#7: Ternyata Memang Benar

714 Kata
Fatih bingung harus bagaimana. Bukan hanya Shyifa, dia juga mengingat dengan jelas sepotong kenangan itu. Sekarang, memori tentang Shyifa juga telah terbuka lebar di pikirannya. Shyifa adalah murid yang berbeda, karena hanya dia anak SMA yang masih rajin mengaji. Karena memang Shyifa satu-satunya murid SMA saat itu. Shyifa tidak malu sama sekali saat ditanya kelas berapa oleh orang tua murid di sana. Buat Shyifa, menuntut ilmu itu bisa di mana saja dan kapan saja. Tidak ada kata terlambat. Untung saja Shyifa memiliki perawakan yang kecil dan imut, sehingga orang-orang akan salah menilai tingkat pendidikannya jika tidak bertanya. Banyak yang mengira Shyifa adalah murid SMP bahkan SD, dan mereka tidak akan menyangka saat tahu kebenarannya. Shyifa juga baik pada siapapun, dia juga sopan pada guru. Tidak pernah sekalipun Shyifa sok-sok mencari perhatian ustadz-ustadz muda dan ganteng di sana meskipun ada. Shyifa selalu melangkah sesuai dengan tujuan dan niatnya dari rumah. Dia mengaji di sini karena ingin menjadi seorang hafidzah, menjadi sosok pribadi yang lebih baik. Untuk memperbaiki akhlak jahiliyahnya dahulu. Bayu yang melihat adanya sesuatu yang salah antara pak bos dengan Shyifa, tim editor yang dipanggil bosnya hanya bisa diam dan tidak tahu harus berbuat apa. “ Jadi kamu Shyifa yang waktu itu?” “ Iya.” Jawab Shyifa dengan semangat, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “ Kok bisa ya kita ketemu di sini? Ternyata dunia memang sempit.” “ Hehehehh... iya nih, sekarang ustadz malah berubah jadi atasan Shyifa.” “ Kamu banyak berubah.” “ Iya? Ustadz juga, banyak berubah. Makin tua. Hehehehhh... becanda tad.” Ucapan Shyifa ternyata mengundang tawa Fatih, namun tidak pada Bayu. Menurut Bayu, apapun masa lalu mereka. Keadaan sekarang adalah kenyataannya. Ini kantor, dan posisi Fatih saat ini adalah atasan dan Shyifa bawahan. Rasa-rasanya tidak pantas sekali jika Shyifa mencandai bos nya seperti tadi. “ Ehm, maaf pak. Tapi, seperti yang kita ketahui, waktu tidak akan pernah berhenti berputar. Bukannya apa-apa, tapi ini masih jam kantor. Saya rasa bapak mengerti dengan apa yang saya maksudkan.” Mendengar nasihat dari Bayu, Fatih sama sekali tidak marah. Justru dia sangat berterima kasih karena sudah diingatkan. Lagipula, tugas Bayu selain sebagai sekretaris juga merangkap sebagai penasihat bagi Fatih. Selama menjabat sebagai CEO di sini, Fatih butuh teman yang akan selalu mengingatkannya akan hal kebaikan. “ Astaghfirullah, syukron Bay, udah ngingetin.” Dan setelah itu Fatih segera mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih penting. Tentang pekerjaan Shyifa. *** “ Gimana gimana? Kamu nggak diapa-apain kan Nak?” tanya mas Ridho saat Shyifa sudah kembali. “ Diapa-apain yang gimana? Bukannya tadi mas sendiri yang bilang kalau kita tidak perlu meragukan integritas dan profesionalisme Shyifa dalam bekerja. Lah sekarang?” “ Bukannya gitu Saras, manakantau si bos marah-marahin Shyifa.” “ Ya ampun mas Ridhooo... bos kita yang new ini, sholeh banget. Akhlaknya nggak perlu diragukan lagi.” Jelas Saras tidak terima saat mas Ridho meragukan seorang Thariq Al Fatih. “ Iya, benar kata Saras mas. Aku nggak diapa-apain kok.” “ Terus, kenapa kamu dipanggil?” tanya mas Ridho kembali. “ Iya, kenapa Shyifa dipanggil ya?” “ Itu, tadi si bapak mau mindahin aku ke bagian editor artikel.” “ Lah, turun jabatan dong,” ucap Saras tidak senang. Tetapi, Shyifa justru menggeleng. “ Jadi kepala bagian tim editorial artikel.” “ Wuihhh... promosi tuh!” “ Wahhh... selamat ya Shyifa.” Mas Ridho hampir saja akan menjabat tangan Shyifa, namun diurungkan karena Shyifa segera menghindar. “ Eh, maaf nak Shyifa. Mas lupa saking senengnya.” “ Ulu uluuu... cieee yang dapat promosi. Semangat ya cayangku.” Sontak saja Shyifa dan Saras saling berpelukan, memamerkan kemesraan mereka pada mas Ridho. “ Gitu ya, sama Saras aja dipelak peluk. Nah, sama mas? Kayak jijay gitu.” “ Hush, mas Ridho nggak boleh gitu. Inget umur, inget cucu di rumah.” “ Hahahahahhh...” Saras tertawa lepas mendengar guyonan Shyifa. Namun, kesenangan itu berhenti seketika saat Mauren, yang memang sangat suka dengan ketenangan menegur mereka. Mau tidak mau akhirnya Saras dan Shyifa meminta maaf. Mereka baru sadar kalau sedari tadi mereka bergurau di jam kerja. Sebagai sesama tim editor, Saras dan Shyifa sangat faham bahwa teman-temannya butuh konsentrasi dan fokus yang tinggi. Bukan suasana bising yang baru saja mereka ciptakan. Lain halnya dengan mas Ridho. Sebagai senior, dia bisa bekerja dalam kondisi apapun. Bahkan, mas Ridho lebih suka suasana yang santai dengan sedikit alunan musik saat sedang mengedit sebuah naskah, terlebih jika itu naskah novel yang tebalnya beratus-ratus lembar. Sangat berbeda memang dengan karyawan-karyawan yang jam terbangnya belum seberapa. Mereka butuh suasana yang senyap dan serius, agar dapat mengedit sebuah naskah dengan hasil yang maksimal. Happy Reading, jangan lupa tap love nya Luv, CIMI
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN