Keheningan menggigit di antara Kanaya dan Rahagi, dengan latar suara TV yang mengisi udara ruangan. “Sepertinya, permintaanku kali ini terlalu berlebihan, ya?” tanya Rahagi meretakkan kesunyian kata di antara mereka. Kanaya mengangguk. “Terus gimana?” “Aku bingung. Sejak aku mulai pacaran beneran, aku belum pernah diajak berkenalan dengan keluarganya.” “Berarti mereka itu memang nggak serius macarin kamu.” “Lah! Kita memangnya serius? Beneran juga nggak!” seru Kanaya keras. Matanya membelalak disusul dengan cibiran bibirnya. “Ngaco banget sih nilainya! Sadar nggak kalau kita ini cuma bersandiwara?” Rahagi menguatkan diri untuk tidak tertawa. Komentarnya memang menjadi absurd mengingat hubungannya dengan Kanaya hanyalah pura-pura. Tidak keliru bila gadis itu mencelanya demikian. “M

