Anindita yang biasa dipanggil Bu Anin menyilangkan kedua tangannya di d**a. Kakinya seperti terpaku di antara koper merah di sisi kanan dan kotak karton besar di sebelah kirinya. Dia seolah menolak masuk. Sikapnya sungguh waspada sebab ada wanita asing di apartemen anak laki-lakinya. “Kamu apanya Rahagi?” Bu Anin menuntut jawaban lebih detail. “Bukan siapa-siapanya. Saya cuma membantu saja di sini,” jawab Kanaya. Mata Bu Anin menelusuri tubuhnya penuh selidik. Marina, Nadya dan ibunya, pernah melakukan hal yang sama. Kanaya mulai merasa lelah diperlakukan demikian. Seakan dia terdakwa yang telah berbuat salah. “Alana ada di sini?” “Iya, ibunya sedang menitipkannya di sini. Tapi, dia sedang ikut papanya pergi.” “Rahagi pergi kemana?” Bu Anin kembali memandangi wajahnya. “Katanya ma

