Enam
Setelah keluyuran berdua dengan Galih, siang harinya Gabrian kembali ke kampus setelah mengantarkan Galih ke kostan demi hal yang disebut setia kawin, maksudnya setia kawan.
Suasana terik di area kampus yang terbuka, Gabrian cepat-cepat memasuki gedung fakultas sastra inggris, namun sebuah tangan tiba-tiba menjerat telinganya dengan kasar. Gabrian mendesis dan wajah sebalnya langsung berubah saat dilihatnya bahwa tangan itu milik Pak Drun, alias Badrun, Dosen soleh, mulia dan santun.
“Nahh..” ujar Pak Drun dengan tangan masih menjerat telinga Gabrian.
“Hehe, bapak, belum pulang pak?”
“Belum pulang gundulmu! Ini kelas udah bubar kamu baru dateng! Mau jadi mahasiswa kekal abadi di sini?” omel Pak Drun yang soleh dan santun.
“Anu, Pak. Tadi saya habis anu.”
“Halah, anu-anu. Sana kumpulkan sampah dari lapangan!”
“Ha!!!”
“Sana!”
“Pak, moon maap ya Pak, saya kan ini Mahasiswa bukan anak TK, enggak ada hukuman yang lain? Misalnya menjadi calon menantu bapak gitu?”
“Tidak ada tawar menawar! Saya bukan buka ngapak!”
“Lapak, Pak!” ralat Gabrian.
“Aish, sana! Kerjakan tugas saya! Besok kalau bolos mata kuliah saya lagi, bapak suruh kamu berendam di got!”
“Astaga! Jadi berudu berkaki dong saya!”
Pak Drun yang mulia dan santun itu ngeloyor pergi setelah memastikan Gabrian berada di tengah lapangan, di depan gedung fakultas. Gabrian tampak kepanasan, alih-alih mengumpulkan sampah yang jumlahnya tak seberapa. Dia hanya mondar-mandir sambil memikirkan luka di bibir gadis yang dia cintai itu.
Duta lewat sambil cekikikan, dia berada di sisi lapangan dan sangat puas melihat kawannya lagi-lagi dihukum karena bolos mata kuliah pak Badrun.
“Woy Gab!! Ngapain disitu? Fotosintetis??” Duta tertawa terbahak-bahak.
“Sialan, anak gorila!” umpat Gabrian yang wajahnya bersimbah keringat.
Seorang gadis berambut panjang datang dengan gank-nya. Namanya Rere, sementara di belakangnya mengekor Zia si tomboy dan Siwi yang jarang bicara.
“Aduh, Bebeb kamu ngapain sih panas-panasan!? Nanti kulit kamu terbakar!” Rere memayungi wajahnya dengan tangan.
Gabrian enggan menjawab gadis lenje itu, malas sekali.
“Eh, kalian! Ambilin sampah-sampah itu! buruan!” ujar Rere pada kedua rekannya yang saling berpandangan.
“Buruan!” cicit Rere.
Sementara itu Rere menggaet lengan Gabrian dan menyeretnya menepi. Gabrian melihat Jelita melintas jalan utama. Dia sigap mengejar dara itu, tak menggubris ocehan kesal Rere.
“Ish, Bebeb!!!” Rere merengek sebal dan menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.
“Jelita tunggu!” Gabrian menyusul langkah gadis itu.
“Jelita, Papi suruh aku jagain kamu selama dia enggak ada, jadi biar aku antar kamu ya?”
Jelita menghentikan langkahnya, menoleh dan menggeleng.
“Lho, ini amanat Papi!”
“Aku naik angkot aja!” suara Jelita terdengar berbeda dari kemarin.
Dia sangat ceria dan banyak bicara saat bertemu di ruang dosen kemarin, tapi dia kini kembali pendiam seperti saat dia bertemu di kafe di pertemuan kedua mereka.
“Ayo!” Gabrian meraih lengan Jelita dan menyeretnya pergi.
Dara itu tak lagi menolak, mereka menuju parkiran. Sebuah motor vespa elegan terparkir rapi di sudut dekat pohon besar yang rindang. Vespa mahal itu yang tadi pagi dijemput Galih dari rumah sakit motor alias bengkel.
“Nih, pake!” gabrian menyerahkan sebuah helm bogo berwarna cokelat tua pada Jelita.
Dara itu menerimanya dalam diam.
Gabrian jadi serba salah dengan sikapnya hari ini, apa gerangan yang terjadi padahal kemarin dia terlihat begitu ceria dan banyak bicara. Rasanya, dia harus bertanya hal itu sekarang juga.
“Luka itu..” Gabrian menatap bibir Jelita, gadis itu baru selesai memakai helmnya.
Jelita menunduk, lagi.
“Dimana kamu dapat luka itu?” Gabrian nampak cemas.
Dalam benaknya, itu pasti perbuatan si tua bangka, Papinya.
“Aku jatuh.” Jawab Jelita singkat.
“Jatuh? Dimana?” selidik Gabrian yang tak percaya begitu saja.
“Gab, aku mau cepet sampe rumah. Aku capek.”
“Ehm, yaudah ayo naik.”
Gabrian menyalakan mesin vespanya dan menoleh ke belakang.
“Kamu bilang, kamu tinggal dirumah Papi kan?” tanya Gabrian memastikan kemana dia harus mengantar Gadis berjilbab itu.
“Iya.”
“Rumah yang mana? Kelapa gading atau yang dekat Harmoni?”
“Rumah yang besar.”
“Uhm, dua-duanya besar!”
“Yang ada anjingnya!”
“Ha? Oh, iya-iya!” gabrian bisa menebak.
Rumah dengan anjing, Bible. Nama anjing tua yang dibesarkan Maminya dari kecil.
‘Papi, teganya membawa Jelita ke rumah yang begitu banyak kenangan bersama Mami.’ Gabrian tiba-tiba merasa sangat buruk.
Rumah itu, tempat dirinya dibesarkan. Tempat Papi dan Maminya bersama selama lebih dari dua puluh tahun. Saat dia berusia lima belas tahun, Maminya datang membawa Bible yang masih bayi. Anjing itu kini sudah tua dan tinggal di rumah anjing di halaman belakang. Dia pasti merindukan Mami yang kini tinggal di luar kota karena terguncang atas perceraiannya. Dia sementara tinggal bersama kerabatnya di sana.
Sesampainya di rumah besar itu, Jelita bergegas turun dan menyerahkan helm pada Gabrian. Lagi-lagi dia berlalu pergi tanpa bicara sedikitpun.
Gabrian menghela nafas, dia sudah hendak cabut dari sana. Tapi, suara Bibi membuatnya mematikan kembali mesin vespanya.
“Mas Gabrian! Baru pulang kok sudah mau pergi lagi?” wanita paruh baya itu menghampiri Gabrian yang masih duduk di atas motornya.
“Bi..” Gabrian mengulas senyum pada wanita yang telah mengasuhnya itu.
“Masuk dulu, makan! Bibi baru selesai masak!”
“Ehm, lain kali aja ya Bi.”
“Lho, Mas Gabrian ini lho. Ini rumahnya sendiri sudah kaya bertamu.”
“Hehehe, Gabrian lagi ada urusan. Kesini cuma antar Jelita aja, amanat Papi.”
Raut wajah Bibi nampak berubah.
“Kenapa Bi?” tanya Gabrian penasaran.
“Ah, enggak apa-apa. Sebaiknya Mas gabrian makan dulu yuk!”
“Lain kali ya Bi!” Gabrian menyalakan mesin vespanya dan menderu pergi dari petarangan rumah mewah itu.
“Masuk kesana, bertemu kembali dengan kenangan masa kecil bersama Mami. Enggak deh!” gumamnya di antara angin yang menerpa wajah tampannya.
Sampai sekarang Gabrian tak bisa mencerna, kenapa Jelita mau menikah dengan Papi, bahkan dia sudah tinggal di rumah itu saat mereka bahkan belum menikah. Semurahan itukah Jelita? Gabrian mencoba tak peduli, tapi wajah dengan bibir tergores itu terus saja menyambangi matanya.
“Apakah Papi memaksa Jelita, menyiksanya agar mau menikah dengannya? Ataukah, luka itu karena ulah Papi yang mencumbunya dengan kasar? Argh! Lama-lama gue gila mikirin Jelita. Dasar tua bangka enggak tahu diri!” umpatnya.
“Kenapa semua ini seolah jadi urusan gue? Kalau aja gue enggak ketemu dia di taman waktu itu, pasti segalanya enggak aka serumit ini, pasti gue yang looser ini enggak akan jatuh cinta at the first sight gini sama tuh cewek! Ah, sial banget kan elo Gabrian!”
Dia sudah sampai di gang menuju kostan, lupa bahwa dia belum makan apapun sejak pagi. Gabrian langsung menuju dapur dan ternyata Mak kost sedang pergi ke sunatan suaminya, maksudnya anak kerabat suaminya.
“Yah, tau gini tadi gue makan dulu di rumah. Ckkkk.. mie lagi mie lagi daaahh!!!” Gabrian menyalakan kompor.
Galih yang sejak pulang tadi terlelap di kamarnya, mendatangi Gabrian.
“Bikin mie ya? Sekalian!” Galih meneguk air putih dari gelas plastik.
Gabrian memukul kepala Galih dengan mangkok plastik. Air menyembur dari mulut Galih, dia terbatuk-batuk karena tersedak.
“Kamprettttt!!” omelnya setelah batuknya selesai.
“Disangka gue babu! Main suruh-suruh!”
Galih nyengir kambing.
“Sorry deh Bro, gue tadi mimpi jadi cosplay gitu.”
“Enggak tertarik!” Gabrian memasukan mie ke air mendidih.
“Tapi gue mimpi cosplay jadi elo, Gab. Haha..”
Gabrian mengaduk mie dalam air mendidih, masa bodo dengan kicauan galih yang tak penting.
“Gue kira gue ini elo, dan elo itu gue! Yaudah gue suruh elo masak mie! Haha..”
“Apa sih, bangsadh berisik aja!” Duta Gendut datang dan menginjak Kaki Galih yang tengah berdiri didekat galon.
“Buset moyang Babon, kaki gue ini masih ada yang punya, main injek aja!”
“Haha, moon maap gue kira itu fosil beban keluarga!”
“Taik!!! Gini-gini gue tahun depan lulus jadi sarjana muda.”
“Yakin banget tahun depan lulus! Palingan mandek dua atau tiga tahun lagi.” Sahut Gabrian yang kini menuang mie beserta air rebusan berwarna putih itu ke dalam mangkuk.
“Rasa apa itu mie elo Gab?” Duta ngiler sambil melihat ke arah mangkuk.
“Rasa ludah gue! Cuh!! Cuih! Cuh!” Gabrian meludahi mangkuknya.
“Kampreettt!!!” galih bergidik jijik dan pergi dari dapur.
Duta Gendut manyun dan tak lagi menginginkan mie beraroma bawang itu.
“Hem, pasti rasa soto ya Gab?” dia masih penasaran rupanya. Sesekali melirik Gabrian yang sudah asik melahap mie nya.
“Mau?” Gabrian memberikan garpunya.
“Enggak deh, kalau elo cewek mah gue embat!”
“Yeee, m***m!”
“Hahahaha!” Duta Gendut membuat kopi dan menyalakan sebatang rokok.