Kepergok Gavriel

1030 Kata
Setelah memastikan anak-anak berangkat sekolah, Azriya lantas berbalik badan dan hendak masuk kembali ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba tubuhnya terlonjak ke belakang saat Gavriel berada tepat di depannya. "Kenapa?" tanyanya seraya semakin mendekatkan wajah kepada Azriya. "Ka-Kamu ngapain berdiri di belakangku?! Aku 'kan jadi kaget!" Azriya mundur ke belakang. Jujur saja, berhadapan dengan jarak sedekat ini membuat wanita cantik itu gugup. "Memangnya kenapa? Ada masalah?" tanyanya dengan raut datar. Azriya menggeleng, wanita cantik itu lantas berlalu pergi meninggalkan Gavriel yang masih mempertahankan tatapan tajamnya. Hingga kemudian lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu kembali membuka suara. "Nanti malam acara peresmian pernikahan kita, sebaiknya hari ini kamu jangan ke rumah sakit. Atau kalau bisa, kamu berhenti beberapa waktu dulu biar fokus menjaga Austin dan Adolf." Deg! Berhenti? Apa maksudnya? Menjadi Dokter adalah cita-cita Azriya sedari dulu. Meskipun saat ini Azriya belum seutuhnya menjadi Dokter, tetap saja Gavriel tidak berhak melarangnya meneruskan cita-cita tersebut. "Mumpung kamu juga belum melanjutkan studi, Riya. Aku nggak mau kamu jadi sibuk di rumah sakit dan anak-anakku jadi terlantar. Bukannya kamu sudah diamanatkan untuk menjaga mereka?" Lagi-lagi kata-kata itu yang menjadi senjata untuknya. Entah apa tujuan Gavriel sebenarnya, bukankah kemarin pria itu meminta Azriya untuk menjauhi anak-anaknya? Lalu sekarang? Sungguh! Azriya tidak mampu memikirkan semuanya. "Kamu dengar, Riya?" tanyanya lagi saat Azriya tidak kunjung menjawab. "Aku dengar! Dan kamu nggak berhak mengatur kehidupanku! Tenang saja, aku akan tetap fokus menyayangi Austin dan Adolf meskipun aku nanti tetap mengambil studi lanjutan," ucapnya dan langsung melenggang pergi meninggalkan Gavriel. Azriya memutuskan bergabung dengan para maid yang sedang mendekorasi ruangan tengah, pasalnya ruangan ini yang akan digunakan untuk acara nanti malam. Nampak para maid menata banyak bunga lily putih di setiap pot besar yang terletak di sudut ruangan. "Ini bukannya bunga favorit Kartika?" tanyanya pada salah satu maid. "Benar, Nona. Selain untuk memperingati pernikahan Tuan dan Nona, acara malam nanti juga untuk memperingati hari kematian Nona Kartika." "Oh, begitu," gumam Azriya. "Iya, Nona. Kami di minta Tuan Gavriel meletakkan banyak bunga favorit Nona Kartika sebagai bentuk penghormatan," jawab maid tersebut dan lantas kembali meneruskan pekerjakan. • Matahari kian merangkak naik, hingga tidak terasa hari sudah hampir petang. Semua lampu utama sudah menyala, ruangan ini juga sudah disulap menjadi sangat cantik. Azriya berjalan menuju dapur, wanita cantik itu ingin melihat persiapan hidangan untuk nanti malam. Ada banyak sekali menu dan berbagai macam kudapan, seutas senyuman langsung menghiasi bibir wanita cantik itu. "Kamu ngapain di sini?" Azriya sontak menoleh mendengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah Mommy mertuanya. "Aku lagi ngecek menu buat nanti malam, Mom." Lauren terkekeh. Sudut bibirnya bahkan terangkat seakan mengejek apa yang dilakukan Azriya. "Buat apa? Jangan sok tahu, deh! Kamu ini cuma orang baru, yang ada malah orang-orang bakal keracunan gara-gara kamu yang ngecek makanan." "Aku cuma mau memastikan persiapannya saja, Mom. Karena tadi aku lihat Mommy dan Kak Silvana lagi sibuk, jadi aku inisiatif buat mengawasi," jawab Azriya dengan masih mempertahankan nada rendahnya. Lagi-lagi Lauren tergelak. "Lebih baik kamu keluar, Riya. Dan ingat baik-baik! Kamu nggak punya hak ada di dalam keluarga ini, apalagi sampai masuk, dan mengurusi para maid!" Azriya menahan napas dengan luapan amarahnya yang sudah tidak dapat terbendung. "Huh ... baiklah kalau begitu, Mom. Jadi aku bisa bersantai di kamar sampai nanti acaranya dimulai 'kan? Terima kasih, loh. Aku tahu Mommy nggak mau aku kecapekan 'kan?" jawab Azriya, dengan seringai senyum yang tak kalah menyebalkan. "Kamu ...!" Wanita cantik itu membawa jari telunjuknya ke depan mulut dan meminta Lauren menghentikan ucapannya. "Sstt ...! Jangan marah-marah Mommy Mertua, aku akan menuruti semua kemauan Mommy, kok." "Dasar wanita gila!" pekik Lauren sembari menatap Azriya yang sudah beranjak pergi dari hadapannya. Lauren menekan dadanya dengan sebelah tangan, wanita dengan dandanan menor itu terus menghela napas guna menahan emosinya. "Suatu saat kamu akan menyesal melakukan hal ini, Riya!" gumamnya geram. *** Di sisi lain, Azriya yang baru hendak masuk kamar sontak menghentikan langkah saat menatap pada taman kecil yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Di sana nampak dua putra sambungnya sedang duduk bersama Silvana dan Aurell. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi raut Silvana menggambarkan ketegangan. Bola mata hitamnya melotot dan menyorot tajam ke dalam kedua mata Austin dan Adolf. Sementara Aurell, bocah cantik itu masih asyik bermain boneka dan seakan tidak menggubris pembicaraan sang Mommy dan dua sepupunya. Azriya hendak menuju ke taman itu, tetapi urung saat suara bariton Gavriel memanggilnya. "Ada apa, sih?!" tanya Azriya. "Ayo ikut aku ke kamarku, Mommy tadi memberikan baju stell untuk kita. Dan kamu harus mengambilnya ke sana." "Kita akan pakai baju stell gitu? Samaan?" tanyanya lagi. "Iya. Sudahlah, nggak usah banyak tanya! Ayo cepat!" Gavriel langsung berbalik badan dan hendak beranjak, sedangkan Azriya sekali lagi menoleh ke arah taman. Entah kenapa ia seakan ingin sekali tahu pembicara tersebut, seperti ada sesuatu yang menjadi magnet untuknya menuju ke sana. "Ayo, Riya!" pekik Gavriel seraya menggandeng pergelangan tangan Azriya. Ternyata pria tampan itu masih menunggu Azriya sedari tadi. Hingga akhirnya mereka sampai di kamar yang berukuran sangat luas tersebut, Azriya lantas masuk, dan Gavriel menutup pintu dengan rapat. "Mana bajunya?" "Ada di walk in closet. Kamu ambil saja sendiri, baju stell warna gold yang digantung di sana. Kamu coba pakai sekalian, takutnya nggak muat." Wanita cantik itu menghela napas kasar dan lantas menuju walk in closet dengan langkah kaki menghentak. Tidak memerlukan waktu lama untuk Azriya menemukan baju tersebut, karena memang di gantung di luar almari. Wanita cantik itu lantas meraih baju tanpa lengan tersebut dengan tangan gemetar. 'Ka, akun izin, ya. Tolong restui aku dan tolong bantu aku,' batinnya seraya membayangkan wajah sang sahabat. Azriya mulai membuka setiap helai benang yang melekat pada tubuhnya, hingga tubuh sintalnya sudah polos, dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Jemari lentiknya perlahan membuka resleting baju indah tersebut dan hendak memakainya. Ceklek! Deg! Azriya sontak membelalakkan mata, gerakan tangannya juga mendadak berhenti, dan tubuhnya menegang kaku. 'Siapa yang buka pintu?!' batinnya panik. Kepalanya perlahan menoleh dan bola matanya sontak melotot lebih lebar saat mendapati Gavriel berdiri di tengah-tengah pintu dengan raut wajah datar. "Argh ...!" pekiknya dan refleks jongkok. Kelopak matanya terpejam. Sungguh! Saat ini Azriya sangat malu. Pasalnya ini adalah pertama kali ada laki-laki asing yang melihat tubuh polosnya. 'Sial! Sial! Sial!' batinnya merutuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN