Tujuh puluh tiga Pagi harinya Tian datang kembali saat Pandi hendak berangkat ke pabrik. Dia membunyikan klakson saat kedaraan beroda empat itu memasuki petarangan depan rumah keluarga Jelita. Pandi menyambut Tian, sedangkan Nimas begitu sumringah karena mendengar bunyi deru mobil Tian. Dia cepat-cepat keluar sambil membawa sendok sayur. Rupanya wanita yang kondisi kesehatannya belum lama pulih itu sangat rajin masak sayur demi menjaga kesehatannya sendiri. “Nak Tian, pagi-pagi sudah datang lagi!” serunya senang. Tian menutup pintu mobilnya, tersenyum lebar sambil membawa sekantong buah-buahan untuk kedua orang tua gadis yang dia sukai itu. Nampaknya Tian semakin serius dengan perasaanya pada Jamima. Dia termasuk tampan dan mapan, jadi mustahil Jamima dan keluarganya akan menolaknya.

