Kanaya sadar kemudian, tindakan intuitifnya mengejutkan lainnya, sekaligus mengesalkan Ardan. Setelah sempat hening beberapa saat, Erika berusaha mengalihkan percakapan dan mencairkan kekakuan yang tiba-tiba dengan cerita lelucon di pekerjaannya. Farhan cepat mengikuti, dan mereka larut berdua. Sementara Ardan lekat memandangi Kanaya. “Kenapa?” tanya Kanaya risih. “Kemarin kutanya soal pacar, kamu jawab belum ada.” “Aku nggak bilang begitu.” Kanaya membantah. “Tapi kesannya seperti itu. Apalagi kamu datang sendiri sekarang.” Ardan membenarkan pendapatnya. “Itu asumsi kamu aja. Datang sendiri bukan berarti aku sendiri,” sangkal Kanaya. Siapa pacarmu?” Kanaya mengangkat gelas setengah penuhnya. Meneguknya sedikit, lalu mengunci bibirnya. “Ayahnya Alana?” tanya Ardan menyelidik. Kan

