Hari itu, selepas menyelesaikan catatan pembukuannya, dan memberikan daftar belanjaan kepada Mita, Kanaya memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Tapi, Sabrina tiba-tiba menelefon dan meminta berjumpa di sebuah kafe di sekitar gedung apartemen. Segera saja dia menemuinya. Di sudut kafe berjendela bening dan lebar, Sabrina menunggunya. Di mejanya sudah tersedia jus buah dan sepotong strawberry cheese cake. “Pesanlah yang kamu mau!” serunya setelah mereka berpelukan mendekatkan jarak yang merentang setelah berbulan tidak berjumpa. Pelayan datang, Kanaya memesan es cappucino. Dia membutuhkan sedikit kafein untuk menyegarkan diri dari letihnya. “Kukira kamu sudah di Aussie.” Kanaya duduk berhadapan dengan Sabrina. “Sebenarnya aku sudah kesana, tapi ada administrasi kampus yang harus ak

