Dua puluh empat Hari keberangkatan semakin di depan mata, Gabrian jadi makin risau akan banyak hal. Bingung, stress berat seiring semakin dekatnya waktu untuk pergi berdua dengan Jelita. Dia termanggu di meja makan, menunggu mak kost selesai menggoreng nasi dengan banyak sayuran dan telur mata sapi. Harum bawang yang ditumis membuat perut Gabrian keroncongan. Kalau sedang lapar begitu, menunggu nasi goreng saja rasanya lama betul. “Kenapa sih, Gab? Gelisah amat!” Galih datang dan duduk di dekatnya. “Brisik, gue lagi laper!” tukas Gabrian malas ngobrol. “Eh, itu si gendut kenapa?” Mak kost yang sibuk mengaduk nasi dalam wajan bicara tanpa menoleh. “Kenapa emang?” “Yah, elu Lih. Malah tanya balik!” ujarnya. “Dimana dia?” “Dari pagi dia ngelamun di balkon atas, sampe bapak kost kaget

