Panas dan Berkeringat

1847 Kata

Delapan Puluh Sembilan Pagi itu Jamima bangun dari lelapnya, mengerjapkan mata dan menyapu sekitar. Tapi dia tak menemukan kakaknya di dalam kamar itu. Dia mendengus, mematikan pendingin ruangan karena terlalu dingin. Kembali berbaring dan menyelimuti tubuhnya sambil menerka-nerka kemana gerangan kakaknya, dia pikir Jelita tidak pulang sejak kemarin. Jelita sudah pamit pada Bibi untuk pergi ke kampus sebelum Jamima bangun tidur. Jelita tak ingin baku hantam secara lisan dengan adiknya yang super cerewet itu. Terlebih lagi, Jelita tipe yang akan ketahuan saat bicara tak jujur. Jamima pastilah akan curiga saat mendengar alasan Jelita kenapa kemarin pulang larut sekali. Setibanya di kampus, Jelita sejenak lupa pada urusannya dengan Jamima. Karena pagi ini dia menjumpai pemilik senyum ted

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN