Pertemuan Shyifa dengan ustadz Fatih tidak pernah intens. Dia bahkan tidak ingat jika mereka pernah saling bertukar salam. Karena tujuan Shyifa mengaji di sana hanya untuk menghafal Al Qur’an dengan baik dan benar. Jadi, Shyifa tidak pernah benar-benar berinteraksi dengan ustadz Fatih kecuali hari itu. Hari yang setidaknya membuat Shyifa memiliki satu potong kenangan dengan ustadz Fatih, hanya sepotong kenangan yang sebenarnya tidak terlalu berharga juga. Tapi biarlah, setidaknya dengan sepotong kenangan itu Shyifa masih bisa membawa nama Fatih di dalam memorinya hingga saat ini.
Saat itu, sekolah Shyifa sedang mengadakan acara Isr’a dan Mi’raj. Sebagai anggota baru di organisasi Rohis, Shyifa sangat ingin berkonstribusi di dalam event pertamanya ini sebagai panitia.
Semua persiapan sudah dilakukan, dimulai dari roundown acara sampai konsumsi. Hanya saja, mereka lupa bahwa mereka belum mengundang ustadz dari luar. Kebetulan sekali, di tempat ngaji Shyifa saat itu memiliki banyak ustadz yang berkompeten, pasti akan mudah baginya mengundang salah satu ustadz mengingat dia adalah anak murid di sana.
“ Di tempat ngaji aku ada banyak ustadz lho.” Tawar Shyifa pada teman-temannya saat mereka akan mengadakan rapat untuk terakhir kalinya.
“ Tapi, menurut aku, kita itu harus ngundang ustadz yang masih muda, biar semangatnya itu berkobar-kobar,” ucap Keysha, koordinator panitia acara saat itu.
“ Iya, di sana juga banyak ustadz yang masih muda,” balas Shyifa sambil mengingat-ingat ustadz siapa yang masih bisa dikategorikan muda di sana.
“ Ganteng nggak?” tanya Keysha lagi.
“ Emangnya harus ganteng ya Key?” tanya Mahmud, ketua panitia saat itu.
“ Yah iyalah... nih ya, kalau ustadznya masih muda, terus ganteng, pasti murid-murid di sini nggak akan berisik, mereka bakal diam terpesona melihat ustadz itu.”
“ Ini mau dengerin ceramah atau nyari calon imam? Kok sampai ada terpesonanya gitu? Inget Key, zina mata itu namanya.” Keysha hanya bisa memberikan cengiran tak bersalah atas wejangan Mahmud.
“ Kalau menurut aku ya, yang penting ustadz itu punya wibawa dan pembawaan yang kocak, jadi suasananya nggak akan canggung dan lebih seru.” Saran Mahmud yang langsung disetujui oleh banyak pihak dari kalangan ikhwan.
“ Tapi ya, biasanya yang punya wibawa dan kocak itu yang masih muda. Kalau ustadznya udah tua, ntar bukannya ngebahas Isra’ Mi’raj malah ngebahas alam kubur lagi, mentang-mentang udah mendekati ya kan.”
“ Hahahahahhh...” sontak saja ucapan Fatimah barusan mengundang tawa di antara teman-temannya.
“ Heh, kalian! Nggak sopan lo ngetawain orang yang dituakan seperti itu.” Tegur Mahmud yang membuat tawa itu menjadi berhenti.
“ Lagipula ya Mahmud, yang muda dan ganteng itu insyaallah akan membuat suasana di acara nanti menjadi sersan, serius tapi juga santai.” Kata-kata Keysha barusan mendapat anggukan setuju dari banyak pihak.
“ Iya deh, iya. Shyifa, coba nanti kamu minta contact ustadznya. Biar nanti aku yang hubungi.”
“ Ih, nggak boleh gitu. Kenapa nggak temuin langsung aja?” tanya Keysha yang langsung mendapat delikan tajam dari Mahmud yang sangat hafal dengan trik modus anggotanya yang satu ini.
“ Bilang aja kalau nemuin langsung ntar mau ikutan.”
“ Iyalah, siapa coba yang nggak mau ketemu sama calon imam.”
“ Idihhhh pede abiz.” Cibir akhwat-akhwat yang lainnya melihat tingkah Keysha.
“ Shyifa yang tiap hari ketemu, biasa aja tuh.” Oceh Fatimah.
“ Yah iyalah, Shyifa kan nggak hobi nikung, iya kan?”
“ Sudah sudah! Kalian ini anak rohis, tapi kok obrolannya yang unfaedah gitu. Nggak malu sama Shyifa yang baru masuk, bisa-bisa tingkah dan kelakuan kalian berada di luar ekspetasi dia. Terutama kamu Keysha, jodoh itu sudah di atur dan akan datang NANTI. Di waktu dan tempat yang tepat, sekarang bukan saatnya mengklaim semua laki-laki yang ganteng dan sholeh sebagai calon imam kamu.”
Kata-kata Iman barusan membuat semuanya seketika terdiam. Namanya Amirul Iman, dia adalah ketua rohis di sini. Iman memang selalu begitu, pembawaannya tenang dan selalu bisa memecahkan suatu masalah dengan satu kalimat. Yang barusan tadi masih berada di tahap ringan, belum lagi kalau Iman sudah mengeluarkan segala dalil dan hadits. Kalau orang lain yang berbuat seperti itu, pasti biasanya akan menjadi bahan olokan. Tapi Iman berbeda, intonasi dan cara dia menyampaikan sesuatu selalu bisa menohok hati seseorang. Tidak hanya teman-temannya di rohis, tapi juga teman-teman di lingkungan sekolah bahkan guru dan staf, terkadang juga menjadi sasaran ceramahnya jika mereka melakukan kesalahan.
Kata Iman, jika kita melihat suatu maksiat, sudah menjadi kewajiban kita untuk menegur. Selama kita masih memiliki kekuasaan, kenapa tidak dipergunakan untuk menolong agama Allah. Berdakwah lah dengan perbuatan, jika engkau tidak bisa maka berdakwah lah dengan lisan, jika tidak mampu juga, maka berdakwah lah dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.
Setelah menutup rapat tersebut dengan doa penutup majelis, masing-masing anggota rohis pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Saat Shyifa ingin pulang, Mahmud datang bersama Iman dan ingin menyampaikan sesuatu.
“ Shyifa, coba nanti kamu bicara dulu dengan ustadz yang bersangkutan. Secara garis besarnya saja, karena kami harus menghadiri acara lain untuk hari ini. Yang ikhwan juga lagi ada jadwal latihan hadroh. Nanti, kalau ustadznya setuju, besok insyaallah kami yang akan datang menemui langsung ustadznya. Bagaimana?”
“ Iya Mahmud,” jawab Shyifa sekenanya. Akhirnya, Mahmud dan Iman pun berbalik melangkah pergi, dan Shyifa juga kembali ke rumahnya.
***
Di tempat ngaji, Shyifa mengutarakan permasalahannya pada ustadzah yang mengajarinya. Shyifa ingin meminta pendapat ustadzahnya, siapa kira-kira yang memenuhi kriteria yang diminta oleh teman-temannya tadi.
“ Harus banget ganteng dan muda ya?” tanya ustadzah Keke sambil cekikikan mendengar permintaan Shyifa.
“ Yah iyalah ustadzah, yang ganteng kan biasanya masih muda.”
“ Hmmm, kalau saran dari ustadzah sih, coba tanya ke ustadz Fatih.”
“ Ustadz Fatih?”
“ Iya.” Seketika Shyifa merasa senang. Akhirnya... datang juga kesempatan untuk berbicara langsung dengan orang yang memiliki nama yang hampir sama dengan idolanya itu.
Memang sih, ustadz Fatih termasuk salah satu ustadz yang masih muda kelihatannya. Walaupun Shyifa sendiri tidak tahu pasti berapa usia ustadz Fatih. Shyifa juga penasaran, bagaimana ya seorang ustadz Fatih bisa memikat hati kawan-kawannya nanti. Terutama Keysha, dia pasti bakalan heboh dan berdo’a keras-keras agar teman-temannya mengaminkan permintaannya yang menginginkan ustadz Fatih sebagai calon imamnya. Pasti seru dan heboh deh.
“ Dinda, nanti boleh temenin kakak ketemu sama ustadz Fatih?”
“ Boleh, pasti mau ngomongin soal yang tadi ya?”
“ Iya.” Shyifa meminta Dinda, kawan di tempat ngajinya yang masih SMP. Setidaknya hanya Dinda yang usianya tidak terlalu jauh dari Shyifa. Anak-anak yang lain kebanyakan masih SD.
Saat pulang ngaji, Shyifa menatap bangunan yang berada di hadapannya dengan harap-harap cemas. Takut ustadz Fatih nggak nongol-nongol keluar. Kan nggak mungkin juga Shyifa harus mengetuk pintu rumah tahfidz bagi ikhwan terlebih dahulu, hanya untuk mencari ustadz Fatih. Shyifa berharap, ustadz Fatihlah yang akan keluar sehingga mudah bagi Shyifa untuk menghampirinya.
“ Itu ustadz Fatih kak.” Tunjuk Dinda pada sosok berkaca mata dengan janggut tipis dan wajah tampan yang berada di depan pintu kaca.
“ Yuk Din, temenin.” Shyifa mengajak Dinda untuk menghampiri ustadz Fatih.
“ Assalamu’alaikum ustadz,” ucap Shyifa dan Dinda bersamaan.
“ Waalaikummussalam, ada apa?”
“ Mau ngomong sama ustadz,” ucap Shyifa dengan menahan malu mati-matian. Meski sekarang ditemani Dinda, tetap saja rasanya aneh kalau harus bicara secara langsung dengan seorang ustadz seperti ini.
“ Ustadz siapa? Saya?”
“ Iya.”
“ Lho, kok gitu. Ada perlu apa?”
“ Hmmm... gini ustadz, kan di sekolah Shyifa lagi ada acara Isra’ Mi’raj. Jadi... kami mau ngundang ustadz sebagai pengisi acaranya.”
“ Ngisi acara di sekolah?”
“ Iya ustadz.”
“ Aduh, sebelumnya gini. Bukannya ustadz nggak mau, cuman ustadz belum pernah ngisi ceramah di hadapan orang banyak. Kalau kita ceramah di depan orang banyak, apalagi anak sekolah, isi ceramahnya harus bagus dan lucu, kalau tidak nanti yang ada malah...”
“ Garing.” Sambung Shyifa dengan nada sedikit kecewa karena sudah bisa menerka akan ke mana arah pembicaraan ini.
“ Iya sih, lagian kalau anak sekolah sukanya dengerin yang seru-seru.” Sambung Dinda untuk memperjelas keadaan.
“ Memang. Lagipula, ustadz belum berpengalaman ngisi acara kayak gitu. Kalau buat baca Al- Qur’an bisalah. Kalau ceramah di tv atau di radio, memang ustadz pernah. Tapi kan konteksnya beda, itu tipe ceramah yang santai dan formal.”
“ Jadi? Ustdaz nggak bisa nih?”
“ Aduh, gimana yah... kenapa nggak undang ustadz yang lain?” di dalam hati Shyifa semakin geram dan berang. Baru kali ini ada orang yang dikasih kesempatan, tapi malah dengan senang hati memberikan kesempatan itu pada orang lain. Kalau memang ada kandidat lain, pasti Shyifa sudah mengiyakan penolakan ustadz Fatih daritadi, bukannya memperpanjang basa basi yang hasilnya tetap saja sama.
“ Kalau ustadz yang lain? Kawan-kawan ustadz gitu?”
“ Nggak tau juga sih. Atau ustadz save nomor kamu aja, biar ntar ustadz hubungin kalau ada.” Mungkin Shyifa akan menjerit senang di dalam hati saat dimintai nomornya seperti ini oleh ustadz ganteng. Tapi keadaannya berbeda, ustadz Fatih sudah mengecewakan Shyifa. Acara akan dilaksanakan lusa dan kawan-kawannya sudah berharap pada ustadz pilihan Shyifa. Lagipula, dari awal Shyifa yang duluan menawarkan diri. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, dari awal Shyifa tidak akan meminta pada ustadz Fatih. Nyesel jadinya.
Tapi Shyifa tetap memberikan nomornya dan itu tidak berarti apa-apa. Lagipula, Shyifa tidak yakin nomornya akan di save beneran. Memangnya ustadz Fatih akan men-save nomornya dengan nama apa? Memangnya ustadz Fatih mengenal namanya.
“ Memang acaranya kapan?” mendengar pertanyaan itu membuat Shyifa beristighfar dalam hati. Ustadz ini sebenarnya bisa atau nggak sih? Dia nggak bisa kan? Terus kenapa masih bertanya-tanya, seperti memberi harapan palsu saja.
“ Lusa ustadz.”
“ Ohhh... Lusa.” Sudah? Gitu aja.
“ Jadi, ustadz nggak bisa nih?”
“ Maaf ya.” Ustadz Fatih mengatupkan kedua tangannya di depan d**a.
“ Ya sudah deh ustadz, kami pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“ Waalaikummussalam.” Dan akhirnya Shyifa pulang dengan perasaan yang hancur. Jujur, dia sungguh kecewa. Dia harus bilang apa ke teman-temannya, waktu mereka tinggal sedikit. Bagaimana mungkin mereka mengundang ustadz secara mendadak seperti itu.
Tapi Shyifa tidak terlalu berkecil hati. Laa haula wala quwwata illa billah, Shyifa selalu ingat itu. Tidak ada penolong yang baik selain Allah, Dialah yang Maha Kuasa. Shyifa selalu berusaha mengingat ini, cukuplah Allah sebagai penolongnya. Jika bukan ustadz Fatih, pasti besok Allah akan mengirimkan seseorang yang akan menggantikan posisi ustadz Fatih. Tidak sulit bagi Allah untuk mengirim siapapun yang Dia kehendaki, menolong hamba Nya yang percaya akan kuasa Nya.
Malam itu, meski hanya terjadi beberapa menit. Tetap saja merupakan sepotong kenangan yang hampir saja terlupakan, jika Allah tidak mempertemukan mereka kembali. Dalam waktu dan kondisi yang berbeda.