Delapan Puluh Dua "Kamu dulu waktu pulang mabuk itu darimana?" Di meja makan Jelita bertanya hal itu pada adiknya. "Mana pernah aku mabuk? Ngomong-ngomong Mas aku kemana? Kok belum pulang udah malem gini?" "Jangan bahas hal lain dulu, jawab pertanyaan mbak!" "Aku emang ndak pernah mabuk kok. Mau jawab apa?" "Darimana kamu dapat uang sebanyak itu?" cecar Jelita yang sangat gerah, betul-betul takut kalau adiknya melakukan hal-hal aneh diluar sana. Mengerikan sekali kalau dia sampai terlibat pergaulan yang salah. Terlepas dari betapa menyebalkannya gadis itu, dia tetap adik Jelita. Naluri sebagai seorang kakak yang selalu ingin melindungi adiknya dan memastikan bahwa sang adik berada dalam kondisi baik-baik saja. "Uang apa? Aku mana punya uang!" "Jangan terus menerus berkelit saat kam

