Cardigan Ungu Muda

2044 Kata

Delapan puluh tiga Gabrian berada di kostan ‘Jejaka’ bersama para sahabat kental yang membuatnya agak santai barang sekejap saja. Tanpa Jamima, tanpa Jelita dan tanpa masalah dari mereka berdua. Mereka tengah nongkrong depan kostan, Galih sibuk bernyanyi macam-macam lagu requestan Neng Imey. Tumben sekali dia request lagu dari band akustik kampung yang suaranya sama sekali jauh dari kata merdu, biasanya dia tidak begitu. Pasti ini karena Gabrian ada di sana, gadis putri penjual sate itu selalu saja cari cara agar mendapat perhatian Gabrian meski dia tahu betapa Galih begitu menyukainya. “Jreng!! Jreng!!” Galih memulai lagu yang ke seratus dua belas yang dia nyanyikan di malam hari mendung tanpa bintang ini. Baginya, hanya Neng Imeylah bintang yang boleh bersinar dilangit malam miliknya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN