Delapan puluh empat "Neng, Neng Jelita enggak apa-apa kan?" Bibi menemukan Jelita tengah minum air dingin di dapur. "Enggak apa-apa, Bi." "Kenapa Neng mengakui hal yang enggak neng lakukan?" lirih Bibi sambil memeluk gadis kurus itu. Dia mulai menangis lagi. Tiba-tiba saja dia rindu Ibunya. Pelukan hangat sang ibu selalu mendamaikan dirinya saat kesulitan melanda. "Aku jadi paham sekarang, kenapa Gabrian juga mengakui hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan." "Ya Allah, Neng. Neng tuh anak baik, kenapa harus dapat masalah sebanyak ini. Bibi sedih Neng.." "Bi, Aku paham kenapa Gabrian berkorban begitu demi aku. Sama halnya yang dengan yang aku rasakan sekarang. Sebuah kasih dan bentuk sayang.. untuk adikku.. adik kandungku. Sejahat apapun dia, dia tetap adik aku kan Bi?" Jelita

