Dia perempuan yang dulu selalu dilabeli aneh oleh seisi kantor. Bukan karena tingkahnya yang tidak waras, namun karena penampilannya yang menurut mereka tidak waras. Padahal tidak ada yang salah dengan pakaian Shyifa. Dia memakai pakaian yang sopan dan tertutup, bukan pakaian dengan bahan setengah jadi seperti kebanyakan orang.
Baju yang dikenakannya gamis bukan daster, jilbabnya juga panjang hingga menutupi d**a dengan bentuk yang sederhana, bukan jenis jilbab yang penuh dengan payet-payet berkilauan. Kaus kaki normal dan sepatu kets yang normal juga, bukan sepatu boot yang tingginya selutut. Shyifa juga mengenakan almamater perusahaan jika diperlukan, dan tak lupa dia juga memiliki id card seperti karyawan lainnya. Pekerjaannya sebagai editor naskah tidak akan menyusahkan Shyifa dengan gamis penjangnya.
Lagipula, menurut Shyifa dia lebih aman mengenakan pakaian ini. Pakaian kebanggaannya. Pakaian seorang muslimah yang membedakan agamanya dengan agama lain. Lalu, kenapa semua orang memandangnya dengan aneh? Toh, pak bos besar tidak pernah mempermasalahkannya selama kinerja Shyifa tetap sesuai standar yang ditetapkan.
Tapi belakangan ini, semua label aneh pada diri Shyifa lambat laun mulai menghilang. Tatapan yang mengatakan Shyifa 'tidak waras' itu telah terengut darinya dan beralih ke tujuh puluh persen akhwat yang bekerja di perusahaan ini.
Bagaimana tidak? Semenjak kedudukan pak bos lama berhasil dilengserkan oleh pak bos baru, hampir separuh lebih akhwat yang bekerja di sini mulai mengenakan hijab dan pakaian yang sopan dan tertutup.
Senang? Tentu saja Shyifa sangat senang melihat keadaan ini. Meskipun Shyifa tahu betul apa penyebab wabah "taubat" ini. Iya, hal ini memang sudah bukan rahasia umum lagi. Kedatangan pak bos baru yang katanya ganteng, sholeh, dan tajir itu telah berhasil menyihir banyak wanita untuk menutupi auratnya. Bukan karena kesadaran untuk menutup aurat memang, lebih karena ingin pak bos ganteng kecantolan sama penampilan mereka yang terlihat shalehah.
Tapi tak mengapa. Setidaknya, semoga nanti mereka terbiasa dan menyadari bahwa mereka akan lebih aman dan nyaman jika berlindung di balik perintah Allah. Itulah harapan dan do'a yang diam-diam selalu diaminkan oleh Shyifa.
Hari ini Shyifa pulang agak larut. Dia terpaksa lembur untuk menuntaskan menyeleksi naskah yang baru masuk hari ini. Entah mengapa, belakangan ini tempat penerbitannya bekerja selalu menerima naskah tidak kurang kira-kira seratus naskah setiap bulannya. Belum lagi jika penulis naskah itu meneror dirinya dengan menanyakan kabar tulisan yang telah dikirimnya.
Memang, Shyifa sangat mengerti jika mereka ingin segera tahu apakah tulisan mereka di terima atau tidak oleh pihak penerbit. Namun mereka tidak pernah mengerti bahwa ada banyak naskah yang harus diseleksi oleh Shyifa setiap harinya dan itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Shyifa menekan tombol GF (Grand Floor) pada lift agar ia langsung menuju ke lantai dasar dan keluar mencari angkot. Jika tidak ada angkot, Shyifa berencana untuk memesan ojek online saja nantinya.
Ting...
Tiba-tiba saja pintu lift terbuka di lantai tiga dan menampilkan sosok ikhwan yang ingin masuk ke dalamnya. Ini sudah malam dan Shyifa sedang sendiri di dalam lift dan orang itu juga masuk sendiri. Huft, akhirnya Shyifa mengalah dan mengambil langkah untuk keluar dari lift.
Laki-laki itu, yang melihat Shyifa keluar dari lift begitu dia masuk segera memanggil Shyifa untuk mencegah dia keluar.
" Kamu mau ke lantai berapa?" Shyifa yang sudah berada di luar lift menoleh ke belakang untuk melihat orang yang baru saja bertanya kepadanya.
" Ah, tidak apa-apa pak. Silahkan, duluan saja."
" Memangnya kamu pikir saya sebesar apa sampai kamu tidak muat di dalam lift ini?"
" Bukan begitu pak, saya hanya tidak ingin."
" Tidak ingin?"
" Iya, berikhtilad. Saya rasa tidak pantas jika hanya ada kita berdua di dalam lift ini. Tidak apa-apa, bapak duluan saja. Lagipula saya tidak sedang terburu-buru." Mendengar penjelasan dari Shyifa membuat sebuah senyum terbit di bibir laki-laki itu.
Akh, andai saja Shyifa melihatnya. Laki-laki itu jarang sekali tersenyum kepada akhwat, dia lebih sering beramah tamah kepada ikhwan yang merupakan saudara seimannya. Dia tidak tertarik sama sekali untuk tebar pesona dengan memasang senyum ke sana ke mari terutama kepada perempuan yang notabene mudah baper.
Memang, Shyifa hanya menunduk saat berkomunikasi dengan laki-laki tadi. Tapi laki-laki tadi dengan sangat jelas melihat Shyifa yang berbeda, yang tidak pernah ditemuinya sebelum ini di kantornya, tetapi terasa seperti pernah mengenalnya.
Ting...
Pintu lift itu kembali tertutup dan menuju ke basemant parkiran. Tanpa memaksa perempuan tadi untuk ikut bersamanya, Fatih memutuskan untuk menghargai atas sikap dan tindakan perempuan itu. Karena pada dasarnya dia juga seperti itu, berusaha menghindari untuk berduaan dengan lawan jenis. Hanya saja... Fatih tidak mengerti mengapa dia yang justru menawarkan diri pada perempuan itu. Padahal, biasanya Fatih lah yang menjadi orang pertama yang akan bertindak seperti perempuan tadi. Seperti yang selalu dilakukannya pada Miranda, sekretaris yang selaluuuuuu saja mencuri-curi kesempatan agar bisa berduaan dengannya.
Begitu juga dengan Shyifa. Dia baru pertama kali melihat ikhwan seperti laki-laki tadi. Selama Shyifa bekerja di sini, dia tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki ciri-ciri seperti laki-laki tadi. Dan anehnya, kenapa Shyifa merasa sangat familiar. Selama perjalanan pulang ke kosannya, Shyifa terus saja berusaha mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan laki-laki itu.
" Astaghfirullah..." Shyifa baru tersadar. Dia telah melakukan sebuah kesalahan, bukannya memikirkan Allah dia justru berjam-jam memikirkan hamba yang baru saja dikenalnya. Ada apa ini? Shyifa segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir suara laki-laki tadi yang entah mengapa seperti lagu yang terngiang-ngiang di memorinya.