Rahagi terpana sendiri dengan reaksi Kanaya. Gaya bicara gadis itu terdengar terlalu formal. Tak ada sapaan ‘Kak’ yang biasanya digunakan. Tak ada nada manja merajuk, tak ada rasa senang akan dijumpai oleh dirinya. Biarpun terasa aneh, Rahagi tak mau terlalu memikirkannya. Dia memutuskan ke kantornya saja sambil menunggu kabar dari Kanaya. Dia sungguh harus menemuinya. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Hingga sore hari saat mengantar Alana pulang ke apartemen, Rahagi belum juga dihubungi Kanaya. Bu Anin, yang menyambutnya kembali mempertanyakan gadis itu. “Kenapa Kanaya nggak kesini-sini, Gi?” “Dia sibuk, Ma,” “Besok, bawalah dia ke sini. Sabtu libur ‘kan?” “Nanti kutanya dulu.” Rahagi tak berani berjanji. “Aku juga sudah lama nggak ketemu Tante Kana.” Alana menimbrung samb

