Dua puluh enam Terdengar lirih suara yang seolah merasakan ketakutan yang amat sangat, Gabrian melangkah masuk dan sigap mengarahkan tongkat ke sisi belakang pintu. Nihil, tak ada siapapun di sana. Bulu halus dalam tubuhnya berdiri tegak serempak dalam sekejap. Siapa gerangan yang masuk ke kamar Jelita malam-malam begini? Gabrian melangkah jauh ke dalam, menyoroti tempat tidur dengan senter kecil dari ponselnya. Cahaya itu tak banyak membantu mengingat betapa pekatnya malam itu. Terlihat sosok tertutup selimut yang terlihat gemetar, kepalanya menelusup ke dalam selimut. Gabrian menelan ludah, sudah pasti itu Jelita. Jadi apa yang membuatnya berteriak sekencang itu? Apa dia takut kegelapan? Manja sekali! Gabrian masih menyisir seluruh sisi ruangan, kalau-kalau benar ada orang masuk dan b

