#5: Ustadz Fatih

1150 Kata
Pagi itu, tiba-tiba saja seisi ruangan eitor mendapat berita heboh. Shyifa, yang merupakan salah satu rekan mereka dipanggil langsung untuk menghadap pak bos. Selama ini, tim editor adalah bagian dari kantor ini yang paling anteng meskipun tetap tidak pernah ketinggalan soal informasi apapun yang beredar. “ Shyifa, kamu nggak melakukan kesalahan apapun kan?” tanya Saras, tim editor artikel yang datang menghampiri mejanya. “ Hush, Saras! Pertanyaan kamu itu nggak bermutu sama sekali tau,” ucap mas Ridho yang duduk di sebelah meja Shyifa. “ Kita semua sama-sama tahu kalau Shyifa ini anak yang baik-baik, jadi sangat mustahil baginya untuk melakukan sebuah kesalahan.” “ Anak? Shyif, nggak mau protes dipanggil anak.” “ Mas Ridho mah emang gitu, orang udah gede gini masih dipanggil anak yang baik, ganti kek jadi wanita yang baik-baik.” “ Nggak cocok!” cerca mas Ridho yang membuat Shyifa memasang wajah pura-pura syok. Iya, memang hanya pura-pura, sebab Shyifa sudah sering sekali diperlakukan begini oleh mas Ridho. Taulah yang sudah tua, sudah bercucu pula! Makanya mas Ridho selalu menganggap karyawan-karyawan muda di sini seperti anaknya sendiri. “ Hahaha... yang tabah ya Shyif. Jangankan kamu, aku aja yang udah mendekati kepala tiga masih sering dipanggil anak.” Shyifa hanya bisa tersenyum mendengar cerita Saras, temannya yang masih berbaik hati dengan tidak menatapnya seaneh tatapan karyawan yang lain. Setidaknya itu yang terjadi di bagian tim editor. Hanya mereka yang bekerja secara profesional dan mau bekerja sama dengan baik bersama Shyifa, meskipun terkadang mereka masih sering geleng-geleng kepala melihat pribadi Shyifa yang menurut mereka terlalu fanatik agamis. Bedanya Saras dengan yang lain. Dia anaknya lebih suka bertanya langsung ketimbang menerka-nerka. Waktu pertama kali melihat penampilan Shyifa yang berbeda dari karyawan lainnya, Saras segera menghampiri Shyifa dan bertanya ini itu, tidak seperti orang lain yang berbisik-bisik di belakang Shyifa. “ Ya sudah nak, cepat hampiri pak bos mu. Sebelum beliau berang nantinya.” “ Memang pak bos ganteng bisa marah mas? Setau Saras ya, pak bos Fatih itu orangnya penyabarrrr banget.” “ Tau dari mana kamu? Kenal aja nggak.” “ Yahhh... pokoknya tau aja.” “ Nama bos kita pak Fatih?” tanya Shyifa tiba-tiba yang membuat obrolan Saras dan mas Ridho terhenti seketika. “ Ya amsyong nih anak, dari kemaren-kemaren ke mana aja?” tanya Saras dengan sebal melihat kelakuan Shyifa yang kudet. “ Memangnya kenapa kalau nama pak bos kita pak Fatih?” tanya mas Ridho juga. “ Oh, aku tahu nih. Pasti ini ada hubungannya sama your beyond the inspiration.” Tebak Saras yang hanya dijawab dengan anggukan dan senyum sumringah oleh Shyifa. “ Tapi Shyifa, nama panjang pak bos kita bukan Muhammad Al Fatih melainkan Thariq Al Fatih.” “ Yahhhh...” jawab Shyifa dengan kecewa mendengar penjelasan Saras. “ Emangnya kalau nama pak bos kita Muhammad Al Fatih kamu mau apa? Mau kamu nikahin?” “ IYA,” jawab Shyifa dengan spontan dan sangat bersemangat. Hal itupun membuat mas Ridho menoleh heran pada Saras, meminta penjelasan lebih lanjut padanya. “ Sudah, pergi lagi sana!” usir Saras sambil mendorong Shyifa agar segera keluar dari ruangan dan menuju ke ruangan pak bos. “ Siapa sih Muhammad Al Fatih?” “ Itu lho mas, Muhammad Al Fatih 1453 penakluk konstantinopel. Masih muda tapi udah bisa menjatuhkan kerajaan konstantin ke tangan peradaban islam. Ih, mas kok sejarah gituan aja nggak tau.” Mas Ridho hanya bisa manggut-manggut meski masih tak mengenal si Al Fatih yang diceritain Saras. Sesampainya di depan ruangan pak bos, Shyifa merasa sedikit gugup. Jujur, dia memang tidak tahu banyak soal bos barunya ini. Karena, saat pertama kali kehadiran pak bos di kantornya, Shyifa memang sedang tidak berada di tempat. Dia sedang mengikuti pelatihan editorial yang diadakan oleh Lingkar Pena Indonesia selama tiga hari di luar kota. Dan saat dia kembali, memang seharusnya dia langsung bertemu dengan pak bos. Namun, kebetulan sekali pak bos sedang tidak berada di tempat. Jadilah setelah itu dia terlalu larut dalam pekerjaannya mengejar deadline yang sudah menumpuk. “ Bismillah...” ucap Shyifa sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali sambil mengetuk pintu yang bentuknya paling cantik dan paling beda itu. Tok tok tok... Sampai terdengar ada yang mengatakan ‘masuk’ dari dalam, barulah Shyifa mendorong pintu tersebut. “ Maaf pak saya agak telat datangnya,” ucap Shyifa sambil tetap menundukkan wajahnya. Tapi, bukannya Shyifa tidak tahu. Di dalam ruangan ini ada Bayu yang katanya akhir-akhir ini selalu berada di ruangan menemani pak bos. Baguslah, batin Shyifa. Sebab dengan begitu dia tidak perlu berdua-duaan di dalam satu ruangan, meskipun itu dilakukan atas dasar pekerjaan. Seperti pak bos lamanya dulu. “ Duduk.” Shyifa pun segera duduk di kursi tamu yang berada agak jauh dari meja pak bos. Seingat Shyifa, dulu seperangkat perbatan untuk menerima tamu seperti sofa dan meja tidak pernah ada di ruangan yang luas ini. Yang ada hanya kursi tamu yang disediakan duduk  langsung menghadap meja bos besar. Karena memang, pak bos lama kalau menerima tamu pasti akan mengajaknya ke ruang tamu yang berada di sebelah ruangan pak bos, di dalam ruangan kaca yang berada tepat di sebelah kanan Shyifa. Tidak seperti pak bos lama, sepertinya bos baru ini ingin tetap menjaga jarak dalam menerima tamu per individu. Ini kabar baik bagi Shyifa dan kabar buruk bagi karyawan lain yang naksir dengan pak bos baru. “ Asshyifa,” panggil pak bos yang membuat Shyifa, mau tidak mau mengangkat wajahnya untuk menghadap ke arah orang yang memanggilnya. Pak bos rupanya sudah duduk di hadapan Shyifa, di kursi yang bersebrangan dengannya, tak lupa didampingi dengan Bayu. Seketika Shyifa terkesiap. Dia sangat mengenal wajah ini. Iya, laki-laki ini yang semalam dia temui di lift, Shyifa masih ingat dengan jelas suaranya walaupun terkadang dia memang pelupa. Tapi bukan itu, bukah hal itu yang Shyifa maksudkan saat ini. Yang ingin dia ingat siapa orang ini? Shyifa rasa mereka pernah bertemu, beberapa kali sebelum ini, dengan kondisi dan keadaan yang berbeda. Tapi siapa? Tidak hanya Shyifa, Fatih yang melihat Shyifa untuk yang kedua kalinya juga merasakan hal yang sama. Sungguh, dia rasa mereka memang pernah bertemu beberapa kali, tapi kapan dan di mana? “ Ustadz Fatih?” tanya Shyifa pada orang yang sekarang duduk di hadapannya sebgai bos. “ Iya, nama saya memang Fatih.” “ Enggak, bukan itu. Bapak ini ustadz Fatih kan? Yang dulu ngajar di Rumah Tahfidz, inget saya nggak? Shyifa, murid di tempat ngaji di sana.” Mendengar penjelasan Shyifa, terbukalah teka-teki yang membuat kepala Fatih pening beberapa jam belakangan ini. Ternyata benar, mereka memang pernah bertemu. Beberapa kali dan itu dulu. Dulu, saat masa putih abu-abu. Shyifa memang sempat mengaji kembali di Rumah Tahfidz dekat rumahnya. Di sana, antara ikhwan dan akhwat memang dipisahkan tempat belajarnya. Namun, di beberapa kesempatan jika ada acara tertentu. Antara ikhwan dan akwat akan duduk di dalam satu majlis dengan jarak tentunya. Dari sanalah, Shyifa kenal satu orang ustadz yang memiliki nama yang sama dengan idolanya, Muhammad Al Fatih. Shyifa senang bukan main saat tahu salah satu guru di tempatnya belajar mengaji ada yang bernama ustadz Fatih. Tapi sayang, ternyata nama panjang ustadz Fatih bukanlah Muhammad Al Fatih melainkan Thariq Al Fatih. Entah kenapa, saat pertama kali mengetahui sejarah tentang laki-laki muda yang memenuhi bisyarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menaklukan Konstantinopel ini membuat Shyifa sangat terobsesi dengan julukan namanya yang indah. Al Fatih yang berarti penakluk atau pemenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN