#1: Thariq Al Fatih

806 Kata
Dia adalah bos pemilik perusahaan penerbitan buku yang namanya cukup mentereng. Thariq Al Fatih, laki-laki tampan, sholeh, plus tajir ini telah berhasil membuat mayoritas kaum hawa di kantornya langsung taubatan nasuha demi mendapatkan hati si calon imam yang masih jomblo. Contohnya saja Nayla, kepala bagian marketing perusahaan ini nggak pernah absen mengganti warna rambutnya minimal seminggu sekali. Namun, semenjak kehadiran Fatih di kantornya yang telah membeli seluruh saham di perusahaan ini membuat Nayla jungkir balik dan kelabakan mencari ide. Pasalnya Fatih bukan laki-laki sembarangan, dia bahkan tidak melirik meski Nayla sudah mengeluarkan jurus terampuh miliknya untuk memikat laki-laki. Jadilah sekarang Nayla setiap hari ke kantor selalu mengenakan jilbab yang membuat seluruh karyawan pangling saat pertama kali melihatnya. " Pagi pak Suripto," sapa Nayla pada security yang menjaga pintu depan perusahaan. " Eits, anda siapa ya? Kantor jam segini belum buka untuk umum." " Ini Nayla lho pak, masa bapak lupa." Pak Suripto yang menelusuri Nayla dari atas hingga ke bawah lalu dari bawah hingga ke atas tetap saja merasa tidak yakin dan percaya bahwa perempuan berhijab ini Nayla, kepala bagian marketing yang selalu memiliki rambut yang cetar membahana. " Ya ampun bapak, perlu saya mengeluarkan identitas saya?" pak Suripto hanya mengangguk melihat Nayla menunjukkan id card nya pada pak Suripto. Mau bagaimana lagi, meski belum percaya seratus persen tetapi id card itu adalah bukti nyata bahwa perempuan berhijab ini memang benar-benar Nayla. Belum lagi Miranda,sekretaris bos yang lama. Kehadiran bos ganteng nan sholeh seperti pak Fatih telah berhasil membuat rok mini span dan blazer ketat milik Miranda terlengserkan oleh rok panjang dan baju yang lebih longgar. Meskipun sebenarnya posisi Miranda sebagai sekretaris satu telah digantikan oleh Bayu dan kini Miranda menjadi sekretaris dua di perusahaan ini, hal itu tetap tidak menggoyahkan pendirian Miranda. Dia tetap keukeuh dengan kostum barunya saat ini meskipun Miranda lebih sering grasak-grusuk karena kepanasan. Tidak apalah,yang penting pak bos akan jatuh ke pelukan Miranda seorang. " Assalamu'alaikum, selamat pagi Pak Fatih," ucap Miranda dengan senyum yang tidak pernah lepas dan letih untuk dipajangnya dihadapan Fatih. " Wa'alaikummussalam," jawab Fatih dengan anggukan sekilas. Meski tidak ada basa-basi yang lain, hanya sekedar kewajiban menjawab salam dan anggukan singkat, tetap saja bagi Miranda itu adalah sebuah ikhtiar yang harus dilakukan demi imam impiannya. " Ini ada file cv dari calon karyawan yang telah melamar dan dites oleh bagian HRD kema..." " Bayu di mana ya?" tanya Fatih memotong perkataan Miranda. tok tok tok Seketika pintu luar ruangan Fatih diketuk oleh seseorang dan menampilkan sosok yang sangat dibenci oleh Miranda. " Nah, itu dia Bayu nya pak." " Masuk Bay." Fatih mempersilahkan Bayu duduk bahkan sambil repot-repot menyalami Bayu yang kalau dipikir-pikir tidak memiliki gelar yang mentereng seperti Miranda. Sayang saja, pak bos lebih nyaman jika Bayu yang menjadi tangan kanannya langsung dibandingkan Miranda. Untuk menghindari fitnah juga katanya. " Nah, Miranda. File-file ini biar Bayu saja yang mengerjakannya dan kamu tolong arsipkan data-data ini dulu. " Baik pak." Jujur, kalau boleh Miranda ingin sekali rasanya mencekik Bayu. Meskipun yang telah mengusirnya secara halus adalah pak bos, tapi tetap saja, bagi Miranda yang bersalah di sini adalah Bayu karena dia datang di saat yang tidak tepat. Bukan satu dua kali saja, tapi setiap kali Miranda memiliki kesempatan dengan pak bos, Bayu selalu saja datang merecoki. Miranda tidak akan pernah menyalahkan Fatih. Orang ganteng mah... bebas. *** " Eh, Miranda... apa kabar cantik? kok mukanya kelipet gitu?" saat Miranda sedang berjalan menuju paintry, tiba-tiba saja dia dihadapakan dengan makhluk jadi-jadian yang saat ini tidak ingin dia temui. " Kabar gue buruk." " Pasti gara-gara si pak bos kan? sudahlah Miranda, daripada adinda menunggu pak bos yang anti dengan perempuan, lebih baik adinda bersanding dengan abang saja. Abang yakin, kehidupan adinda Miranda akan bahagia nantinya." " Pret, enak saja bang Jamal ngomong. Eh bang, kalau punya mulut itu dijaga. Pak bos itu bukan anti dengan wanita, beliau hanya menjaga diri dan menjaga perasaan perempuan, beliau itu nggak tukang php kayak situ." " Bela aja terus, gini nih kalau udah kepincut sama yang kopiah hitam." " Eh bang, dengar ya! kalau bang Jamal disandingin dengan pak Fatih, itu tuh udah kayak ibaratnya surga ama neraka, setiap orang yang berakal pasti bakalan milih surga, bukan kerak neraka kayak abang." " Kayak yang ngomong udah benar aja. Nih ya Miranda, abang kasih tau. Kalau mau tobat itu karena Allah jangan karena pak Fatih." " Eh bang, sini biar Miranda kasih tau. Bagaimanapun hala rintang yang menghadang, Miranda yakin bahwa nama Fatih dan Miranda adalah jodoh yang sudah tertulis di lauhul mahfudz." " Jiaahhhh... pake sok-sokan bahasa arab, emang ngerti arti lauhul mahfudz?" " Yahhh... nggak sih, cuman pernah dengar aja." Saat obrolan seru itu sedang berlangsung, tiba-tiba datang pak Dadang, kepala bagian HRD yang ternyata sedang dipanggil oleh pak Bos dan kini akan menuju ke ruangannya. Sontak saja hal itu membuat Miranda dan Jamal menghentikan obrolan mereka dan kembali pura-pura sibuk bekerja. Karena di antara semua karyawan, hanya pak Dadang lah yang tidak terpengaruh oleh kehadiran bos baru, beliau tetap profesional sebagaimana adanya. ~~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN