Jalanan kota di tengah hari cukup lengang. Sedari tadi, lancar saja Rahagi mengemudi. Namun, aliran interaksinya dengan Kanaya yang lazimnya mudah saja terjalin, mendadak tersendat. Cerita panjang acaknya tidak terdengar, apalagi kelakar yang kerap tercetus hanya untuk menggoda. Dalam sekejap, dia berubah menjadi gadis pendiam dan tenang, bukan lagi perajuk. “Kana!” panggil Rahagi. “Ya?” Kanaya menyahut tanpa menoleh. “Kenapa diam aja?” “Nggak apa-apa,” jawab Kanaya menutupi galaunya. “Kamu dan mamaku baik-baik saja tadi, sewaktu kalian cuma berdua?” Rahagi menyelidik. “Iya.” “Terus, ada apa? Tumben diam aja?” “Ngantuk, Kak.” Kanaya menyandarkan kepalanya di headrest, dan memejamkan mata. Dia enggan bicara saat ini. Gelombang emosi mengubah tatanan rasa di hatinya. Otaknya seras

