Kekehan Nakal

1193 Kata

Tiga puluh empat Jamima bangun dengan wajah sumringah, tanpa izin atau basa-basi dia berkeliling rumah besar itu. Menyapa Bibi dengan riang seolah dia adalah nona rumah ini, berputar-putar di sekitar tanaman bunga di halaman depan seperti orang kurang waras yang merasa dirinya ada di negeri dongeng yang sangat indah dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. “Ah, matahari bersinar sangat terang. Secerah hatiku saat ini. Bahagia sekali rasanya, aku sekarang benar-benar ada di sini, di rumah mewah impianku.” Ujarnya senang sambil menyentuh kelopak bunga mawar milik Mami Gabrian yang entah dimana rimbanya sekarang. “Awas Neng, itu ada durinya!” Bibi yang sedang menyapu halaman berteriak dari jauh. “Eh, iya Bi. Tenang aja!” jawabnya masih dengan wajah girang bukan kepalang. “Bi, ini belum di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN