Gavriel berdiri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, mata elang itu menyorot tajam ke dalam ruang ICU. Di sana, Adolf sedang ditangani oleh sekelompok Dokter dan perawat. "Duduklah, Gav. Sebentar lagi pasti Dokter akan keluar," ujar Silvana seraya menggamit lengan adiknya. Gavriel menggeleng. "Aku akan menunggunya di sini, Kak," jawabnya. "Jangan egois, Gav. Nanti kamu malah sakit, sudah hampir satu jam kamu berdiri. Kamu harus percayakan semuanya sama Dokter." Gavriel masih tidak bergeming. "Kamu nggak kasihan sama Austin? Dari tadi dia diam terus, Mommy juga sama. Kami semua juga bersedih." Silvana kembali membuka suara. Sejurus kemudian Gavriel menoleh ke arah putra sulungnya, beberapa kali pria tampan itu menahan napas melihat Austin yang begitu murung dengan air ma

