Rahagi menghela nafasnya. Dia telah tak sadar meninggikan suaranya. Tapi, rasa khawatir yang memuncah tidak meredupkan emosinya meski terlihat paras Kanaya yang memias. Bibir gadis itu sedikit terbuka seperti hendak berucap sesuatu. Namun, kemudian dikatupkannya rapat. Wajahnya tertunduk, sementara jemarinya saling mengait erat. Entah apa yang ingin dikatakannya. Rahagi menunggu, namun Kanaya terus saja diam meski tampak jelas pancaran rasa tak nyaman dari sikapnya. Jika Marina, sudah dipastikan akan balik menantangnya jika dirinya bernada keras. Berdebat dan kemudian bertengkar, adalah babak berikutnya, hingga dia akhirnya memilih mengalah dengan meninggalkan pertikaian. Kanaya bukan Marina. Rahagi mulai memahami hal ini. Gadis kuat ini sebenarnya lembut dan rentan retak. Walaupun ta

