi, apakah Jelita adalah tipe gadis seperti itu? Dia sama sekali tak memberikan kesan buruk. Wajahnya terlalu anggun untuk tipe gadis yang rela melakukan segala hal demi uang. Kecuali, Papi yang mengancam Jelita atau semacamnya.
Setidaknya, aku harus tahu alasan Jelita menikah dengan Papi. Mustahil sekali kalau dia menikah karena alasan cinta. Apalagi Papi baru saja bercerai. Ataukah? Jelita yang meminta Papi menceraikan Mami agar bisa memiliki Papi seutuhnya? Apakah dia sejahat itu? Argh!! Aku sangat frustasi dengan semua ini. Benar-benar aku merasa terhantam benda tumpul kali ini. Hanya merasakan sakit di kepala tanpa bisa mendapatkan solusi terbaik.
“Papi, aku mencintai Jelita!!!” teriakku dari atas jembatan. Beberapa orang yang melintas menoleh ke arahku, berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahku yang nampak seperti gembel yang punya masalah mental.
“Masa bodoh dengan kalian semua!!!” teriakku lagi.
Ponselku berdering.
“Apaan?” aku jawab dengan suara ketus.
“Woy Gab! Mana? Katanya mau take away masakan resto?” suara dari dalam ponsel itu membuatku makin jengkel.
“Bodo amat!” aku meludah dan menutup panggilan telepon. Pasti seisi kostan sedang menggerutui menyumpahi aku, karena aku memang sudah menjanjikan makanan resto untuk makan malam mereka.
“Harus gimana ya? Aku bisa gila kalau sampai lihat Jelita nikah sama Papi, terus masuk kamar pengantin yang tempat tidurnya bertabur kelopak bunga mawar. Arghh!!!!! No!!! Big no!!!” aku meninju-ninju tiang listrik yang sejak tadi hanya diam tak berdosa sama sekali.
“Apa boleh buat! Sepertinya aku dilahirkan untuk menggagalkan rencana pernikahan Papi dan gadis cinta pertamaku.” Senyum getir tersungging di bibir ini.
***
Ah, tapi rencana jahatku itu hanyalah tinggal rencana. Aku yang tak punya nyali ini mana mungkin bisa melawan otoritas Papi yang memang sudah melekat kuat sejak dulu. Bahkan Mami saja, wanita yang pernah membuatnya mabuk kepayang kini sudah tak lagi dianggap keberadaannya. Ya, inilah Gabrian dengan sifat pecundangnya, siap atau tidak, aku harus menghadapi pesta pernikahan Papi yang mungkin tak akan lama lagi.
Tapi tunggu, apa sih yang membuat Jelita begitu menyukai Papi? Kenapa dia bersedia menikahi Papi yang mulutnya bau nikotin itu, bibirnya saja menghitam dan ergh sangat tak menggiurkan untuk dikecup. Argh, sial.. aku sangat frustasi hingga membayangkan Papi berduaan dengan Jelita di malam pertama mereka.
Aku memukuli kepalaku sendiri karena pikiran konyol itu terus saja menari-nari dan mengejekku.
Harusnya aku lompat saja ke saja ke sungai saat itu, dengan begitu Papi bisa benar-benar hidup bahagia bersama Jelita. Oh Jelita, bisakah kamu membelah diri? Menjadi dua, satu untukku, satu untuk si b******k mata keranjang itu. Sial, aku mulai menyebut Papiku b******k.