#8: Majlis Ta’lim

1013 Kata
Biasanya, di hari sabtu sore atau minggu. Shyifa selalu mendapat undangan untuk mengisi sebuah kajian atau workshop yang diadakan oleh komunitas yang diikutinya. Iya, meskipun sudah hijrah, Shyifa tidak banyak berubah. Shyifa tetaplah Shyifa yang dulu. Yang suka berorganisasi, yang senang sekali menjadi aktivis, yang selalu tampil ke depan menunjukkan bakat public speaking nya. Bedanya, sekarang Shyifa lebih suka mengikuti organisasi-organisasi islam, menjadi aktivis dakwah, dan selalu tampil ke depan dalam rangka mengisi kajian. Berubah untuk menjadi seseorang yang lebih religius sama sekali tidak menghalangi bakat yang dimiliki Shyifa untuk berkembang. Berusaha untuk menjadi seorang muslimah secara kaafah tidak merubah Shyifa menjadi orang lain, menjadi sosok lain. Karena pada dasarnya, islam tidak pernah menuntut Shyifa untuk menjadi Khodijah ataupun Aisyah. Cukup menjadi seorang Shyifa yang taat akan syariat islam. Meskipun berhijab, Shyifa tidak pernah kehilangan pekerjaannya. Meskipun memakai gamis, Shyifa juga tidak pernah kehilangan keberaniannya untuk tampil ke depan, untuk bergerak bebas selayaknya orang yang memakai celana. Shyifa justru merasa lebih aman sekaligus cantik dalam waktu yang bersamaan. Sedikit pede memang, tapi Shyifa sangat yakin bahwa dia akan baik-baik saja. Ihfadzillah ha yah fadzka, Jaga Allah Subhanahu wa ta’ala maka Allah akan jaga kamu. Shyifa selalu berusaha menjaga Allah dalam setiap kehidupannya, menjaga wudhunya, menjaga auratnya, berusaha menjaga pandangannya. Meskipun terkadang masih saja Shyifa tidak luput dari kesalahan. Namun, setidaknya usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Jika Shyifa sudah berusaha menjaga Allah, maka Shyifa juga yakin Allah akan selalu menjaganya. Hari ini, ada kajian akbar khusus akhwat dengan tema “ Samawa Bersamanya”. Kajian untuk para akhwat pra nikah dan yang sudah menikah, yang diadakan di sebuah masjid elite yang terkenal. Namun, kali ini Shyifa tidak menjadi pengisi di kajian itu. Jelas saja, Shyifa biasanya mengisi kajian untuk para remaja yang ingin hijrah, bukan kajian akbar seperti ini. Lagipula, ilmu Shyifa belum sampai ke jenjang pernikahan. Karena kajian ini diadakan oleh komunitas muslimah yang diikuti oleh Shyifa, makanya Shyifa kebagian jatah sebagai panitia acara. Saat di hari H, tugas Shyifa sudah kelar. Dia dan timnya hanya perlu memastikan bahwa acara berjalan dengan lancar, segala urusan sudah Shyifa dan kawan-kawan susun sejak lama. Tinggal menjalankan saja. Di penghujung acara, ada seorang ibu yang tampaknya sedang kesulitan mengangkat barang-barangnya yang entah kenapa terlampau banyak. Dengan senang hati, Shyifa membantu ibu tersebut membawa barangnya menuju ke mobil ibu itu sambil menuruni beberapa anak tangga. “ Makasih ya nak, udah bantuin ibu.” “ Iya bu, sama-sama. Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu ya bu.” “ Iya, maaf ya Ibu nggak bisa ikut kajian sampai benar-benar selesai. Ibu mau pergi lagi sehabis ini.” “ Oh iya, nggak apa bu. Ini ibu nyetir sendiri mobilnya?” “ Ah, nggak. Mana bisa ibu bawa mobil. Nanti anak ibu yang nyetir. Tapi sayang, anak ibu bukannya nungguin acara ibu sampai selesai, dia malah keluyuran entah ke mana.” “ Hahahahh... malu nggak dia bu, kan acara ini khusus akhwat aja. Eh, memangnya anak ibu cowo?” “ Iya, cowo. Tapi... yah gitu, udah di wa dari tadi nggak dateng-dateng buat nolongin ibu. Malah kamu yang jadi repot.” “ Nggak papa kok bu. Ya sudah, saya pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.” “ Waalaikum salam.” Shyifa pun segera berlalu untuk kembali ke dalam masjid dan melanjutkan pekerjaan dia yang tertunda. Tak disangka, saat Shyifa sedang melangkah menuju ke dalam masjid. Ada seorang anak kecil yang sedang menangis. Kira-kira usianya masih sekitar tiga tahun. Dia terus saja menangis sambil menyebut ‘mama’. Mungkin saja dia terpisah dari Ibunya. “ Hai cantik, kok nangis?” saat Shyifa menghampiri anak itu, bukannya berhenti menangis anak kecil itu justru semakin kencang menangisnya. Karena tidak tega, Shyifa refleks memeluk anak tersebut dan menggendongnya. Berusaha menenangkan anak itu sambil membacakan zikir dan shalawat ke telinga anak kecil tersebut. Walhasil, anak itu berhasil diam. Shyifa pun berusaha untuk membujuk anak tersebut untuk bercerita lebih banyak, walaupun bahasa yang digunakan masih belepotan sana-sini. “ Namanya siapa sayang?” “ A... Adel.” “ Hooo... Adel, mamanya mana?” Adel hanya menggeleng tanda dia tidak tahu. “ Kok bisa pisah sama mama?” “ Tadi, Adel liat itan (baca: ikan), tlus pas aus au mimi cucu. Tapi, mimi cucu nya cama mama. Tapi, mama... mama... hueeeee...” Adel kembali menangis saat menceritakan mamanya yang tidak kunjung dia temukan di tengah keramian seperti ini. “ Cup cup, janan nanis Adel. Nanti jelek,” ucap Shyifa sambil tersenyum. Tapi, Adel justru cemberut mendengar kata-kata Shyifa barusan. “ Adel cantik. Mama bilang Adel anak aling antik.” Hampir saja Shyifa menyemburkan tawanya mendengar ocehan Adel. Namun, hal itu berhasil Shyifa tahan supaya Adel tidak menangis lagi. “ Adel umurnya berapa?” “ Tiga.” Jawab Adel sambil mengacungkan dua jari. “ Itu angka tiga atau dua?” tanya Shyifa pada Adel yang kini terlihat tampak berpikir dengan keras, lalu Adel mengcungkan lima jarinya ke hadapan Shyifa. “ Dua,” ucapnya yang mengundang senyum di wajah Shyifa. “ Jadi umur Adel dua atau tiga?” “ Tiga.” Jawab Adel tanpa mengacungkan jari tangannya lagi. “ Hahahahhh... kamu kok lucu banget. Anaknya siapa sih?” “ Anaknya mamaaaa....” ucap Adel dengan riang gembira. “ Mana mamanya?” tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari arah belakang Shyifa. Sontak saja Adel yang melihatnya memasang wajah kaget dengan ekspresi lucu, lalu berlari ke dalam pelukan seorang perempuan muda yang mengenakan cadar dan kaca mata. “ MAMAAAAA....” teriak Adel sambil menghambur ke dalam pelukan perempuan bercadar itu. Membuat sebuah senyuman terbit di bibir indah Shyifa yang terharu melihat pemandangan di depannya ini. “ Tadi kamu ke mana aja sayang? Mama cariin lho.” “ Adel liat itan ma.” “ Lain kali bilang-bilang ya kalau mau pergi.” “ Iya ma, Adel janji.” “ Janji?” tanya perempuan itu sambil mengangkat jari kelingkingnya. “ Janji.” Adel pun melingkarkan jari kelingking mungilnya kepada kelingking ibunya. “ Kalau Adel ngelanggar?” “ Alus apalan culat nanas.” “ Surat An-Nas.” “ Iya, culat nanas.” Perempuan itu hanya geleng-geleng kepala sambil membawa Adel ke dalam gendongannya. “ Makasih ya mbak, udah jagain Adel.” “ Iya, nggak papa. Lain kali anaknya lebih diperhatiin lagi ya ukhti, biar nggak nangis kayak tadi.” “ Jazakillah ukh, lain kali Adel lebih saya perhatiin.” Perempuan itu menghadapkan Adel ke arah Shyifa. “ Pamit sama mbak nya Adel.” Adel pun mengulurkan tangannya untuk menyalami Shyifa. “ Subhanallah, pinternya. Jadi anak sholehah ya Adel.” “ Bilang apa ke... mbak siapa ya namanya?” “ Oh, Shyifa ukhti.” “ Bilang apa ke mbak Shyifa?” “ Maacih, cuklon. Calamualaikum.” “ Waalaikummussalam,” jawab Shyifa sambil melambai-lambaikan tangan kepada Adel yang sudah menjauh. *** Jangan lupa tap love dan komennya Luv, CIMI
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN