“Kasih aku waktu ya, Kak.” Kanaya memohon. Rahagi menatap wajah polos di sampingnya. “Kamu masih tetap yakin sama aku?” tanyanya. Bibir Kanaya melengkung ke bawah. “Kenapa nanya kayak gitu?” “Mau tau aja.” “Justeru semestinya aku yang nanya begitu ke Kakak,” kilah Kanaya. “Belakangan ini Kakak jauhin aku. Sok sibuk!” Dalam hati, Rahagi mengakui hal itu. “Kakak juga kayak nggak percaya lagi sama aku.” Kanaya melanjutkan. Kening Rahagi mengerut. “Buktinya, nggak mau lagi nitipin Alana ke aku. Juga nggak minta aku nemuin mama Kakak padahal beliau lagi di sini.” Kanaya menyerang telak. “Jadi, karena itu kamu minta waktu?” “Iya.” Rahagi terdiam. Mata Kanaya menelusuri garis-garis wajah Rahagi. “Kenapa Kakak jauhin aku sama Alana?” Rahagi menghela nafasnya. Semula dia yang bern

