Hari minggu biasanya dimanfaatkan Shyifa dengan mengikuti berbagai macam kajian yang selalu hadir di dalam grup WA nya. Tentu saja, informasi seperti itu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Shyifa.
Seperti saat ini, dia baru saja selesai mengikuti kajian yang bertemakan " Islam Bangkit Kembali" di sebuah Masjid Agung di pusat kota. Di masjid ini, pemandangan yang disuguhkan sungguh menakjubkan. Shyifa paling senang saat berada di lantai atas dan menatap langit secara langsung dari balkon masjid. Oh iya, di masjid ini juga ada perpustakaannya, jadinya Shyifa sangat betah berlama-lama di sini.
Namun, ada yang aneh. Shyifa merasa ada seseorang yang menatapnya dengan intens, tepat di sebelahnya. Jadinya Shyifa menoleh ke arah kanan dan mendapati mata seorang ikhwan yang menatapnya terkejut, lalu tersenyum senang ke arahnya.
Shyifa pun merasakan hal yang sama. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan laki-laki ini setelah sekian lama. Tanpa bisa Shyifa tahan, mata Shyifa menelisik laki-laki ini dari ujung ke ujung sebab penampilannya yang berbeda. Benarkah dia sudah berubah?
Shyifa hanya bisa meneguk ludah tidak tenang, atmosfer di sekitarnya pun terasa mendadak panas. Membuat Shyifa merasa pipinya mulai memerah. Tidak bisa dipungkiri bahwa Shyifa merasa dia sangat nervous dihadapkan dengan masa lalu setelah sekian lama, setelah sekian jauh dia melangkah pergi. Shyifa tidak tahu apa rencana Allah yang mempertemukan dia dengan laki-laki ini, di saat seperti ini, dan di tempat ini. Di Masjid Agung favoritnya.
Laki-laki itu juga tidak bisa menahan kerinduannya. Setelah sekian lama, tiba-tiba saja dia bertemu dengan gadis ini lagi. Awalnya Ahsan memang ragu untuk menyapa Shyifa, takut dia salah lihat. Tapi setelah Shyifa meoleh juga ke arahnya, semua keraguan itu sirna. Ingin sekali rasanya Ahsan memeluk gadis yang semakin cantik dengan hijab panjangnya ini, namun Ahsan berusaha mati-matian untuk menahan diri.
Ahsan maju selangkah agar jarak yang terpatri di antaranya dan Shyifa tidak terlalu jauh, tapi Shyifa malah mundur selangkah. Ahsan maju lagi selangkah dan Shyifa juga mundur selangkah. Sekali lagi Ahsan coba dan Shyifa tetap mundur teratur.
" Kok kamu mundur-mundur terus sih?" tanya Ahsan dengan kesal.
" Kakak tuh yang maju-maju terus." Balas Shyifa tak kalah sewot. Seketika Shyifa teridam, kalau ini dirinya yang dulu, tentu Shyifa akan tertawa lepas di hadapan Ahsan, mentertawakan kebodohannya dan Ahsan yang menyenangkan.
Tapi sekarang kondisinya berbeda, Shyifa hanya bisa tersenyum senang saat Ahsan memecahkan keheningan di antara mereka.
" Assalamu'alaikum Shyifa." Sungguh, Shyifa tidak menyangka akan mendapat salam pertama kali dari orang yang dulu dikiranya sangat b***t ini.
" Wa'alaikummussalam kak Ahsan," jawab Shyifa sambil tersenyum. Senyum tulus yang sangat jarang dinampakkannya pada ikhwan manapun. Shyifa hanya bisa diam dan menikamati angin semilir yang menerbangkan kenangan masa lalunya. Kalau ini dirinya yang dulu, pasti Shyifa sudah berlari ke arah Ahsan dan memeluknya dengan erat. Tapi karena ini dirinya yang sekarang, Shyifa hanya bisa menjerit di dalam hati " Ya Allah... aku sungguh rindu dengan hamba Mu yang satu ini!"
***
Saat itu Ahsan mulai meyusun strategi dengan baik dan benar. Untuk mendekati gadis sibuk seperti Shyifa, dia butuh planning yang tepat. Shyifa bukan gadis sembarangan seperti Yuri, dia juga bukan adik kelas yang selalu keganjenan sama seniornya seperti Kirana, tetapi Ahsan tidak tahu apakah Shyifa tipe orang yang mengedepankan masa depan seperti Mawar. Ah, tapi itu urusan nanti. Yang terpenting bagi Ahsan sekarang, gadis yang bernama Shyifa itu harus tahu bahwa di sekolah ini ada laki-laki bernama Ahsan Muhammad Ikhsan.
Hari ini, adalah acara agustusan di sekolah mereka. Dan yang menjadi pembawa acaranya adalah Shyifa dan Mikhel. Tapi tentu saja seantero sekolah juga sudah tahu bahwa di antara Shyifa dan Mikhel tentu saja mereka akan tertarik dengan pembawaan Shyifa yang menyenangkan, tidak kaku, dan bisa menguasai audience.
Sekarang tiba saatnya sesi intermezo. Mikhel beberapa kali memberi pertanyaan dan yang bisa menjawabnya akan diberi hadiah oleh Shyifa. Dan kesempatan ini, tentu saja tidak akan disia-siakan oleh Ahsan.
Ahsan berhasil menjawab pertanyaan dari Mikhel dan seharusnya mendapatkan hadiah dari Shyifa. Tapi sayang, hadiah yang dijanjikan telah habis, Ahsan sedikit kecewa mendengarnya. Tidak, Ahsan bukan kecewa karena tidak mendapat hadiah itu tetapi karena rencana dia selanjutnya harus gagal. Menurut rencana Ahsan, setelah mendapatkan hadiah itu dia akan menemui Shyifa di belakang panggung nantinya, mengatakan terima kasih, dan tak lupa memuji penampilan Shyifa tadi. Namun, jika kondisinya seperti ini Ahsan hanya bisa mencoret planning yang ini dan lompat ke rencana selanjutnya.
" Karena hadiahnya tidak ada sekarang, mungkin bisa menemui saya nanti di belakang panggung." Kata-kata itu seketika menerbitkan harapan Ahsan.
" Namanya siapa tadi kak?" tanya Shyifa sambil menyodorkan sebuah mic kepada Ahsan.
" Ahsan Muhammad Ikhsan." Seketika tribun menjadi ricuh, para laki-laki di sini sudah sangat hafal tingkah dan kelakuan Ahsan. Mereka sangat yakin bahwa Shyifa lah yang akan digaet oleh Ahsan selanjutnya. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu, Ahsan tidak pernah mengenal status saat menyukai seseorang dan sialnya dia selalu menyukai perempuan-perempuan famous di sekolahnya dan selalu berhasil.
" Baik, kak Ahsan bisa ambil hadiahnya nanti saja ya."
" Iya cantik," ucap Ahsan di tengah-tengah panggung, menggunakan mic pula! Jelas saja keributan terjadi di mana-mana. Banyak laki-laki yang sedari dulu menyukai Shyifa mulai merasa ketinggalan langkah dengan Ahsan. Ahsan saja yang baru pertama kali mendekati Shyifa telah berhasil membuat kehebohan seperti ini.
Di belakang panggung, sesuai janji Ahsan menemui Shyifa sehabis acara. Di sana Shyifa telah menyiapkan sebuah hadiah yang dibungkus oleh kertas padi.
" Maaf ya kak, atas kesalahan tadi."
" Oh, iya. Nggak apa-apa kok." Setelah menyerahkan hadiah tadi Shyifa segera melangkah pergi karena merasa tidak memiliki urusan apa-apa lagi dengan Ahsan.
" Eh dek, tunggu!" merasa dipanggil, Shyifa pun kembali ke hadapan Ahsan.
" Iya kak?"
" Boleh kenalan nggak?"
" Lah, bukannya kakak udah kenal nama aku ya."
" Kita belum kenalan secara resmi," ucap Ahsan sambil mengulurkan tangannya. Hal itu tentu saja membuat Shyifa tersenyum sambil geleng-geleng kepala, namun tetap menyambut uluran tangan Ahsan.
" Ahsan."
" Shyifa."
" Iya, aku udah tau kok."
" Hahahahhh... kalau udah tau kenapa masih kenalan?"
" Tapi kamu belum kenal aku." Dan tanpa Ahsan sadari tiba-tiba saja ada yang menubruknya dari belakang, membuat tubuh Ahsan oleng ke depan dan membuatnya jatuh menindih Shyifa.
Sungguh, hari itu Ahsan merasa benar-benar beruntung. Sepertinya Tuhan memang berpihak pada rencana-rencana yang dibuatnya.
Mereka memang sempat bertatapan selama beberapa detik yang berhasil membuat semburat merah mengaliri seluruh wajah Ahsan dan Shyifa. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Sebab, semua orang yang melihat kejadian itu dengan sigap memisahkan mereka berdua dari posisi itu. Tidak ada yang rela gadis berprestasi seperti Shyifa harus jatuh ke pelukan pria berandalan seperti Ahsan.
***
Shyifa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Dia tidak sadar bahwa sedari tadi dia masih berdiri di sini dan malah memikirkan kenangan masa lalunya yang memalukan. Di sana, di hadapannya masih ada Ahsan, yang Shyifa tidak tahu apa yang kini sedang dipikirkan laki-laki itu.
Allahuakbar Allahuakbar....
Alhamdulillah, akhirnya adzan juga. Shyifa bersyukur karena adzan ini menjadi alasannya untuk pamit undur diri dari hadapan Ahsan. Mana bisa Shyifa berdiri lama-lama di hadapan kak Ahsan.