Tujuh puluh tujuh Semua menanti setiap baris kalimat yang akan terlontar dari bibir gadis berambut hitam itu. Seakan menahan nafas, setiap detik jadi terasa begitu lama. "Jamima tak tahu apakah pantas Jamima mengatakan semua ini di depan semuanya. Tapi, Jamima sudah tak tahan lagi.. Itu sebabnya Jamima meminta Kak Tian agar membawa bapak dan ibu datang ke Jakarta." Mereka masih menanti kisah yang rupanya akan jadi demikian panjang. Jelita sudah hampir menangis, matanya memerah dan wajahnya begitu panas. Dia menahan diri agar tak kembali gemetar dan kemudian pingsan seperti pagi tadi. Siap atau tidak, dia harus terima semua ini. Degup jantung Jelita terdengar berkejaran dengan lava hangat dari matanya yang hampir meluncur keluar. "Jamima minta maaf tapi Jamima harus bicarakan ini pada

