Ngelamun Jorok

1453 Kata
Tujuh Selalu saja tentang Jelita, perkara besar yang mengusik ketenangan Gabrian si tampan dari Universitas Nusa, Mahasiswa Fakultas Sastra Inggris semester enam yang cita-citanya menjadi seorang Traveler sambil menulis sebuah buku petualangan dalam berbagai bahasa. Tapi, itu hanya di angan. Karena hinga kini, si tampan berambut lurus dengan poni hampir menutup mata itu masih sibuk menikmati kekayaan sang Papi yang bergelimang harta duniawi. “Bagaimana bisa aku melupakan Jelita sementara si tua bangka itu justru membuat aku bertemu dengannya setiap hari, dan anehnya.. aku bahkan sama sekali tidak menghindari keputusan konyol si Papi bibir hitam.” Gumamnya sambil memeluk gitar di atas tempat tidur. “Gab, ngerem mulu! Nelor lo?” Duta nyengir diambang pintu, asap putih mengepul dari beberapa lubang di wajahnya. Kecuali lubang pori-porinya yang memang begitu terlihat. “Gangguin lamunan orang aja!” tukas Gabrian sebal. “Ngelamun jorok lo ya?” “Ngelamun jorok gimana caranya, ngelamun jorok itu butuh objek.” “Pacar misalnya?” tebak Duta karena Gabrian membicarakan objek. Gabrian menghela nafas. “Yaelah, Gab. Kan seantero kampus cewek-cewek pada demen ama elo semua! ya comot aja satu! Gitu aja repot!” “Nyomot, elo pikir mereka taik!” “Lah, gue enggak bilang gitu!” “Heh, cewek itu enggak boleh dimainin!” ujar Gabrian sok bijak. “Bahahahaha, heh Gab! Elo sakit panas?” Duta mengecek kening Gabrian. Si pemilik kening itu menggerakan kepala, mengusir jemari bantet milik Duta. “Gab, kunci motor elo taroh mana?” suara Galih yang tiba-tiba nongol di pintu. “Mo kemana Malih? Jadi modusin Neng Imey?” Duta membicarakan anak gadis mamang sate yang berambut panjang sepinggang. “Woiyaaaa! Jadi dong! Mana Gab?” Gabrian merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda yang dicari Galih, melemparkannya ke depan wajah Galih, kawannya itu menerima dengan sebelah tangan. “Gue cabut ya! Asoyyy daahh!!!” Galih berjoget-joget. “Dasar kambing!” celetuk Duta, iri. “Ada bagusnya kalau kita besanan sama mamang sate. Gue jadi bisa makan sate saban hari, iya enggak Gab?” “Elo sih makanan mulu yang dipikirin! Muka tuh permak dulu biar rapian dikit!” “Sialan, rasis mulu mentang-mentang ganteng!” “Hahaha.. enggak gitu Dut!” Gabrian memiting leher si Gendut. “Lepas!” “Canda, Dut! Canda!” kilah Gabrian merayu Duta. *** Jelita terisak di kamarnya, rumah besar itu sama sekali tidak mendatangkan rasa nyaman apalagi bahagia untuknya. Sejak peristiwa besar dalam hidupnya yang menorehkan noktah besar itu, Jelita sering kali lupa caranya tersenyum. Dia selalu merasa bahwa hidupnya sudah tak lagi berharga. Berharap sisa waktu yang dia miliki segera habis, atau.. dia sendiri yang akan membuatnya habis. Dara itu melepas jilbabnya, bergegas mandi setelah menanggalkan seluruh pakaian yang menutupi auratnya. Dia memandang tubuhnya dalam cermin, seketika dia kembali membenci dirinya sendiri. Benar-benar benci hingga matanya seolah terbakar oleh amarah yang meletup-letup. Kemudian, tersisa suara isak tangis yang bercampur dengan suara air dari shower yang dia nyalakan. Rumah besar itu, Om Ferdy yang baik hati, ataupun Gabrian yang mulai peduli, sama sekali tidak mendatangkan rasa nyaman baginya. Dia merasa, sama saja. Dimanapun dia berada, segala kenangan hanya akan meredup sekejap, dan akan kembali meracuni kepalanya di detik berikutnya. Tak akan ada yang berubah dari segala kenangan yang tertinggal dibelakang. Semua itu akan terus menguntit meski Jelita tidak membawanya serta ke masa depan. Air hangat itu sedikit membuatnya tenang, hari itu sudah malam. Pulang dari kampus tadi siang, Jelita tertidur hingga sore hari. Menangis meratap hingga malam hari, dan baru bangun dari tempat tidur pukul sepuluh lewat sedikit. Malam telah larut tapi Jelita sudah tak lagi mengantuk, terlebih air hangat itu seolah membuatnya akan terjaga hingga pagi datang. “Neng, Bibi masuk ya?” si Bibi permisi dari luar. Jelita menoleh, bibi bebas masuk karena pintu tidak pernah dia kunci. “Neng, makan yuk! Bibi sudah masak!” Jelita tersenyum, demi menghargai kebaikan wanita paruh baya itu. “Ayuk!” ajak Bibi, masih berdiri di ambang pintu. “Iya, sama Bibi ya? Jelita enggak ada temennya.” “Iya, Neng. Ayuk!” Bibi merasa iba pada gadis itu. Tuan Rumah ini, Ferdy Wijaya.. yang tak lain adalah Papi Gabrian, setidaknya telah menceritakan sepenggal kisah Jelita pada si Bibi. Saat itu, wanita yang rambutnya sudah memutih itu menghela nafas dengan mata berkaca-kaca. Kenapa ada kisah sekelam itu di dunia ini, apalagi ini terjadi pada seorang Dara yang begitu baik dan cantik parasnya. Sejak itu, Bibi begitu menyayangi Jelita. Terlepas dia adalah calon istri Ferdy atau bukan. Dimata Bibi, Jelita sudah dia anggap putrinya sendiri. Bibi memang sebatang kara, sudah sejak lama bekerja di keluarga Wijaya, setelah bercerai dengan suaminya yang penjudi. Bibi benar-benar tak punya siapa-siapa selain keluarga Wijaya. Sempat terpukul karena sang Nyonya pergi dari rumah karena perceraian dengan Ferdy. Namun, Bibi memutuskan untuk tetap setia di rumah besar itu, selain itu dia memang tak punya tempat untuk pulang. “Bibirnya masih sakit?” tanya Bibi perhatian. Jelita menggeleng sambil menyuapi dirinya dengan sesendok nasi. “Ehm, kalau ada yang sakit. Kasih tahu bibi ya!” Jelita tersenyum dan mengangguk. “Bibi enggak makan?” “Makan kok, nih tuh..” Bibi ikut makan. Mereka duduk disebuah meja makan besar dimana harusnya ada keluarga lengkap yang makan malam bersama di sana. *** Pagi harinya, Papi menghubungi Gabrian. Dia menyempatkan diri sebelum jamuan makan pagi dengan rekan bisnisnya di negara nan jauh disana. “Gab!” “Ehmh...” Gabrian masih mengantuk. “Jemput Jelita!” suara disebrang sana memekakkan telinga cowok yang dimatanya ada jutaan ton pemberat. Benar-benar sulit terbuka. “Denger enggak?” “Iya!! Iyaaa!!!” Gabrian mendengus. Masih terpejam, Gabrian turun dari tempat tidur. “Braakkkk!!” dia menabrak sisi pintu yang dalam kondisi terbuka bekas si Galih yang tadi masuk minta parfum mahal milik Gabrian. Matanya terbuka, kesal melihat pintu. “Sshhh!! Siapa nih Binatang yang masuk kamar gue?!!!” serunya. Galih cekikikan di ruangan lain saat mendengar omelan Gabrian. Pemandangan yang sudah lumrah disetiap pagi. Mak kost sibuk menggoreng telur mata sapi untuk para anaknya sarapan pagi. Mak kost tidak punya anak, makanya semua anak kost itu dia aggap sebagai anak-anaknya. Gabrian mengelus keningnya yang perih. Pasti kulit keningnya terkelupas akibat benturan pada sisi pintu tadi. Mak kost sigap memplester kening Gabrian dengan plester lima ratusan yang dia beli di warung si mpok depan kostan. “Yah, enggak estetik banget jidat gue!” keluhnya saat bercermin setelah berhasil mandi melawan dinginnya air keran kostan sederhana itu. “Halah! Enggak usah playing victim! Udah dikasiih wajah ganteng bukanya bersyukur malah ngeluh aja bisanya!” Duta Gendut tiba-tiba masuk kama Gabrian. Melongok ke rak Gabrian, dan berhasil menemukan pomade yang dia incar. “Bagi ya! Dikit! Kan rambut gue tipis!” si gendut nyengir onta sambil menampilkan deretan gigi yang tak rata. “Sshhh!!!!” Gabrian setiap pagi mengalami hal ini. Seperti de javu. Galih kemudian menyusul masuk, bersiul-siul sambil membuka lemari Gabrian. Menemukan hoodie merah terang dan menunjukannya pada si empunya barang. “Gab, pinjem ya!” “Lih, Dut! Mending pindahin aja barang gue ke kamar elo pada deh!” omelnya sambil membuat ekspresi tidak senang. Duta dan Galih berpandangan dan berteriak. “Eaaaakkkk!!” bersamaan. “Buruan, mau bareng enggak?” tanya Duta ngeloyor setelah menyemprotkan parfum yang tadi sempat dipakai Galih. “Gue bareng Gabrian aja, biar ketularan ganteng!” “Si anak monyet! Maksud elo, gue jelek?” “Lha, gue enggak bilang gitu ya!” “Udah-udah!! Berisik!” tegur Gabrian. Mak kost menabuh wajan dengan sebuah sendok sayur, sambil menyambangi tiap-tiap kamar. “Yang belum nyarap, nyarap dulu! Nanti masakan gue mubajir gue sunatin lo pada!” tegasnya. “Si Duta mah udah Mak, udah sarap! Alias edan! Sinting! Hahaha!” Galih tertawa renyah. Duta menyentil anunya Galih dari kejauhan. Kesal. “Bodo amat, enggak kena!” Gabrian keluar kamar. “Gue mau jemput Jelita!” ujarnya sambil meraih helm. “Lah? Gue?” Galih panik. “Sama Duta aja!” Duta ngacir, dia ogah kalau si Galih nebeng motor maticnya. “Woy Duta!!!” Galih mengejar Duta tapi cowok gempal itu sudah menarik gas dan meluncur menjauh dari kostan. Duta cekikikan di jalan. “Mamposs! Jalan sampe depan, sampe dapet angkot! Hahaha!” gelaknya puas karena berhasil memberi Galih pelajaran. Motornya meluncur tenang di antara keramaian jalan utama menuju kampus mereka di pusat Kota. Sementara Galih nelangsa, mengacak-acak rambunya sendiri. Melihat Gabrian dengan pasrah, cowok keren itu sudah menyalakan mesin vespanya dan meletakan sebuah helm bogo di depannya duduk. “Jelita itu, cewek kemaren ya?” tanya Galih sambil memeluk gerbang kostan. Gabrian mengangguk kecil. “Gue cabut ya!” vespa keluaran terbaru itu menderu pergi. “Yah, nasib.. gue gimana ke kampusnya ya? Mau naik ojol enggak ada duit! Hem..” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN