Berkenalan dengan Silvana

1038 Kata
Azriya berdiri mematung di tengah pintu kamar Austin. Di atas ranjang itu, bocah laki-laki tersebut tengah terbaring dengan seorang gadis kecil di sampingnya. Sedangkan Gavriel masih mengelus punggung mungil putranya, tatapan matanya masih menyorotkan kekhawatiran. "Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Austin, Van? Padahal kami sudah menyusuri jalanan ini, tapi kami sama sekali nggak menemukan apa-apa." "Saat aku pulang dari jemput Aurell les piano, sekitar jam tujuh malam itu, Mom. Aku lewat kedai es krim yang deketnya Apotek Lestari, kamu tahu 'kan, Gav?" tanya Silvana seraya mengalihkan pandangan kepada Gavriel Lelaki itu sontak mengangguk dengan pandangan yang menyorot lurus ke dalam manik mata Silvana. "Nah, Aurell minta es krim. Waktu kami keluar mobil, aku nggak sengaja lihat ada anak kecil duduk sendirian, meringkuk gitu, di trotoar jalan. Aku langsung ke sana gandeng tangannya Aurell, Mom. Dan ternyata itu Austin." "Ya Tuhan!" pekik Lauren. "Austin sendirian, Kak? Lalu, kenapa kamu nggak telepon aku?" tanya Gavriel. "Maaf, Gav. Ponsel Kakak mati," jawab Silvana. Wanita cantik bertubuh ramping, dengan tinggi semampai bak model itu menarik napas beberapa kali, dan kembali melanjutkan ucapannya. "Iya, dia sendirian. Dan waktu Kakak datang, dia nggak nangis, Gav. Austin malah tersenyum dan dia aku ajak masuk ke kedai bareng sama Aurell, dia juga main-main di mansion sama Aurell. Anak itu sama sekali nggak merasa takut." Azriya yang mendengarnya langsung menghela napas lega. Ketiga orang itu belum tahu bahwa dirinya menguping, entah bagaimana jadinya kalau Azriya ketahuan. Namun, ini semua terpaksa ia lakukan untuk mengetahui keadaan Austin. "Tapi, Mom ... Austin cerita banyak hal tentang Aunty Riya, siapa dia?" tanya Silvana yang membuat Azriya kembali memasang raut tegang. "Dia cerita apa, Kak?" sahut Gavriel. "Katanya Aunty Riya itu yang nemenin dia selama ini. Orangnya baik dan perhatian, dan Austin mau minta maaf setelah pulang dari mansion ku, karena udah buat si Aunty ini khawatir." Lauren nampak membolakan mata juga Gavriel yang memandang penuh keanehan. Sementara dari balik pintu, Azriya menatap kedua Ibu dan anak itu dengan pandangan awas. "Besok saja Mommy akan ceritakan semuanya, Van. Ini sudah malam, sebaiknya kita beristirahat," ujar Lauren. Silvana mengangguk, "Austin juga terus merengek manggil-manggil Aunty Riya ini, Mom. Makanya aku nekat antar ke sini malam-malam, soalanya takut Austin nggak bisa tidur. Eh, nggak tahunya dia di mobil sudah tidur nyenyak," ucapnya lagi. Azriya hampir saja meneteskan air matanya. Bocah kecil itu ternyata mencari-cari dirinya, sontak saja perasaan bersalah langsung menyeruak dalam hatinya. Ingin rasanya memeluk tubuh kecil itu dan mendekapnya hingga pagi menjelang. Namun, pasti Lauren dan Gavriel akan menghalanginya, jadi Azriya memilih menemui Austin besok pagi saja. *** Pagi hari. "Halo, Sayang." "Aunty Riya!" pekik Austin. "Iya, Sayang. Maaf, ya, gara-gara kemarin kamu jadi hilang. Kamu takut sendirian di luar sana? Aunty janji setelah ini akan lebih mengawasi kamu, ya. Maaf karena Aunty kurang memperhatikan kamu kemarin sore, ya, Sayang," ucap Azriya dengan suara lirih. Ini masih sangat pagi, bahkan sinar matahari belum menampakkan cahayanya. Jarum jam masih menunjukkan pukul lima pagi, hanya ada maid yang sudah keluar kamar. Namun, Azriya tetap menjaga suaranya karena kamar yang di huni Austin tidak memiliki alat kedap suara. "Bukan Aunty yang seharusnya minta maaf, tapi aku. Aku sudah nakal dan nggak bilang-bilang kalau mau keluar mansion, pasti aku membuat semua orang bingung, ya, Aunty?" "Nggak, Sayang. Nggak papa, Aunty juga salah, dan kita harus sama-sama belajar dari kesalahan ini, ya. Kamu nggak boleh keluar tanpa izin Aunty atau Daddy, begitu juga dengan Aunty yang akan lebih mengawasi kamu." Austin langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Azriya. "Makasih, Aunty," ucapnya dengan suara berbisik. Azriya memejamkan kelopak matanya dengan senyum mengembang. Hatinya tiada henti mengumandangkan rasa syukur. Setelahnya, wanita cantik itu membantu Austin untuk bersiap, karena anak itu harus berangkat sekolah pagi ini. • Ceklek! Gerakan tangan Azriya yang merapikan tempat tidur Austin sontak terhenti saat mendengar suara pintu dibuka. Kepalanya menoleh, ternyata Lauren yang masuk ke kamar ini. "Ngapain kamu di sini?" tanya Lauren. "Aku mau bantuin Austin siap-siap, Mom." "Buat apa?! Apa jangan-jangan kamu mau mempengaruhi cucuku lagi?!" "Tidak ada seperti itu, Mom. Aku nggak pernah kayak gitu sama Austin," sahut Azriya masih dengan nada lembutnya. Azriya khawatir Austin yang masih ada di kamar mandi akan terkejut mendengar perdebatan pagi ini. Namun, Lauren seakan tidak mau mengerti dengan apa yang dikatakan menantunya tersebut. Ia tetap meminta Azriya keluar dari kamar cucunya, sehingga mau tidak mau wanita cantik itu terpaksa mengalah. Saat hendak keluar, langkahnya tiba-tiba terhenti kala tubuhnya bertabrakan dengan Silvana. Yeah, wanita itu mendengar keributan di kamar keponakannya, dan hal itu tak ayal membuatnya penasaran. "Maaf-maaf, aku nggak lihat tadi. Ngomong-ngomong, kamu siapa?" tanya Silvana. Azriya melemparkan senyum ramah kepada wanita di depannya tersebut, tetapi saat hendak membuka suara, Lauren sudah menyahut dari arah belakang. "Dia Azriya. Orang yang kamu tanyakan tadi malam, Van." Silvana sontak melongo dengan pandangan menatap lurus kepada Azriya, sepersekian detik kemudian wanita itu mengulas senyum ramah. "Hai ... oh, jadi kamu yang dimaksud Aunty Riya itu?" tanya Silvana seraya merangkul tubuh Azriya. "Iya, Kak. Salam kenal, ya." "Iya, Sayang. Lalu, kamu semalam ke mana waktu Austin datang? Kok Kakak nggak lihat?" "A-Aku—" ucapan Azriya terpotong oleh Lauren yang tiba-tiba kembali menyahut, "dia sudah tidur! Mana ada dia perhatian sama Austin!" ucapnya dengan nada ketus. Silvana hanya mampu menghela napas dan menggelengkan kepala menatap Mommy-nya. "Mom, jangan kayak gitu. Aku dengar sendiri kalau Austin manggil-manggil Azriya, pasti Azriya sudah sangat baik sama Austin." "Huh ... ya sudahlah kalau kamu nggak percaya. Semua saja belain Azriya, nggak ada yang membela Mommy. Nggak kamu, nggak Austin. Sekalian saja semua penghuni rumah ini mengelu-elukan Azriya ...!" pekik Lauren. "Mom ...." Silvana hendak menyentuh lengan Lauren, tetapi wanita paruh baya itu sudah melangkah lebih dulu keluar kamar. Bahkan Lauren sama sekali tidak melirik ke arah Azriya yang masih berdiam di tengah pintu. "Azriya ... sudah. Nggak usah kamu pikirin, lebih baik kamu urusin Austin buat siap-siap, ya. Mungkin sebentar lagi mandinya sudah selesai," ucap Silvana, masih dengan senyum ramahnya. "Iya, Kak," jawab Azriya dengan menganggukkan kepala. "Jangan diambil hati apa yang diucapkan Mommy. Kamu harus sabar dan kuat, ya." Azriya kembali mengulas senyum, "iya, Kak. Makasih," sahutnya. Kakak iparnya berlalu pergi setelah mengatakan hal demikian, menyisakan Azriya sendirian di kamar tersebut. Batinnya cukup tenang sekarang, ternyata Silvana tidak seburuk dugaan sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN