Rahagi sadar telah menyeret Kanaya semakin jauh ke dalam permainannya. Dia sendiri tidak menyangka mamanya akan menanyakan soal pernikahan kepada mereka. Walaupun hal tersebut wajar ditanyakan pada hubungan manusia dewasa seperti keduanya. Apalagi dengan statusnya. “Belum kepikiran, Ma.” Rahagi memberikan jawaban lugas. Berharap mamanya memaklumi. “Kenapa belum dipikirkan? Tujuan kalian memangnya apa kalau nggak menuju kesana? Kalau bukan untuk membentuk keluarga, ngapain kalian pacaran?” Bu Anin tidak puas. Rahagi bingung. “Kalau kamu Kanaya?” Mata Bu Anin mengalihkan perhatiannya. Kanaya terhenyak. “Saat ini memang tidak terpikirkan ke arah sana. Masih banyak yang ingin saya lakukan.” Kanaya memberikan jawaban yang memang jujur tidak dikarangnya. “Melakukan apa?” “Saya ingin seri

