Dituduh

1105 Kata
Gavriel masih berdiri di tengah pintu dengan pandangan datar. Namun, siapa yang tahu bahwa jantungnya sedari tadi terus berdesir, ia bahkan sudah menatap tubuh polos Azriya hampir satu menit lamanya. Pria itu bukannya tidak normal, ataupun tidak tertarik dengan Azriya. Bohong kalau matanya tidak jatuh cinta saat menatap tubuh indah tersebut, tetapi lagi-lagi bayangan Kartika lebih dulu hadir dalam benaknya. Yeah! Gavriel masih mencintai mendiang istrinya, begitu dalam, sehingga tidak mampu mengkhianatinya meskipun jalan ini adalah jalan yang dipilihkan oleh Kartika sendiri. Gavriel masih ingin mengingat Kartika di setiap detak jantungnya. Gavriel masih ingin menyuarakan nama Kartika di setiap hela napasnya. Gavriel masih ingin bersama dengan bayangan Kartika di setiap langkahnya menyusuri sisa akhir hayatnya. 'Kenapa takdirku harus se-pedih ini, Ka. Aku harus berpisah denganmu saat belum sempat melakukan itu semua. Aku harus bagaimana? Kenapa kamu tega denganku dan memintaku untuk menikah lagi? Padahal kamu tahu yang aku cintai hanya kamu,' batinnya pilu. Kemudian Gavriel berbalik badan dan masuk ke kamar mandi, niatnya mengambil baju harus urung. Kini, pria tampan dengan hidung mancung itu mulai membasuh wajahnya. Bola mata elang itu menyorot lurus ke cermin dan memantulkan bayangan wajahnya. Jika diperhatikan, maka akan nampak kantung matanya yang sembab. "Apa kamu tahu kalau setiap malam aku menangis, Ka? Aku hampir gila! Ah, tidak! Bahkan aku sudah gila. Kewarasanku sudah pergi bersama hatiku yang pergi dengan jiwamu." Gavriel menatap dalam cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya, tiba-tiba ia teringat cincin pernikahan milik Kartika berada di jari manis Azriya. Pria tampan itu kembali meraup wajahnya dengan frustasi. "Maafkan aku, Ka. Aku belum bisa mencintai dia. Aku hanya bisa mencintaimu, dan itu nggak akan berubah sampai kapanpun!" gumamnya lagi. Gavriel lantas masuk ke dalam bath up, ia menikmati berendam dengan air panas. Perlahan, bebannya bisa sedikit terangkat. Sedangkan Azriya, wanita itu tidak jadi mencoba bajunya. Wanita cantik itu memilih mengenakan dressnya lagi dan lantas keluar dari kamar itu dengan berlari tergesa-gesa. "Dia tadi lihat nggak, ya? Aduh ... malu banget!" pekiknya. Walaupun Azriya tahu bahwa Gavriel sudah berhak melihat semua bagian tubuhnya, tetapi tetap saja rasanya malu. Ia tahu posisinya hanya menggantikan sang sahabat, dirinya juga sama sekali tidak berharap lebih pada pernikahan ini. *** Malam ini suasana sudah ramai dengan banyak keluarga yang datang, tetapi Azriya sama sekali belum mengenal mereka. Sedangkan Gavriel, lelaki itu sama sekali tidak membawanya berkenalan dengan tamu-tamu yang hadir di sini. "Sayang, ayo Kakak kenalkan dengan yang lain," ujar Silvana dengan senyum ramahnya. "Iya, Kak. Lagian aku juga masih malu kalau sendirian." Silvana memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke dalam manik indah Azriya. "Gavriel ke mana?" "Eum, kayaknya tadi lagi sama tamu." "Oh, gitu. Ya sudah, ayo ikut Kakak." Azriya mengangguk dan lantas mengikuti langkah Silvana menuju para keluarga inti yang berkumpul di ruang tengah. Di sana juga ada Lauren, tetapi wanita paruh baya itu langsung membuang pandangannya saat Azriya mendekat. Mereka semua memuji Azriya dengan kecantikannya, sebagiannya ada yang memuji Azriya yang berprofesi sebagai Dokter muda. Namun, itu semua sama sekali tidak berpengaruh bagi Lauren. Bahkan wanita berusia sekitar setengah abad itu tetap saja acuh tak acuh. Ah, sungguh! Jika tidak mengingat mendiang sahabatnya, mungkin Azriya sudah pergi dari neraka ini. • "Aunty, aku mau makan salad," ujar Austin sambil menarik jemari Azriya. "Ayo, Sayang. Aunty ambilkan," sahut wanita cantik itu. Azriya menggandeng tangan Austin ke dekat meja makan. Di sana tersaji satu mangkok besar salad buah yang nampak menggoda, pantas saja Austin ingin memakannya. "Kamu mau makan salad ini, Sayang?" "Iya, Aunty!" pekik bocah kecil itu kegirangan. Azriya mencari piring kecil. Ia nampak kebingungan, tetapi tidak ada maid di sekitarnya. Hingga akhirnya Azriya menuju dapur untuk mengambil sebuah piring kecil guna mengambilkan salad untuk Austin. "Ini, Sayang. Sepiring salad buah lezat untukmu," ujarnya seraya menyodorkan piring itu dengan hati-hati. "Makasih, Aunty," ujarnya dengan senyum menggemakan. "Sama-sama, Sayang." Austin beranjak pergi dan duduk sendirian di sebuah sofa kecil di ujung ruangan, sedangkan Azriya kembali bergabung dengan Silvana. "Kamu dari mana?" tanya Silvana. "Aku dari ambilin Austin makan, Kak. Katanya mau makan salad buah," jawabnya dengan senyuman manis. Wanita cantik itu nampaknya mulai nyaman dengan Silvana. "Salad buah? Kamu nggak pakai s**u 'kan?!" "Enggak, Kak. Aku tahu kok kalau Austin alergi susu." Silvana menghela napas lega. "Syukurlah kalau gitu, Sayang. Kakak takut kalau kamu belum tahu, nanti malah kamu kena omel lagi." "Nggak papa, Kak. Aku sudah biasa. Toh aku juga sadar kalau aku ini orang baru, dan mereka melakukan itu karena menyayangi Austin." "Iya, Sayang. Kamu sabar, ya," ujar Silvana seraya mengelus bahu Azriya. Wanita cantik itu mengangguk. Kemudian keduanya kembali membicarakan banyak hal, hingga tiba-tiba kegaduhan terjadi di dekat meja makan. Nampak banyak orang berkumpul di sana, sontak saja Azriya dan Silvana langsung mendekat. Kedua wanita itu menyibak kerumunan, beberapa detik kemudian bola mata keduanya sama-sama membelalak lebar saat mendapati tubuh mungil Austin kejang-kejang. "Austin!" pekik Azriya dan langsung memeriksa keadaan bocah laki-laki tersebut. "Dia makan salad buah dan ada susunya, siapa yang sudah kasih s**u?! Bukannya sengaja sausnya dipisah untuk Austin yang alergi s**u?!" teriak Gavriel dengan wajah merah padam. "s**u?" gumam Azriya. "Iya, Riya. Austin alergi s**u! Dan dia makan s**u!" Deg! "Langsung bawa ke rumah sakit!" pekik Azriya. Gavriel lantas membopong tubuh mungil putra sulungnya dan lekas menuju mobil, pria tampan itu menyetir sendiri, dan Azriya menjaga Austin di kursi belakang. Selama perjalanan, pikiran wanita cantik itu terus melanglang, siapa kiranya yang memberikannya s**u? Padahal jelas-jelas tadi dirinya memberikan saus tanpa s**u. Apa mungkin ada kesengajaan? Apa pelakunya sama dengan dalang di balik kejadian yang menimpa Kartika? "Austin nggak akan ninggalin aku 'kan, Riya?! Aku trauma dari kejadian Kartika!" "Dia akan baik-baik saja, aku sudah kasih obat penawar. Nanti Dokter juga akan memeriksa lagi. Kamu jangan khawatir, Gav. Fokus saja pada menyetir!" Gavriel mengangguk. Suasana berubah tegang saat Austin dibawa masuk ke ruang ICU. Anak kecil itu dipasangkan banyak alat medis di badan mungilnya. Azriya dan Gavriel sama-sama gelisah, keduanya berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICU dengan napas berderu keras. "Tuhan ... tolong selamatkan putraku," gumam Gavriel. Azriya susah menangis saat menatap Dokter menangani Austin dari kaca pintu ruang ICU. 'Pasti sakit sekali rasanya, Nak,' batin Azriya. Tanpa keduanya sadari, dari koridor rumah sakit, Lauren berjalan cepat menuju ruangan cucunya dirawat. Telapak tangannya mengepal sempurna saat menatap sosok wanita yang menjadi menantunya tersebut. Plakkkk! Sebuah tamparan tidak terelakkan melayang begitu saja mengenai pipi Azriya. "Dasar wanita tidak tahu diri! Apa niatmu berbuat ini kepada cucuku, hah?!" teriaknya menggebu-gebu tepat di depan wajah Azriya. "Ada apa, Mom?" tanya Gavriel. "Dia!" Lauren menunjuk Azriya dengan jari telunjuknya tepat di depan muka, "dia yang telah memberikan s**u kepada Austin, dan menyebabkan cucuku seperti ini, Gav!" teriaknya lagi. Deg!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN